.Tantangan Hari Kedua: Bicara Lembut (remedial).

Standard

Setelah merasa gagal di percobaan pertama, kemarin pun gue mengulang lagi tantangan hari kedua, yaitu bicara lembut dengan anak. Seperti yang udah-udah, ini diterapkan ke Sa n So, tapi dengan fokus ke Sa. Karena gue ngerasa belakangan ini lebih galak ke Sa. Huhuhu.. Inilah usahaku menjadi mamak yang lebih sabar. Moga kamu ngerti ya, naaaak..

Di percobaan kedua ini, boleh dibilang agak lebih berhasil dibandingkan sebelumnya. Supaya lebih afdhol, si “senyum” dan “bicara lembut” nanti harus terus dibawa seiringan dengan tantangan hari-hari berikutnya. Biar makin berasa buat anaknya. Hihi.

Ada beberapa hal yang gue sadari dari tantangan nomer dua ini. Yang pertama,   dengan bicara lembut, gue jadi ada jeda sebentar sebelum membalas omongan bocah. Jadi, kaya ada waktu sedikit untuk mikir mo jawab apa dulu, sebelum akhirnya disampaikan dengan nada yang (lebih) halus (dari biasanya). Nah, karena ada waktu mikir itu juga gue merasa jadi lebih permisif sama permintaan mereka. Ketika mereka nanya, “Aku boleh ini nggak?” atau “Aku boleh itu nggak?”, gue punya waktu untuk berhitung waktu dan menanyakan ke diri sendiri dulu, “Ruginya apa sih kalo boleh atau ngga boleh?”, sebelum kemudian menentukan jawabannya. Jadi nggak keburu main jawab “Nggak ah, hiiih, udah malem!” seperti yang kadang gue lakukan.

Sebagai hasil dari proses dan pemikiran di atas, jadinya semalem gue dan Sa malah sempet bikin chocolate cookies deh! Dan kali ini Sabia bener-bener ngerjain lumayan banyak. Mungkin efek bahwa ketika gue mau ngelarang atau ambil alih yang lagi dia lakuin (misalnya aduk-aduk atau ngulenin adonan), gue jadi mikir, “Emang kenapa nggak boleh ya? Ruginya apa sampe dia nggak boleh ngulenin adonan? Kan paling cuma tambah kotor aja. Bisa dicuci, bisa di-lap.” Akhirnya, ya udah gue biarin dia bikin sebanyak yang dia bisa. Ternyata banyak. Dan yang lebih seneng lagi, keliatan bangettttt kalo Sabia hepi bisa bikin kue kemarin.

Hal kedua yang gue sadari terjadi malem sebelom tidur. Biasanya ini adalah saat-saat kritis dimana gue rentan snap, terutama saat gue udah ngantuk sementara dese-dese itu belom mau tidur. Semalem gue menyadari bahwa “tegas itu gak harus dilakukan dengan nada tinggi apalagi ngebentak”. Ternyata dengan nada lembut dan terkontrol, anak-anak tetep ngerti maksudnya. Lebih baik lagi, karena gak ada saat ibunya ngomel jadi juga gak ada pihak yang sakit hati, baik karena merasa ngomel nggak didengerin maupun karena diomelin. Semalem semua berhasil tidur dengan hati tenang.

Gue tau bahwa keberhasilan satu hari ditentukan oleh banyak faktor. Mood gue, mood anak-anak, serta faktor eksternal lainnya. Tapi, sejauh ini, walau sekecil apapun, harus diakui ikutan tantangan ini terasa sih bedanya dibandingkan sebelumnya. Mudah-mudahan bisa dipertahankan.

Moving on to day 3 challenge? Let’s!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s