.dear Sofia.

Standard

Dear Sofia,

Ibu menulis ini sambil bekerja di sebuah kedai kopi. Karena aku kangen kamu. Dan ada begitu banyak yang aku ingin kamu tau.

Yang pertama dan terutama, ibu menulis ini karena ibu sangat menyayangi kamu. Walaupun aku mungkin tidak menulis tentang dirimu sebanyak tentang kakakmu pada masanya. Sungguh, itu bukan karena aku mengecilkan kehadiran kamu, jangan pernah menyalahkan dirimu atau kakakmu akan hal ini. Tapi, memang setelah kelahiranmu, aku terlalu malas untuk menulis. Kadang juga karena pekerjaan lebih bertubitubi, dan aku cuma ingin menyelesaikannya secepat mungkin supaya bisa kembali pulang, ketemu kalian lagi. Ketemu kamu lagi, dan menghirup aroma kepalamu yang wanginya teringat sampai berharihari.

Kamu datang hampir satu setengah tahun yang lalu, melengkapi keluarga kami. Kamu lahir dengan berat badan lebih besar dari kakakmu ketika dia lahir, tapi sosokmu begitu mungil. Seolaholah lebih kecil, padahal angka berkata lain. Aku masih ingat bagaimana tangisanmu paling bergema di kamar bayi, juga bagaimana tangisanku tenggelam di dalam bantal saat bilirubinmu tinggi dan kita tidak lagi bisa tinggal di kamar yang sama. Aku masih ingat bagaimana aku dan ayahmu bangun setiap dua jam sekali di malam hari, memompa ASI selama setengah jam, dan hasilnya yang tiris segera habis saat diberikan padamu.

Sampai hari ini, aku masih ingat bagaimana kamu meringkuk di bawah sinar biru yang menghangatkanmu. Tanpa baju dan disertai kain khusus untuk menutup matamu. Aku masih ingat retaknya hati saat kamu tidak diijinkan pulang di hari yang seharusnya, tapi aku juga masih ingat bagaimana rasanya ingin melayang karena keesokan harinya kamu dinyatakan cukup kuat untuk pulang ke rumah bersama kami. Ke rumah kita. Rumah kita yang sudah ramai oleh orangorang kesayangan, keluarga besar, yang menunggu kehadiranmu.

Lalu, dengan cepat waktu berlalu. Rasanya sangat cepat, sampai akhirnya kamu bukan bayi lagi. Nggak terasa bahwa sudah hampir satu setengah tahun kamu hadir di antara kami. Artinya sudah hampir satu setengah tahun suara tangis dan tawamu terekam di dindingdinding rumah kami, sekaligus menjadi objek paling pasrah untuk dipeluk cium tanpa ampun.

Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana kamu akhirnya berhasil jalan sendiri. Terima kasih karena sudah menunggu Ibu dan Ayah ada di rumah dan mengijinkan kami berdua menjadi dua orang pertama yang menyaksikan momen penting itu. Terima kasih sudah memberikan kami rasa mewah dan bungah, karena ternyata kami tidak melewatkan langkah pertamamu.

Terima kasih juga untuk saatsaat dimana kamu bangun paling pagi, mengoceh, sebelum akhirnya bosan dan mulai membangunkan kami bertiga, Ayah, Ibu dan Nona. Kamu sudah dan, mungkin, akan terus mendengar suara, “Sofiaaaa, ini masih jam enam pagi, hari Sabtuuuu..” selama beberapa tahun ke depan. Tapi aku yakin, saat hari itu tiba, kami akan merindukan saatsaat dimana kamu bangun lebih pagi dari kami.

Dear Sofia, semoga kamu selalu jadi anak yang manis. Anak yang senang nempelnempel ayah, ibu dan kakaknya. Anak yang secemberut apapun, langsung tersenyum saat melihat kami. Anak yang hilang kesedihannya saat berada di antara kami. Pun anak yang selalu menjadi salah satu sumber keceriaan di antara kami. Seperti kamu hari ini.

Jangan pernah merasa tersisihkan. Jangan pernah merasa jauh. Jangan pernah merasa terabaikan. Karena kamu, juga adalah sumber kehidupan dan kebahagiaan kami. Kamu melengkapi hidup kami.

Maka, tumbuh dan berkembanglah dengan bebas. Karena tawamu adalah adiksi. Karena selamanya aku ingin mendengar itu. Semoga Tuhan selalu menjaga Sofia, memberi Sofia kesehatan serta mengelilingi Sofia dengan banyak halhal dan orangorang baik.

We love you, Sofia. We love you BIG time.

7 responses »

  1. Mewek di bis…. Bentjik!

    SopSop, aku juga lafffyyyuuuu loh, sayang Babemmu sekarang sombong, jarang beredar, jadi kesempatakanku untuk gremet2 kamu berkurang…. Terakhir ketemu, masih aku gendong, sekarang kamu udah jalan??? Tuh kan…. Nanti kamu gedean, kita main bareng yah, jangan ajak Babem, dia kita suapin lupis aja.

  2. ok aku mewek di kantor.

    Sofia, waktu Babem hamil kamu dia udah lebih pinter daripada waktu hamil kakakmu. Dia ngga lagi rewel nanya makan ini boleh ngga makan itu boleh ngga karena pada kenyataannya dia udah hamil dua kali sementara tantemu ini baru sekali aja🙂

    Walaupun aku ngga nyetir nyebrang 2 propinsi untuk nengokin kamu waktu kamu lahir seperti yang kulakukan waktu Sabia lahir, tante masih ingat mewek kecil waktu ayah posting foto Sofia (dan fotonya tentu saja sudah aku save).

    Bilangin babem mu, aku kangen

  3. aku nangis. di meja.
    entah karena juga lagi hamil kedua, entah karena belum pernah ketemu Sofia.
    aku juga laffyu loh sofia meski belum ketemu langsung, semoga suatu hari kita bisa playdate ya
    *kecup sofia *kecup babem

  4. Ngehek lah mayan berkaca2 baca ini..
    Pdhl di kuping lg lagunya Metallica..
    Huhuhu..
    We love you, Nocil..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s