.lovefool’s guide to brokenheart.

Standard

Dari segitu banyak lagu The Cure yang gue suka, There Is No If adalah yang gue dengerin minimal sekali setiap bulan. Ini bukan lagu yang terlalu menyenangkan. Setiap kali denger lagu ini, dalam keadaan lagi super hepi sekalipun, hati gue otomatis mrintil, rontok semua. Yet, I listen to it on monthly basis (or more) quite religiously.

Gak pernah tau ada apa tentang lagu itu. Gak pernah menggunakannya di jamanjaman dulu waktu masih sering mellow akibat patah hati. Tapi, selalu mengerti dan paham betapa nelangsa dan kosongnya hati saat mengucapkan “there is no if.. just and.”.

Kapan itu gue nonton Celeste and Jesse Forever. Lagilagi, gak pernah berada dalam situasi itu. Amitamit, jangan sampe. Tapi entah kenapa ngeliat hubungan on-off-on-off-on-off sampe sekring putus dan sepinya tuh familiar dan sukses bikin hati cekitcekit. Selepas nonton itu, gue berharap nggak akan pernah merasakan hati bolong kaya gitu lagi. Mungkin dulu pernah ya sempet bolong hati – kalo nggak pernah, gak mungkin bisa ‘sepaham itu’ ya gak?

Lalu diskusi sama Dals. Kilas balik sejenak, kalo jaman dulu, seandainya gue putus sama pacar, gue adalah tipe yang kecenderungannya susah move on. Tipe yang bangun pagi mikir, “OKEH CUKUP NANGISNYA! HARI INI KITA LUPAKAN BELIAU!”, lalu berhasil nggak ngintipngintip telfon ngecek SMS atau miskol, lalu berhasil gak mikirin oknum X selama dua hari, lalu berhasil menjalani hidup selama seminggu penuh sampai kemudian bersilang jalan (atau sengaja dipaspasin) sama oknum X. Ketemu bentar, say hi doang dan……. karena basabasi setitik hilanglah kebahagiaan seminggu. Udah jalan 10 langkah, dibaikin dikit, balik lagi ke -10. Bubar sudah girl power. Balik menyemenye lagi. Itu. Gue. Banget.

Beda sama Dals. Konon, ketika dia sampai pada keputusan untuk pisah, itu karena dia udah menimbangnimbang sampe mateng dulu baru memutuskan. Nah, ini mungkin perbedaan signifikannya sama gue. Gue yang, Oke-Putus-Dah-Neyk! karena emosi. Makanya masih bisa balik kalo dicolekcolek. Dalsen beda. Ketika dia udah sepakat untuk putus, artinya itu udah melalui proses pemikiran yang matang. Karena itu, segera setelahnya dia bisa semacam klik tombol OFF dalam hatinya dan gak mau balik karena udah tau kalo dicoba lagi ya gak ada gunanya. Kan kemaren udah dipikir sampe mateng.

Bagi gue, Dals mengerikan.

Bagi dia, gue….. ya, just being me.

Lalu, sembari bengongbengong, gue ngeliatin anakanak perempuanku yang lagi mainmain dan cekikikan berdua. Seketika hati men-ce-los. Kenapa?

Ya ampun, anakanakku yang manis, suatu hari kalian akan patah hati juga ya?

Ini langsung sesek napas deh ngebayanginnya.

Apakah mereka bakal patah hati? Karena apa? Karena siapa? Dan ketika itu terjadi, apakah mereka bakalan cukup percaya untuk cerita sama gue?

Back in the days, gue dengan senang hati cerita soal gebetan gue ke bokap, nyokap dan kakak gue. Tapi, ketika gue patah hati, gue gak cerita ke mereka. Bahkan juga gak sama sahabat gue sendiri. Di situ baru nyadar kalo dulu sempet ngerasa hidup berat tuh ya karena yang kaya gitugitu gue simpen sendiri. Tapi, kenapa gue gak mau cerita juga karena gue (1) mau ngelindungin nama baik seseorang, (2) karena gue gak mau dibegobegoin aja.

Balik ke masa sekarang. Ketakutan gue bahwa, kelak, anak gue akan mengalami patah hati ini gue ceritain sama seorang temen gue yang juga punya anak perempuan. Berhubung temen gue ini gak mau disebut namanya, kita sebut saja Mawar…. Ungu – ala Masumi Hayami Topeng Kaca. :lol: Nah, dia mah kisah cintanya 11-12 sama gue. Samasama dodol, samasama sok pinter.. Hihihi. Sampe sekarang, kita berdua emang dodol dan sok pinter sih..  Jadi, seperti biasa, bukannya nemu solusi kita malah cekikikan aja mengenang kebegoan. Dia bilang, Mungkin ada baiknya kita cerita pengalaman kita masa lalu sebagai pelajaran mereka. Tapi, baru juga mingkem, dia udah ralat perkataannya sendiri karena nyadar itu sama aja kaya ngumbar aib dan menjatuhkan wibawa kita sendiri depan anak. Mwahahahaha..😆

Tapiiiii….. makin didiemin, topik ini makin muter mulu di kepala. Jadiiii… demi menghindari patah hati, Sa n So, simaklah halhal di bawah ini, ya.. Ini ditulis sama ibu kalian bukan karena sok Dr. Love tapi sematamata supaya kalian nggak mengulangi halhal bodoh yang nggak perlu, yang dulu kulakukan. Hehehe..

HIMYE

Wait for it.

Baik itu udah jadian, apalagi masih pedekate, sehepihepinya pasti akan datang saatnya dimana kita mulai mikirmikir pengen meningkatkan level hubungan. Yang udah jadian, pengen perjelas ini hubungannya mau kemana. Sementara, yang masih pedekate, pengen diperjelas ini-tuh-kita-pacaran-apa-kagak-jangan-gue-udah-jeles-tapi-ternyata-situ-nggak-nganggep-sini-spesial-tapi-giliran-gue–deket-sama-cowok-lain-aja-lo-ngambek *siapsiap dipentung seseorang yang lagi ngerasa gini juga* *IYA.. INI BUAT KAMU JUGAK..*😛

Been there beneeurrr.. Nah, yang biasa aku lakukan saat mengalami keadaan seperti ini adalah……….. menunggu. Tapi, gak sembarang nunggu yah.. Kasih target sampe kapan kamu mau menunggu. Sambil nunggu, liat juga perkembangannya. Kalo udah sampai deadline dan hubungan gak berkembang sesuai yang diharapkan, maka…..

Ask and/or Speak Up.

 I know it’s easier said than done. Tapi, sekali lagi, been there beneerrrr.. Pertamanya, gengsilah. Masa cewek nanya duluan? Tapi, lamalama mikir, dengan bisa ngomong apa yang sebenernya dirasain, setidaknya dia bisa melihat bahwa kita punya kontrol terhadap hidup kita.

“Kebahagiaan gue itu bukan ditentuin adanya elo atau enggak. Kebahagiaan gue itu kalo gue nggak perlu bingungbingung sendiri gak jelas. Kebahagiaan gue itu kalo gue tau masa depan gue gimana andeither you want to be a part of it or not. Either way is fine. Asal lo bilang sama gue. Jadi kalo lo nggak berencana ada dalam hidup gue, ya ngapain juga gue nungguin lo mulu.”

Intinya menunjukkan itu. Tapi gimana caranyalah, supaya ngomongnya lebih manis. Dan ingat, orang yang mau memperjelas hubungan itu NGGAK DESPERATE SAMA SEKALI. Karena itu adalah cara kita memperjuangkan kebahagiaan kita sendiri.

Hal yang paaaaaling buruk dari ngomongin perasaan adalah ditolak. Dia bilang, nggak sekarang/nggak sejalan/enakan temenan aja/beda prinsip. Itu cara dia membuatnya kedengaran lebih manis, tapi ya, namanya tetep ditolak. Kalo itu terjadi, here’s to you:

Yep, sakit. Yep, been there, done that – and should this happen to you, I promise I will be there for you.

Ketika kalian akhirnya bisa samasama, tentu saja itu menyenangkan. Tapi, ketika nggak bisa, maka….

Cry

Menangislah sepuas hati. Nggak usah purapura baikbaik aja. Nggak usah membohongi semua orang dengan purapura nggak peduli. Yang paling penting, nggak usah membohongi diri sendiri. Karena terakhir kali aku patah hati dan soksok hepi, akibatnya tipes dua minggu. Semua orang tau patah hati itu nggak enak. Sahabatmu pasti tau, cerita sama mereka. I’m a Curhat Magnet, aku pasti tau, cerita sama aku.

 Setelah itu, nggak ada jaminan bahwa hidup akan lebih gampang juga. Tapi, setidaknya, you’ve done your part. Happy ending itu kadang bukan berarti selalu bisa dapetin orang yang kita pengen. Tapi, juga bisa jadi karena dengan mengenal orang itu selama beberapa waktu, dia menjadikan kita orang baru yang mudahmudahan lebih baik. Dan dengan jadi orang lebih baik, moga juga ketemu orang yang lebih cocok.

Kalo emang hubungannya harus berakhir, jangan menyesali karena itu selesai. Tapi senanglah karena itu terjadi. Senanglah karena pernah ada kesempatan untuk ngomong apa yang kamu rasain – sehingga mudahmudahan, ke depannya, nggak ada rasa penasaran apaapa lagi. Nggak ada the one that got away.

Pernah, suatu hari, di Path, ada posting seperti ini:

Saran saya: Jangan punya Robin.

Ngomong tentang perasaan dan ekspektasi kita sama orang yang kita harapkan sejalan, tapi ternyata enggak, rasanya membantu kita juga untuk berdamai dengan diri sendiri. Sekaligus ngembaliin harapanharapan yang tadinya udah terlanjur tinggi, balik menjejak bumi. So, he’s not for you. That’s all and that’s it. Setidaknya kamu udah bilang, dia udah tau, tapi kalian nggak bisa bareng. Menyakitkan, tapi jelas. Dan kenyataan itu mematikan semua andai-andai. Andai-andai yang kelamaan itu bikin frustasi.

Kenapa? Karena, biasanya, kalo hubungan udahan begitu doang, gantung, gak pernah diomongin cuma dadah-babay doang, biasanya bakal bikin penasaran. Penasaran ini yang bikin what ifs. Lamalama secara nggak sadar bisa jadi benchmark dan pembanding dari pasangan yang sekarang. Padahal belom tentu juga lebih baik.

Ngemeng doang lo, Smit.. AHAHAHAAHA… Tapi, serius, sebisa mungkin gue selalu mengklarifikasi sampe pada batas dimana gue bisa menyatakan penasarannya udah selesai. Karena gue tau gue adalah tipe yang kebayangbayang seandainya masih ada yang gantung. Oh, tell me about it. Beberapa kali pernah ngerasain gitu kok. Sampe kemudian gue merasa sendiri bahwa itu nggak adil buat pasangan gue – dan gue juga ogah banget gak sih kalo dia masih mikirin mantannya gitu.

Tapi mungkin kalo gue gak sama si Dals, he’d be my Robin. Nyehehehe.. *aawww…* *menjilat*

Here’s my Robin..

#anaklama

#anaklama

Eniwey. Katanya, hubungan yang baik itu kalo ada usaha dari dua pihak. Kalo kayanya cuma satu pihak doang yang usahaaaaa terus, available terus, mendem mangkel terus, sementara satunya gak jelas, artinya timpang ya..  Sesekali sibuk okelah. Tapi kalo setiap kaliiii.. udah alert deh.

ana 🐷

 

Jangan terlalu permisif, jangan terlalu pasif tapi jangan terlalu aktif juga sih…

 

 

 

Jadi, demikianlah yang bisa kusampaikan. Semoga bermanfo’at bagi Sa n So kelak dan juga buat siapa pun yang, saat ini, membutuhkan🙂

Akhir kata:

Amin.

(Karena semua jalan akan dibukakan kalo kita juga banyak membawanya dalam doa🙂 )

Adieu!

=====

*all pics are borrowed from the Internet*

24 responses »

  1. Pingback: .ternyata cowok juga patah hati. | . love . laugh . life .

  2. Aku nangis beneran ini di jalan. Udahlah item gosong abis berjemur di pantai…pake bleberan air mata pulak!

    Thank you sayangku. Pokoknya obrolan kita sebelum aku brgkt liburan kmrn benar2 membantu. Aiwufyu!

  3. Ok, abis baca ini jadi pengen pny mesin waktunya doraemon dan ngeliat if he’s really busy or just made up an excuse krn dgn polosnya (atau bodohnya) aku percaya kl he is busy pake bgt.
    Moga2 kepake yah buat sabia and her sibling🙂

    • bisa aja sibuk beneran sih.. tapi seenggaknya, idealnya, sehari ada chitchat ya.. hihihi.. ah sama aja neng gue juga dulu maklum2 dan permisif amat kalo ada yang alesan sibuk..😛

  4. anyway, semua tipsnya sudah aku coba sis. semuanyaaa.. tapi berpulang lagi ke diri sendiri, mau sembuh apa enggak? bok, akhirnya pasrah aja. madep mantep, sembayang.. ternyata ‘disembuhinnya’ dengan caraNya sendiri..🙂

    ini aku bookmark ah, pasti berguna buat anakku kelak. eaaaakk.. padahal baru mau 3 minggu kawinn hihihi..

    • benerrrr.. balik lagi, kebahagiaan kita itu tanggung jawab kita kok bukan orang lain🙂

      ahahahaha… semoga anakanak kita nanti mau curhat sama kita yah..

  5. Mbaa…
    Loooh aku kok jd flash back..I would tell the old-me to chill out..ga usah daah nangis menye”,ga usah daah drama kelamaan,ga usah jg pura” lwt jln sekitaran rumahnya krn itu konyol abis…
    Tp klo ga ngalami massive heart break,kira” aku jg ga bs nasehatin anak”ku dgn baik n benar yekaaan?
    Semoga klo nanti anak”ku patah hati,semua crita” ku n nasehatku bs menghangatkan hati n menerangi jalan mereka..
    Amiin..

    • Asli banget tuh bilang suruh chill out.. tp masa itu kayanya berat bgt (dan dibilangin orang belom tentu mau denger😛 ).

      Aku juga sih gak yg banyak amat pengalamannya tapi lumayanlah buat dijadiin referensi kalo perlu.. huahaha.. *buka aib* Amiiiin.. moga anak2 kita bisa terbuka sama kita yaaa..

  6. Baca postingan ini kok yah pas lagi galau soal beginian sih
    semacam dikasi pencerahan *biasanya cuma jadi silinet reader😆 *
    terima kasih banyak mbak ^^

  7. Awww mbak aku udah lama deh jadi silent reader tapi seriusan baca ini gak bisa gak komentar. Secara aku masih muda dan masih mencari cinta (tsaaaah) postingan ini tuh relevan banget. Makasih ya mbak buat tips tipsnya yang membantu banget :’)

  8. Ini kok postingannya bikin memori bertebangan kemana2 yah hahaha..
    “Tapi, kenapa gue gak mau cerita juga karena gue (1) mau ngelindungin nama baik seseorang, (2) karena gue gak mau dibegobegoin aja.”
    Ini gw banget deh huhuhuhu… Alasan (1) entah kenapa jiwa melindungi nama baik org jauh lebih penting daripada perasaan sendiri sih? masih ga abis pikir.. kadang lbh baik orang taunya gw aja deh yang salah (2) IYA BANGETTTT males dibego2in hahahaha

  9. temanya kok bikin nostalgia beginiii *gebrak meja* :))
    Dulu pernah patah hati, mellownya norak banget, melakukan hal2 yang disesalin amat sangat sekarang ini deh. Sampe akhirnya ada temen yang abis akal ngehiburnya terus suruh nonton How I Met Your Mother biar lebih kuat dan dewasa =)) =)) =)) (waktu itu HIMYM baru season 2).
    Tapi emang setelah nonton lebih paham dan bisa let go pelan2 sih😛.
    Nice post! setuju! mending diperjelas dulu sebelum menjadi ‘Robin’😉

  10. Kak Smit, aku selalu kagum sama tulisan – tulisannya, yang baca jadi ikutan ngerasain dan tuluuuss banget kayanya, jadi pengen ketemu dan ngobrol ngobrol bareeng sekalian mau curhat.. hahahaha..
    Salam gemets buat Sa & So..😀

  11. Robin Hood Men in Tights! One of my favorite movie! Gak pernah gak ngakak klo nonton itu walo sudah beratus kali #ketauan generasinya #salah fokus
    Tapi tapi….aku suka postingannyaaa…selain merepresentasikan diriku dan membangkitkan kenangan2 lama, akupun ingin menyimpannya untuk anak ku kelak. Sebagai emak2 baru anak perempuan yang hampir 4 bulan ini, diriku ini sering banget ‘takut’, gimana kalo nanti dia nanti patah hati, gimana kalo dia ‘disakiti’ orang, dan lain lain. Huhuhu…so, i feel you….biasanya sambil ngeliatin dia tidur, aku bisa sampe menye menye mbrambangi..that feeling when you realised that you can not protect her forever…:(
    Tapi memang sepertinya yang terbaik yang bisa kita lakukan itu ya ngasih nasihat2 yang seperti Smita tulis, sebanyak2nya supaya dia tidak mengulangi kebodohan ibu nya😀
    Terima kasih lho, Smita…senang ada teman sesama emak2 yang merasakan hal yang sama *sok akrab banget bilang teman padahal gak kenal* :)) dan terima kasih atas kumpulan nasihatnya.*bookmarks, di print, kumpulin, jilid, simpen*

  12. Pingback: lovefool’s guide to broken hearted | jasmine-orchid-sakura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s