.a lesson for mommy.

Standard

Dalam hidup gue, gue itu sering banget dipertemukan dengan orangorang yang, bisa dibilang, membuat gue banyak belajar. Apakah itu keluarga, tementemen, orang kantor, abang ojek, supir taksi…. Pokoknya banyaklah orang yang bisa menginspirasi.

Kemarin ini, HR manager regional datang berkunjung ke kantor gue. Beliau adalah seorang perempuan yang, dari luar, udah keliatan kalo dia itu sangat cerdas dan tegas sehingga mengesankan kalo dia udah pastilah seorang Tiger Mom.

Tentunya impresi begini membuat mama kelinci seperti aku agak kebatkebit. Apalagi dapet kesempatan one-on-one sama dia kan ya.. Untungnya, semua berjalan lancar. Kalo sama gue, kita kebanyakan cuma ngomongin masalah kerjaan. Ternyata sama temen gue, yang juga punya anak balita, mereka sempet ngomongin sampe masalah anak segala.

Dan, ini yang bakal gue share di sini. Katakatanya si ibu HR regional itu ke temen gue. Karena, pas temen gue cerita (dengan mata berkacakaca), aku pun ngerasa ter-jleb banget karena seseorang yang gue anggap working mom canggih itu pun ternyata hanya manusia biasa juga..

“Saya tidak akan pernah meminta orang untuk memilih antara karir dan keluarga, karena terkadang itu bukan pilihan. Tapi, saya akan minta mereka belajar untuk let go of things.

Waktu saya punya anak pertama, semua harus ada dalam kontrol saya. Makanan harus organik, baju harus katun, saya yang harus memasak dan mandiin dan lainlain. Semua itu saya lakukan sambil saya kerja. Tanpa bantuan orang lain, karena saya nggak mau dia dekat dengan orang lain, dan karena saya ibunya. Tapi, pada akhirnya saya jadi overwhelmed sendiri dan menjadi cranky.

At the end of the day, saya nyadar bahwa apa yang saya lakukan saat itu bukan ‘menjadi ibu‘, melainkan cuma checking the checklist. Demi memuaskan diri saya sendiri bahwa saya bisa.

Ketika saya punya anak kedua, saya mulai belajar untuk let go of things. Saya harus mengakui saya butuh helper. Ternyata, punya orangorang yang bisa membantu kita itu gak otomatis menjadikan anak kamu gak deket sama kamu. Dia akan selalu memilih kamu walaupun dia menghabiskan sebagian besar harinya sama orang lain, selama kamu tidak menelantarkan dia secara emosional.

Sekarang, saya terserah rumah mau berantakan atau baju anak nggak matching ketika saya pulang kerja. Pada akhirnya, yang dia ingat bukan halhal seperti itu. Sebenernya, itu hanya pemuasan kita terhadap tuntutan yang kita kasih ke diri sendiri. Yang anakanak akan ingat adalah halhal sederhana, seperti bagaimana kita ada untuk mereka secara emosional. Bagaimana kita membuat masamasa bersama dia itu bermakna.

Waktu saya kecil, orangtua saya sering mengajak kami fishing trip. Sampe sekarang, itu adalah hal yang selalu kami kenang tentang masa kecil kami. Suatu hari, ibu saya bilang, ‘Kalian seneng banget ya inget masa itu? Kalau kalian tau, jaman dulu, kita itu gak punya uang dan yang bisa kita lakukan cuma fishing trip karena itu yang paling gak membutuhkan banyak biaya.

Jadi, intinya, percuma kamu bisa melakukan semua hal, semua checklist tercentang, tapi kamu selalu cranky dan tidak pernah memberikan waktumu untuk bersama mereka. Just be there for them.

YESSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!!!!

Jleb banget sampe speechless.

Semoga sharing-nya bermanfaat ya, untuk belajar menjadi ibu yang lebih baik dalam memaknai kebersamaan sama keluarga.🙂

*brb, buang checklist*

12 responses »

  1. bener sih, seringnya menetapkan standar ideal harus ini dan itu karena gak mau dianggap menomerduakan anak karena status kita sebagai bekerja :3

    ih yaampun. aku jadi mikir bolak balik ngaca bolak balik juga :s

  2. aaaa… terjleb.. dan terngembeng lalu tenggorokan tercekat… iya ya Mbakk.. keingat aku capek banget centang checklist jadinya malah mungguin anak saat dia mau tidur bukannya ngajak ngobrol. Makasih lohh.

  3. aaahhh… aku banget ituuuhh…. kecuali urusan makan sih karena eikeh ga sabar kalo nyuapin.. tapi semuah-muah-muah kalo bisa aku yang handle karena… aku ibunya dan aku yang paling tau segalanya!!! hiksss….

    *learn to let go…

  4. ya ampun,,, lagi lembur baca ini,langsung elus2 perut,,*mklum calon mama rabit*
    makasih buat pencerahannya babemnya sabi dan ungsu,,, *pelukkkkkkkkk

  5. bijak bestariii si ibuk itu. aku khagum. posting nya aku link ke blog aku yah smita. mungkin karna itu anak gue kedua lebih loose, santai, jauh lebih berani & eksploratif. karna ibuknya udah gak terlalu riwil sama printilan, lebih santai jadi anaknya jugak santei. oh wow…

  6. Untunglah check list itu sudah kubuang jauh-jauh hari.

    (brb nampol sodara gw yang sempet nanya “itu si Biyan kalo pergi berdua doang sama lo mau ya? Kan sehari-hari ditinggal kerja?”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s