.Ully.

Standard

Namanya Mukrullah. Sejauh yang gue tau, hampir semua orang memanggil dia; Ully.

Dia temen kompleks gue. Gue mengenal dia udah cukup lama, tapi dibandingin sama tementemen kompleks yang lain, yang kenal dia dari kecil dan tumbuh bersama, usia pertemanan gue sama Ully mungkin belum ada apaapanya.

Sebagai temen, Ully adalah tipe orang yang selalu membuat kita merasa nyaman. Dia cukup sensitif untuk tau saatsaat kalo temennya lagi merasa “sepi-di-tengah-keramaian”, dan dia nggak bakal keberatan nemenin dan ngobrol sampe kita merasa lebih baik. Nggak terhitung berapa kali Ully nemenin gue saat gue merasa gitu. Itu sebabnya, kalo lagi ada waktu sama temen kompleks, dia selalu jadi orang yang gue cari untuk sekedar bilang “hai” aja.

Seiring waktu berjalan, satusatu tementemen gue pindah dari kompleks perumahan ortu kita dan tinggal sendirisendiri. Termasuk gue. Ully salah satu yang paling lama bertahan, sampai akhirnya dia pun pindah juga.

Rumah Ully adalah salah satu basecamp di kompleks kami. Nggak heran ya, karena dia dan empat kakaknya adalah penghuni lama. Dan kita semua main samasama. Makanya ketika satu persatu kakakkakaknya nikah dan akhirnya Ully pindah, gue merasa itu akhir sebuah era banget. Kaya wake up call bahwa kita semua udah jadi orang dewasa.

Waktu gue menyemenye ke Ully tentang kepindahannya, dia bilang, “Jangan sedihlah, Smit. Ini kan cuma bagian dalam perjalanan hidup.” Dan, seperti biasa, gue harus mengakui dia bener.

Hubungan pertemanan gue dan Ully mungkin nggak bisa dianggap deket banget secara kasat mata. Kita nggak ngobrol tiap hari, nggak saling update cerita beberapa bulan sekali. Tapi, kita selalu ada dan berteman dalam media sosial apapun. Karena itu cara paling efektif untuk tau kabar temen kita, ya kan? Dan dari situ kadang kita saling tau kabar terbaru satu sama lain, saling komen, saling nostalgia. Dari sisi gue sendiri, gue selalu pengen dia tau saatsaat penting hidup gue.

Minggu lalu, tibatiba gue dikejutkan dengan berita dia sempet masuk rumah sakit karena sesuatu terjadi dengan jantungnya. Garagara itu gue sempet ngobrol lagi sama Ully. Gak panjang, tapi cukup menenangkan karena dia dalam masa pemulihan dan sepertinya sudah membaik.

Makanya waktu kemarin sore gue lihat temen gue yang lain post foto Ully dengan selangselang dan caption “Bangun, Ul.. please.“, rasanya langsung berantakan.😦

Setelah hubungi sana sini, baru ketahuan bahwa dia jatuh dan pembuluh darah pecah, sehingga gak sadarkan diri. I can’t even..
😦

Malam itu juga gue memutuskan nengok ke rumah sakit. Di sana ketemu sama kakak gue dan tementemen lainnya. Bukan saat yang ideal untuk semacam reuni, tapi ini semua kejadian karena kita mau nengok Ully.😦

Gue dan kakak gue sempet nengokin sampe masuk ke CCU. “Ul, semua anakanak ada di sini. Elo banyak banget yang sayang. Bangun yah!”

Beberapa dari kami pun sempet post status di Path dan tag dia. Gue berharap ketika dia bangun dan baca nanti, semua post yang ngetag dia ini akan jadi hal yang membuat dia senang sekaligus pengingat bahwa dia disayang banyak orang.

Sampe rumah, sebelum tidur, gue inget tadinya pengen post status lagi di Path, intinya gue cuma pengen bilang supaya malam ini istirahatlah, besok bangun dan kembali bersinar. Ada salah seorang temen gue yang di rumah sakit sempet bilang, dengan muka yakin, “Sembuh kok ini. Ully kan batu.” Dan gue pengen banget itu terjadi dan besok dia udah bisa bangun, post fotofotonya di Path sambil ketawatawa bilang, “Makasih doanya semua..” seperti waktu terakhir kali dia masuk rumah sakit dan sembuh itu.

Tapi, sepertinya gue ketiduran. Dan gue kebangun karena ada bunyi getergeter telepon dari kakak gue. Pas gue mau terima, telfonnya udah mati. Pas gue mau nelfon lagi, gue terdistraksi sama satu pesan dari temen gue di LINE:

“Ully udah meninggal.”

Saat gue masih bengong, kakak gue nelfon lagi untuk ngabarin hal yang sama. Hatiku retak.

K e n a p a ?

Kenapa, Ul? I really thought you’d survive. I wanna come to your wedding and meet the girl of your life. I wanna hear stories about your future babies and all. I want you to be happy. I want you to be alive and kicking. 😦

Dan sertamerta timeline Path gue mulai dibanjiri fotofoto dan berita tentang dia. Ini beneran. I’m losing a really good friend. 😦

Pagi ini, salah satu temen gue,  bilang ke gue, “Tuhan tau yang terbaik buat Ully. Kalau dia sembuh dan lumpuh, mungkin itu akan lebih menyiksa dia.”

Katakata itu diucapkan oleh temen gue yang udah bersahabat jauuuuuh lebih lama sama Ully. Dan, ini membantu gue untuk ikhlas. Mungkin dia benar. Mungkin sekarang Ully udah senang. Ketemu mamanya. Ketemu Tuhan. Dan, yang paling penting, gak sakit lagi.

Ada begitu banyak teman, sahabat dan kerabat yang pasti lebih dekat dan sangat kehilangan juga saat ini. Tapi, kalau mereka bisa ikhlas, gue pun harus bisa ikhlas juga demi kebahagiaan Ully.

Jadi, yang tenang, ya, Ull. Yang senang. Walaupun mungkin nggak terlalu mudah bagi kami yang ditinggalkan tapi asal kamu senang kami juga pasti senang.

Selamat jalan, Ully. Salah satu orang paling baik. Terima kasih sudah menjadi teman yang sangat baik. Maaf kalo gue banyak salah, kalo kita jarang ngobrol. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Tuhan dan lo mendapat tempat terbaik di surga.

Amin.

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s