anakanak · ingetinget · isengiseng · seruseruan

.berani kalah.

Salah satu dari anak gue yang bawel-bawel emeush itu pengen ikut lomba mewarnai. Ini adalah perdana dia akan ikut lomba. Karena itu, gue pun mulai dengan mengajaknya latihan mewarnai setiap malam.

Secara yaaa, anak gue ngewarnai aja masih tergantung mood. Boro-boro gradasi warna, ngewarnain langit aja masih keukeuh di atas doang (“Kan langit adanya di atas, ngapain aku warnain sampe ke tanah?”). Lebih parah lagi, gue juga anaknya gak artsy, jadi ya nggak kepikiran juga untuk memberi dia tips-tips supaya warna-warnanya jadi keren atau gimana. Palingan cuma ngajarin biar warnanya jangan keluar garis, sesuai waktu, dan ngewarnainnya satu arah.

Continue reading “.berani kalah.”

anakanak · mellowmellow · sabiasayang · sofiasayang

.saat terdamai.

Saat terdamai dalam satu hari, yang hingga kini selalu terjadi setiap hari adalah detik-detik setelah anak-anak tidur. Suara nafas teratur, dalam gelap yang remang-remang disinari lampu penangkap nyamuk.

Saat itu semua luruh. Keriuhan, keriaan, kelelahan, kekhawatiran dalam sehari. Semua bagai terlupakan. Yang ada hanya rasa syukur. Rasa memahami bahwa apa yang gue lakukan setiap hari pada akhirnya cuma buat mereka yang saat itu tenggelam dalam lelap ini.

Continue reading “.saat terdamai.”

anakanak · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Kelima: Anda Bukan Nobita.

Hari Kelima: Anda Bukan Nobita

Ya, anak Anda bukan Doraemon, tempat Anda meminta segala keinginan. Mereka lahir bukan untuk menjadi tempat pelarian dari segala keinginan Anda pribadi yang selama ini tidak dapat Anda capai.
Anak-anak adalah pribadi yang mesti lepas mandiri dari orangtuanya; karena hanya dengan cara seperti itu mereka akan matang dan dewasa.
Anda hanya diberi tugas mengasuh dan merawat serta mendidik pribadi yang unik dan istimewa. Sudah ada setumpuk keistimewaan dan kehebatan serta keunggulan di dalam diri tiap anak. Anda mesti memetakannya, menggalinya, dan menyiraminya agar tumbuh optimal. Lupakan keinginan pribadi Anda. Biarlah Tuhan yang menentukan, karena rancangan Tuhan pastilah rancangan damai sejahtera.

  

Continue reading “.Tantangan Hari Kelima: Anda Bukan Nobita.”

anakanak · ingetinget · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Keempat: Meminta Bantuan.

Hari Keempat: Meminta Bantuan

Saya manusia biasa. Anda manusia biasa; pasangan Anda manusia biasa, begitu pula anak-anak. Manusia yang tidak sempurna. Tidak ada orangtua sempurna. Dan tidak perlu berusaha keras menjadi sempurna, bahkan jika Anda single mom atau single dad. 
Meminta bantuan adalah cara menunjukkan bahwa kita tidak sempurna; kita masih butuh bantuan siapa pun. Meminta bantuan adalah cara untuk membuka diri; menunjukkan bahwa kita punya kerentanan, kita punya kelemahan tetapi kita juga sekaligus berusaha memperbaiki diri, mengutuhkan diri.
Bersikap terbuka seperti itu akan membuat pasangan dan anak-anak tidak takut kepada Anda. Ya, superwoman atau superman itu menakutkan bagi manusia biasa. Anak-anak sangat menyadari bahwa mereka “cuma” anak-anak, manusia biasa. Ya, di satu sisi memang mebanggakan. Bangga punya ayah atau ibu yang superhebat, tetapi di sisi lain, khususnya di bawah sadar, itu hal yang menyeramkan: itu adalah standar terendah yang harus mereka capai. Apalagi jika Anda kerap berkata, “Mama/Papa percaya kamu bisa lebih dari Mama/Papa.” Hla kalau mama atau papanya berperan sebagai superdad atau supermom, bayangkan bagaimana anak Anda membayangkan seberapa tinggi tangga atau gunung yang mesti didakinya. Jadi, tunjukkan ketaksempurnaan Anda dengan meminta bantuan anak.
Itu akan memperkuat rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri akan membuat dirinya mampu melakukan apa saja, dan bersuka cita tiap kali menemui lingkungan baru.
Lagi pula, meminta bantuan juga memperkuat ikatan emosional di antara semua anggota keluarga. Menjalin kerjasama, mendinamisasi keluarga.

Continue reading “.Tantangan Hari Keempat: Meminta Bantuan.”

anakanak · isengiseng · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.Tantangan Hari Ketiga: Mengatakan Secara Spesifik (part 1).

Hari Ketiga: Mengatakan Secara Spesifik
Dalam berhubungan dengan orang lain, termasuk dengan pasangan dan anak-anak, tentu kita mesti berkomunikasi. Komunikasi ini tidak selamanya lancar; bahkan sering mengalami hambatan. Biasanya bukan hanya karena isi pembicaraan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan dan bagaimana orang lain menginterpretasikannya.
Hambatan terbesar itu adalah “membaca pikiran” (mind-reading) orang lain dan membangun “dinding batu”  (stonewalling).
Itu sebabnya, tantangan hari ketiga sesungguhnya merupakan latihan bagi kita semua untuk berkomunikasi secara jelas dan terang. Tidak abu-abu. Alih-alih mengatakan “Di sana,” Anda mengatakan “di atas meja, di samping kiri televisi.”
Begitu pula dalam upaya-upaya parenting, Anda tentu ingin membentuk serangkaian perilaku positif. Perilaku dan sikap positif itu akan lebih bisa dilakukan, diulangi, dan diulangi lagi, sampai terbentuk menjadi kebiasaan baik, jika Anda mengajarkannya secara spesifik. Jika Anda mengatakan “Mainlah dengan mengambil satu mainan dulu, dan jika sudah selesai, letakkan kembali ke kotak penyimpannya, baru boleh mengambil mainan yang lain” maka besar kemungkinan anak Anda akan dapat mengikuti harapan Anda dengan tepat. Bandingkan dengan jika Anda berpesan, “Yang rapi ya mainnya.”
Berbicara secara spesifik, persis seperti berbicara dengan lembut, juga menuntut Anda untuk berbicara secara berhadapan. Tatap muka. Tidak berteriak dari dapur, tidak meneriakkan perintah dari kejauhan.
Berbicara berhadapan bukan hanya akan memperkuat ikatan emosional, tetapi juga memperlancar komunikasi, menyapu hambatan dan kendala. Berbicara berhadapan memungkinkan And auntuk lebih mampu berempati — dan sebaliknya, anak atau pasangan juga lebih berempati kepada Anda

.

Continue reading “.Tantangan Hari Ketiga: Mengatakan Secara Spesifik (part 1).”

anakanak · mellowmellow · mikirmikir · orangorang tersayang · sabiasayang · sofiasayang

.tantangan 5 hari mengubah gaya parenting.

Pernah nggak sih, sebagai ibu, kita merasa lelah secara fisik maupun lelah kepada diri sendiri yang ngomeeeeeel mulu sama anak? Pernah nggak sih, ngerasa khawatir bahwa kalo kita nggak mengubah pola parenting kita, nanti malah akan menjauhkan anak dari kita? Pernah nggak sih, merasa pengen banget berubah menjadi orangtua yang lebih baik, karena merasa selama ini banyak kurangnya?

Gue sedang merasakan hal itu. Lelah secara fisik dan kecewa pada diri sendiri karena kayanya terlalu banyak menuntut pada anak. Sedih karena merasa, jika dibandingkan dengan mereka, kok porsi unconditional love yang mereka kasih ke gue lebih banyak daripada sebaliknya? Dan semakin ke sini merasa waktu berjalan terlalu cepat. Anak-anak semakin besar, pot berisi jatah unconditional love mereka perlahan-lahan menipis, dan mereka enggak akan sepemaaf sekarang. Salah satu hal yang gue takutin adalah seandainya ada kesalahan yang gue lakukan sebagai orangtua, baik itu melalui perkataan atau perilaku, terlanjur membuat luka di hati dan gak sempat termaafkan lagi, sehingga akhirnya berdampak pada relasi.

Capek merasa tersindir dan ketakutan sama postingan-postingan yang bernada menyadarkan bahwa anak-anak gak selamanya menjadi anak-anak, maka gue memutuskan untuk pelan-pelan mengubah diri sendiri supaya bisa punya relasi lebih baik sama anak-anak. Caranya gimana?
Continue reading “.tantangan 5 hari mengubah gaya parenting.”