.#Day25: Psikologi Untuk Anda.

Standard

Waktu kuliah, salah satu pertanyaan paling salah namun paling sering gw terima terkait dengan fakultas gw adalah:

“Anak Psikologi ya? Bisa baca orang dong?”

Gak nolong juga karena salah satu mind-reader yang sering masuk TV juga berasal dari almamater gw. Jadi, kalo gak kalimat di atas, kadang ada varian berikutnya:

“Anak Psikologi ya? Bisa sulap dong?”

………………….

Salah seorang pemain sinetron kawakan juga berasal dari almamater gw, tapi kenapa ya gak ada yang pernah nanya,

“Anak Psikologi ya? Bisa akting dong?”

Hih.

Bagaimana pun, masamasa itu sudah berlalu. Tapi, bukan berarti sekarang gw tidak lagi terjebak dalam stereotype tertentu mengenai “Anak Psikologi”. Hanya saja, alihalih kalimatkalimat di atas, sekarang ini kalimat yang sering terdengar adalah:

“Lo pasti gampang ya ngertiin anak? Kan lo psikolog..”

Untuk kalimat itu, akan gw luruskan: (1) gw itu cuma Sarjana Psikologi, beda jauuuuuuh sekali dengan Psikolog yang butuh beberapa tahun lagi untuk belajar, (2) terus terang aja, mayoritas pelajaran yang gw dapet jaman kuliah itu saya sudah lupa..😆

Tapi, ada beberapa yang gw inget. Dan untungnya itu berhubungan dengan kegiatan parenting. Sini saya bagi yaa..🙂

Ini dia tahap perkembangan tahapan Psikososial dari Erikson (dipinjam dari http://kongkoh.blogspot.com)

Tahap 1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)

  • Terjadi pada usia 0 s/d 18      bulan
  • Tingkat pertama teori      perkembangan psikososial Erikson terjadi antara kelahiran sampai usia satu      tahun dan merupakan tingkatan paling dasar dalam hidup.
  • Oleh karena bayi sangat      bergantung, perkembangan kepercayaan didasarkan pada ketergantungan dan      kualitas dari pengasuh kepada anak.
  • Jika anak berhasil      membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman dalam dunia.      Pengasuh yang tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional, atau      menolak, dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada anak yang di      asuh. Kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan      ketakutan dan kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat di      tebak.

Tahap 2. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and doubt)

· Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun

  • Tingkat ke dua dari teori      perkembangan psikososial Erikson ini terjadi selama masa awal kanak-kanak      dan berfokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri.
  • Seperti Freud, Erikson      percaya bahwa latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting sekali      dalam proses ini. Tetapi, alasan Erikson cukup berbeda dari Freud. Erikson      percaya bahwa belajar untuk mengontrol fungsi tubuh seseorang akan membawa      kepada perasaan mengendalikan dan kemandirian.
  • Kejadian-kejadian penting      lain meliputi pemerolehan pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan,      mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian.
  • Anak yang berhasil melewati      tingkat ini akan merasa aman dan percaya diri, sementara yang tidak      berhasil akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.

Tahap 3. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)

· Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun.

· Selama masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi sosial lainnya. Mereka lebih tertantang karena menghadapi dunia sosial yang lebih luas, maka dituntut perilaku aktif dan bertujuan.

· Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten dalam memimpin orang lain. Adanya peningkatan rasa tanggung jawab dan prakarsa.

· Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif. Perasaan bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul apabila anak tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa sangat cemas.

· Erikson yakin bahwa kebanyakan rasa bersalah dapat digantikan dengan cepat oleh rasa berhasil.

Tahap 4. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri)

· Terjadi pada usia 6 s/d pubertas.

· Melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka.

· Anak yang didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru membangun peasaan kompeten dan percaya dengan ketrampilan yang dimilikinya.

· Anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orang tua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan kemampuannya untuk berhasil.

· Prakarsa yang dicapai sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat dengan pengalaman-pengalaman baru.

· Ketika beralih ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual.

· Permasalahan yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar adalah berkembangnya rasa rendah diri, perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif.

· Erikson yakin bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak.

Tahap 5. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas)

· Terjadi pada masa remaja, yakni usia 10 s/d 20 tahun

· Selama remaja ia mengekplorasi kemandirian dan membangun kepakaan dirinya.

· Anak dihadapkan dengan penemuan siapa mereka, bagaimana mereka nantinya, dan kemana mereka menuju dalam kehidupannya (menuju tahap kedewasaan).

· Anak dihadapkan memiliki banyak peran baru dan status sebagai orang dewasa –pekerjaan dan romantisme, misalnya, orangtua harus mengizinkan remaja menjelajahi banyak peran dan jalan yang berbeda dalam suatu peran khusus.

· Jika remaja menjajaki peran-peran semacam itu dengan cara yang sehat dan positif untuk diikuti dalam kehidupan, identitas positif akan dicapai.

· Jika suatu identitas remaja ditolak oleh orangtua, jika remaja tidak secara memadai menjajaki banyak peran, jika jalan masa depan positif tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela.

· Namun bagi mereka yang menerima dukungan memadai maka eksplorasi personal, kepekaan diri, perasaan mandiri dan control dirinya akan muncul dalam tahap ini.

· Bagi mereka yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan hasratnya, akan muncul rasa tidak aman dan bingung terhadap diri dan masa depannya.

Tahap 6. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan)

· Terjadi selama masa dewasa awal (20an s/d 30an tahun)

· Erikson percaya tahap ini penting, yaitu tahap seseorang membangun hubungan yang dekat dan siap berkomitmen dengan orang lain.

· Mereka yang berhasil di tahap ini, akan mengembangkan hubungan yang komit dan aman.

· Erikson percaya bahwa identitas personal yang kuat penting untuk mengembangkan hubungan yang intim. Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sedikit kepakaan diri cenderung memiliki kekurangan komitemen dalam menjalin suatu hubungan dan lebih sering terisolasi secara emosional, kesendirian dan depresi.

· Jika mengalami kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan orang.

Tahap 7. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)

· Terjadi selama masa pertengahan dewasa (40an s/d 50an tahun).

· Selama masa ini, mereka melanjutkan membangun hidupnya berfokus terhadap karir dan keluarga.

· Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka akan merasa bahwa mereka berkontribusi terhadap dunia dengan partisipasinya di dalam rumah serta komunitas.

· Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.

Tahap 8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)

· Terjadi selama masa akhir dewasa (60an tahun)

· Selama fase ini cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu.

· Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hidupnya percuma dan mengalami banyak penyesalan.

· Individu akan merasa kepahitan hidup dan putus asa

· Mereka yang berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami.

· Individu ini akan mencapai kebijaksaan, meskipun saat menghadapi kematian.

Walopun ada juga tahap perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud yang kurang lebih saling melengkapi dengan Erikson, dari dulu gw lebih suka Erikson sih karena gak terlalu terpusat sama halhal yang berhubungan dengan libido melulu..😛

Pokoknya, sejak gw kuliah, kalo bikin tugas sampe skripsi tentang Psikologi Perkembangan, teori si Erikson itu sering menjadi andalan. Karena menurut gw representatif menggambarkan manusia dari baru lahir sampai usia lanjut.

Gw jadi inget, dulu gw sama Dants sampe bikin lagunya supaya tahaptahap ini mudah diingat..😆

Eniwey. Garagara teori ini juga, gw peduli amat sama yang namanya “bau tangan”. Menurut gw gak ada yang namanya bau tangan buat anak bayi. Dipeluk itu mutlak merupakan kebutuhan. Dan, bener kan, di tahap pertama itu dijelasin bahwa pengasuh yang ada secara emosional akan memberikan rasa percaya buat bayi. Makanya gw cuek aja dulu dibilang Sabia bau tangan karena sering gw gendonggendong. Hihihi..

Sekarang Sabia masih ada di tahap kedua, yang artinya gw harus menyempurnakan toilet training-nya dengan betul. Karena sekarang dia kalo pergipergi masih berpospak, jadi kayanya mesti harus mulai dicoba lepas pospak (walau itu berarti gw kayanya mesti siapsiap lebih higienis karena akan ada penggunaan toilet umum yaaa..). Tapi, sejauh ini, sudah dibiarkan milih sendiri mau makan apa, pake baju apa, mainan apa, buku apa.. Mudahmudahan bisa dilewati dengan baik juga semua.

Mengenai mainan, Liny, temanku yang meminta topik ini juga nanya, “gmn lo mo gedein Sabia dan adeknya di Jaman anak umur 3 Taon dah pegang iPad tapi lo pgn bgt klo anak lo ngrasain maen petak umpet or ompimpa allaium gambreng- unyil kucing…?”

Terus terang, awalnya gw juga ingin menjauhkan anak(anak) gw dari gadget karena gw percaya pengalaman main “beneran” itu pasti akan memperkaya mereka. Ketika hamil gw juga tau bahwa anak di bawah 2 tahun, sebisa mungkin jangan terpapar televisi.

Tapi, pada kenyataannya, SUSAH AJEEEEEEEEEE menjaauhkan anakanak itu dari televisi. Kita tau teorinya mana yang baik, mana yang harus dihindari. Tapi, seiring perkembangan jaman, kayanya sulit deh 100% mengasingkan diri dari perkembangan teknologi. Jadi, kenyataannya, Sabia adalah termasuk anakanak yang makan sambil nonton Disney Junior. Kenyataannya, gw beli iPod Touch demi beli Apps Flash Cards buat Sabia. Thus, TV and iPod (or Pad, whatever).

Maka, yang kami bisa lakukan untuk saat ini adalah filtering and compromising. TV boleh tapi hanya tayangan tertentu yang untuk anakanak — atau DVD lagu anak yang bikin dia belajar juga. Gadget boleh, cuma 1 jam sehari atau boleh tapi hanya saat wiken. Terus, harus didampingi. Sisanya, mainan “beneran”. Sama anak tetangga kek, masakmasakan sama mbaknya kek, loncatloncatan di tempat tidur kek, main purapura sama gw dan Dals sepulang kantor kek. Capek sih. But still..🙂

Keliatannya ideal banget? Ya maklum, mak, namanya juga orangtua. Percayalah, ini sebenernya nulisnya juga sambil degdegan gak santai, sumpah! Pengennya yang ideal amat buat anakanaknya  dan sebisa mungkin selama mungkin mengusahakan ruang tumbuh kembang ideal yang jauuuuuh dari halhal yang gak kita harapkan. Doakan ya, semoga berhasil..😀

Mudahmudahan dengan kaya gitu, kita bisa ngebekalin si anak supaya dia gak kehilangan masa kecil tapi juga bisa menghadapi masa depan dengan seamanamannya. AMIIIIIIIIIN!🙂

9 responses »

  1. ah.. iya tuh.. selalu banget ditanya gitu. padahal mah emangnya lulusan psikologi itu sama kayak cenayang apah ckckck..

    kalo di kantor ditanyainnya “kan km lulusan psikologi, km mestinya bisa baca sama lebih ngertiin orang donk?”. hih..

    anyway, baru kali ini komen di blognya mbak smita, selama ini jadi silent reader aja. salam kenal ya🙂

  2. yaampun postingan ini udah kayak bikin laporan tugas psi perkembangan *teringat jaman2 kuliah*
    aku ponten A ya kak kalo aku jadi dosennya hihihihi🙂

    yang paling setuju: “(1) gw itu cuma Sarjana Psikologi, beda jauuuuuuh sekali dengan Psikolog yang butuh beberapa tahun lagi untuk belajar, (2) terus terang aja, mayoritas pelajaran yang gw dapet jaman kuliah itu saya sudah lupa.. ”

    BENER BANGET DAN SERING KEJADIAN ORANG NANYA2 DAN BERAKHIR DIJAWAB DEMIKIAN. yang poin terakhir sih dalem hati aja, malu ah x)

  3. Hummm… anak psiko, lalu almamaternya ada mind reader dan pemain sinetron? Apakah, apakah maksudnya DC dan DR? Kalo iya, artinya mantan penghuni BKS juga dong? (Kalo bener, pasti tau BKS hehehe)
    Salam kenal yaaa…

      • laaaahhh… beneran satu almamater toh, hahaha… angkatan berapa? btw, bukan cuma mind reader dan pemain sinetron loh, kan ada presenter insert juga, si EM itu loh *penting*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s