filmfilm · ingetinget · isengiseng · mainmain · ngakakngakak · orangorang tersayang

.setelah menonton: Headshot.

Akhirnya setelah entah terakhir kapan, keluar lagilah posting “Setelah Menonton…”. Hal ini disebabkan, tak lain dan tak bukan, oleh kesulitan menonton sering-sering. Sekalinya nonton palingan kartun bareng bocah-bocah. Kalo nonton film-film yang masih bisa DVD, juga milih nunggu DVDnya aja.

Akan tetapiiii… demi menghabiskan sisa kuota sumpah serapah di tahun 2016 ini, maka kami memutuskan turun gunung dan menonton…

image

Continue reading “.setelah menonton: Headshot.”

Advertisements
anakanak · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Kelima: Anda Bukan Nobita.

Hari Kelima: Anda Bukan Nobita

Ya, anak Anda bukan Doraemon, tempat Anda meminta segala keinginan. Mereka lahir bukan untuk menjadi tempat pelarian dari segala keinginan Anda pribadi yang selama ini tidak dapat Anda capai.
Anak-anak adalah pribadi yang mesti lepas mandiri dari orangtuanya; karena hanya dengan cara seperti itu mereka akan matang dan dewasa.
Anda hanya diberi tugas mengasuh dan merawat serta mendidik pribadi yang unik dan istimewa. Sudah ada setumpuk keistimewaan dan kehebatan serta keunggulan di dalam diri tiap anak. Anda mesti memetakannya, menggalinya, dan menyiraminya agar tumbuh optimal. Lupakan keinginan pribadi Anda. Biarlah Tuhan yang menentukan, karena rancangan Tuhan pastilah rancangan damai sejahtera.

  

Continue reading “.Tantangan Hari Kelima: Anda Bukan Nobita.”

anakanak · ingetinget · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Keempat: Meminta Bantuan.

Hari Keempat: Meminta Bantuan

Saya manusia biasa. Anda manusia biasa; pasangan Anda manusia biasa, begitu pula anak-anak. Manusia yang tidak sempurna. Tidak ada orangtua sempurna. Dan tidak perlu berusaha keras menjadi sempurna, bahkan jika Anda single mom atau single dad. 
Meminta bantuan adalah cara menunjukkan bahwa kita tidak sempurna; kita masih butuh bantuan siapa pun. Meminta bantuan adalah cara untuk membuka diri; menunjukkan bahwa kita punya kerentanan, kita punya kelemahan tetapi kita juga sekaligus berusaha memperbaiki diri, mengutuhkan diri.
Bersikap terbuka seperti itu akan membuat pasangan dan anak-anak tidak takut kepada Anda. Ya, superwoman atau superman itu menakutkan bagi manusia biasa. Anak-anak sangat menyadari bahwa mereka “cuma” anak-anak, manusia biasa. Ya, di satu sisi memang mebanggakan. Bangga punya ayah atau ibu yang superhebat, tetapi di sisi lain, khususnya di bawah sadar, itu hal yang menyeramkan: itu adalah standar terendah yang harus mereka capai. Apalagi jika Anda kerap berkata, “Mama/Papa percaya kamu bisa lebih dari Mama/Papa.” Hla kalau mama atau papanya berperan sebagai superdad atau supermom, bayangkan bagaimana anak Anda membayangkan seberapa tinggi tangga atau gunung yang mesti didakinya. Jadi, tunjukkan ketaksempurnaan Anda dengan meminta bantuan anak.
Itu akan memperkuat rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri akan membuat dirinya mampu melakukan apa saja, dan bersuka cita tiap kali menemui lingkungan baru.
Lagi pula, meminta bantuan juga memperkuat ikatan emosional di antara semua anggota keluarga. Menjalin kerjasama, mendinamisasi keluarga.

Continue reading “.Tantangan Hari Keempat: Meminta Bantuan.”

anakanak · isengiseng · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Ketiga: Mengatakan Secara Spesifik (part 1).

Hari Ketiga: Mengatakan Secara Spesifik
Dalam berhubungan dengan orang lain, termasuk dengan pasangan dan anak-anak, tentu kita mesti berkomunikasi. Komunikasi ini tidak selamanya lancar; bahkan sering mengalami hambatan. Biasanya bukan hanya karena isi pembicaraan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan dan bagaimana orang lain menginterpretasikannya.
Hambatan terbesar itu adalah “membaca pikiran” (mind-reading) orang lain dan membangun “dinding batu”  (stonewalling).
Itu sebabnya, tantangan hari ketiga sesungguhnya merupakan latihan bagi kita semua untuk berkomunikasi secara jelas dan terang. Tidak abu-abu. Alih-alih mengatakan “Di sana,” Anda mengatakan “di atas meja, di samping kiri televisi.”
Begitu pula dalam upaya-upaya parenting, Anda tentu ingin membentuk serangkaian perilaku positif. Perilaku dan sikap positif itu akan lebih bisa dilakukan, diulangi, dan diulangi lagi, sampai terbentuk menjadi kebiasaan baik, jika Anda mengajarkannya secara spesifik. Jika Anda mengatakan “Mainlah dengan mengambil satu mainan dulu, dan jika sudah selesai, letakkan kembali ke kotak penyimpannya, baru boleh mengambil mainan yang lain” maka besar kemungkinan anak Anda akan dapat mengikuti harapan Anda dengan tepat. Bandingkan dengan jika Anda berpesan, “Yang rapi ya mainnya.”
Berbicara secara spesifik, persis seperti berbicara dengan lembut, juga menuntut Anda untuk berbicara secara berhadapan. Tatap muka. Tidak berteriak dari dapur, tidak meneriakkan perintah dari kejauhan.
Berbicara berhadapan bukan hanya akan memperkuat ikatan emosional, tetapi juga memperlancar komunikasi, menyapu hambatan dan kendala. Berbicara berhadapan memungkinkan And auntuk lebih mampu berempati — dan sebaliknya, anak atau pasangan juga lebih berempati kepada Anda

.

Continue reading “.Tantangan Hari Ketiga: Mengatakan Secara Spesifik (part 1).”

isengiseng · mikirmikir · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Kedua: Bicara Lembut (remedial).

Setelah merasa gagal di percobaan pertama, kemarin pun gue mengulang lagi tantangan hari kedua, yaitu bicara lembut dengan anak. Seperti yang udah-udah, ini diterapkan ke Sa n So, tapi dengan fokus ke Sa. Karena gue ngerasa belakangan ini lebih galak ke Sa. Huhuhu.. Inilah usahaku menjadi mamak yang lebih sabar. Moga kamu ngerti ya, naaaak..

Di percobaan kedua ini, boleh dibilang agak lebih berhasil dibandingkan sebelumnya. Supaya lebih afdhol, si “senyum” dan “bicara lembut” nanti harus terus dibawa seiringan dengan tantangan hari-hari berikutnya. Biar makin berasa buat anaknya. Hihi. Continue reading “.Tantangan Hari Kedua: Bicara Lembut (remedial).”

isengiseng · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Kedua: Bicara Lembut (part 1).

Hari Kedua: Berbicara lembut
Mengapa mesti berbicara lembut? Ini adalah latihan mengontrol diri sendiri. Bagaimana tidak. Setiap kali orang lain, entah pasangan atau anak-anak menaikkan suara mereka, Anda malah tidak boleh ikut meninggikan nada dan menaikkan suara, tetapi malah diminta melembutkan suara.
Jelas itu butuh kemampuan mengontrol diri, menenangkan diri, menurunkan kembali irama denyut jantung, menarik nafas dalam. Mengembalikan seluruh keutuhan diri Anda  yang nyaris terpecah-pecah pada saat marah.
Buat apa saya mesti mengontrol diri? Karena Anda, saya yakin, ingin memberi warisan ketiga kepada anak-anak: karakter disiplin.
Disiplin bukan berarti mampu mengikuti atau mematuhi semua aturan Anda. Itu disiplin yang keliru. Itu disiplin berdasarkan rasa takut. Disiplin adalah kemampuan mengendalikan diri sendiri, kemampuan mengatur diri sendiri, kemampuan menguasai diri.
Nah, jika disiplin bermakna pengendalian diri, maka anak-anak baru dapat disiplin jika orangtuanya juga mampu mendisiplinkan diri. Dan contoh atau teladan termudah adalah: dengan melembutkan suara.
Bayangkan, ketika anak atau pasangan sudah menduga Anda akan marah — seperti sebelum-sebelum ini, mereka malah melihat Anda tenang dan bersuara lembut. Pada saat anak Anda menduga sebentar lagi akan mampu menguasai Anda — karena kalau Anda marah, maka segala aturan yang selama ini And atetapkan bisa saja akhirnya Anda langgar sendiri sehingga keinginannya terpenuhi, ternyata ia kini mesti berhadapan dengan Ibu/Ayah yang lembut, yang masih dapat berpikir secara utuh, dan akhirnya tetap teguh pada pendirian semula.
Ya, berbicara lembut baru dapat tercapai jika Anda mampu tetap berpikir urut dan utuh karena Anda mampu menenangkan diri. Itu adalah modal untuk menegakkan konsekuensi secara konsisten.
Konsistensi menegakkan konsekuensi; itulah warisan berikutnya yang dapat Anda serahkan kepada anak Anda. Konsistensi ini juga memperkuat keteraturan hidup yang telah Anda bangun di atas. Disiplin memperkuat keteraturan. Disiplin diri memperkuat rasa aman.

Continue reading “.Tantangan Hari Kedua: Bicara Lembut (part 1).”

isengiseng · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Pertama: Tersenyum.

Hari Pertama: Tersenyum
Mengapa kami mesti sering tersenyum setiap kali bertatap mata dengan anak? Kebutuhan paling dasar dari semua anak adalah untuk dicintai. Tersenyum adalah perilaku yang paling mudah diterjemahkan oleh anak sebagai bentuk cinta kasih dari orangtuanya.
Dan dengan sering tersenyum, bahkan tersenyum sebelum menasehati,  Anda sekaligus menegaskan bahwa Anda selalu menyintainya — dalam keadaan apa pun, bahkan ketika anak melakukan kesalahan atau perbuatan yang tidak Anda setujui. Anak merasa diterima, merasa tidak ditolak. Anak merasa dekat dengan orangtuanya.
Dekat. Ya, itulah kebutuhan dasar lain yang Anda berhasil penuhi hanya dengan tersenyum: kedekatan atau kelekatan emosional atau bonding. Jika Anda sudah pernah membaca buku saya, “10 Warisan Orangtua,” saya menyarankan bahwa bonding ini mesti diperkuat kembali setiap kali anak kita anggap bermasalah. Dan salah satu caranya adalah dengan tersenyum, juga berpelukan. Itulah warisan pertama Anda kepada anak-anak Anda: kedekatan emosional.
Warisan kedua adalah keteraturan; pola hidup yang teratur. Keteraturan membuat anak merasa bahwa hidupnya ‘predictable,’ dapat diduga. Dan sifat predictable ini jelas sangat membentuk rasa aman pada diri anak. Anak yang merasa aman, akan lebih mampu mengoptimalkan segala potensi dirinya, lebih mampu tumbuh dan berkembang, lebih mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya.
Dan…salah satu cara membentuk hidup yang teratur adalah dengan…selalu tersenyum tiap kali bertatap muka dengan anak.

Continue reading “.Tantangan Hari Pertama: Tersenyum.”