.#Day13: Surat Untuk Masa Depan.

Standard

Dear Sabia,

Surat ini ditulis waktu kurang lebih hampir tiga tahun usiamu🙂

Kamu mungkin gak akan pernah menyadari, bahwa dalam waktu yang singkat itu, kamu udah banyaaaaaaak sekali mempengaruhi (dan mungkin juga mengubah) hidup Babem dan Ayah. Mungkin kami juga gak jelekjelek banget sih, sebelum itu.. Hihihi. Tapi, yang jelas, kehadiran kamu membawa kami menjadi orang yang terus berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.

Sejak kamu lahir, sampe sekarang, banyak hal menjadi tidak sama lagi dalam pandangan kami. Contoh yang paling gampang aja, setiap kali nonton film yang melibatkan adegan orangtua dan anak perempuannya. Kalo dulu mah cuekcuek aja, sekarang, gak mungkin deh gak kepikiran kamu. Apalagi kalo melihat adegan orangtua dan anak perempuannya yang mulai beranjak remaja. Seringkali langsung jadi liatliatan dengan muka semi nelongso, karena kami tau, cepat atau lambat, hubungan kita pun akan berkembang seperti itu.

Duluuuu sekali, waktu Babem (dan Ayah) masih kecil, kayanya lumayan bosen denger katakata: “jadi orangtua itu enggak ada sekolahnya“. Sekarang baru deh kerasa. Dan emang bener sih, jadi orangtua gak ada sekolahnya. Hanya saja, yang kami sadari, kami belajar hal baru setiap hari. Dan sampai saat ini, kamu, Sabia, adalah gurunya🙂

Itulah sebabnya aku berjanji sama diriku sendiri, bahwa walopun aku pernah menjalani usia pertumbuhan yang kamu pernah, sedang dan akan jalani, aku akan berupaya sepenuh hati untuk gak akan mengeluarkan kalimat: “kita pernah jadi anakanak, kamu tidak pernah menjadi orangtua” — bahkan saat kita sedang berargumen sekali pun. Karena…. masanya berbeda. Sudah jelas bahwa kamu belum pernah menjadi orangtua, tapi semoga aku juga gak bakal lupa bahwa aku gak akan pernah menjadi anakanak atau remaja di jamanmu bertumbuh, karenanya aku gak akan pernah tau sebanyak yang kamu tau.

Sabia sayang, setiap hari, walaupun kita lagi ketawatawa sebelum tidur, jauh di dalam hati kecil Babem ada rasa takut yang sangat besar. Aku takut kehilangan momen. Aku takut momenmomen ini pelanpelan memudar seiring kamu bertumbuh kembang. Pengen banget bilang, “don’t grow up too fast“, tapi tau bahwa senatural apa pun, kamu harus dan akan beranjak dewasa. Dan senatural apa pun, akan terasa cepat buat Babem dan Ayah.

Maka, bertumbuh kembanglah seperti seharusnya, seperti sewajarnya. Hanya saja kalau aku boleh minta tolong, semoga kamu berkenan untuk tetap selalu melibatkan kami dalam banyak masa hidupmu.🙂 Mungkin gak selalu mudah. Mungkin ada saatnya kita gak selalu sepaham. Karena sesungguhnya kita tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasanya ada di ‘sepatu’ masingmasing. Mungkin akan tiba waktunya kamu menganggap kalimat “ini semua karena kami sayang sama kamu” itu basi. Tapi ya, itu dan akan selalu itu alasan di balik segala hal yang kami lakukan — walaupun beberapa di antaranya akan membuat kamu kesal😛

Sejak dulu, Ayah selalu ngajarin kita tiga kata sakti, “terima kasih, maaf, tolong.” Karena itu, terima kasih sudah menjadi anak yang manis, yang selalu meramaikan harihari kami dengan ocehan, nyanyian dan tarian kamu. Maaf karena surat yang ditulis waktu kamu berusia hampir tiga tahun ini udah penuh wejangan seolaholah kamu sudah tiga belas tahun. Dan, tolong kami untuk bisa terus belajar menjadi orang serta orangtua yang lebih baik lagi dari hari ke hari.

I love you, Sabia.

I love you so much 🙂

====================================================================================================

Dear Adek-Kecil-Dalam-Perutku,

Surat ini ditulis waktu kamu masih berusia kurang lebih 4 bulan dalam kandungan. Apa kabarnya? Gimana rasanya di dalam sana?🙂

Adek, walaupun di dalam sana kamu sendirian, tapi ketahuilah kalau di luar sini, di lingkar terdekatmu, ada Babem, Ayah dan Nona yang sedang menunggu kehadiran kamu. Kami adalah tangantangan besar-kecil yang menyentuh kamu dari luar perut setiap malam.

Nantinya, kalau kamu sudah lahir, kamu akan tau bahwa tangan yang paling besar itu milik orang yang paling sabar di dunia, yaitu si Ayah. Dia yang akan ngejagain kita semua. Karenanya, kamu jangan takut. Tangan yang sedang itu milik orang yang paling cerewet di rumah, yaitu aku. Aku yang selama sembilan bulan membawa ‘tambur’ dan ngajak kamu jalanjalan kemanamana. Karenanya, kamu jangan merasa sendirian. Tangan yang paling kecil itu milik anak yang banyak banget polahnya, yaitu Sabia, kakakmu yang pengen dipanggil Nona. Dia yang sudah berjanji akan ngajarin kamu begitu banyak lagulagu yang dia hafal. Karenanya, kamu jangan merasa sepi. Bagi kami, kamu akan melengkapi hidup kami. Karenanya, kami sayang sama kamu, jauh sebelum kamu dilahirkan🙂

Kalau Babem boleh curhat dikit, sejujurnya akan menjadi ibu dari dua orang anak membuatku takut.

Aku takut kurang memberimu asupan yang baik selama dalam kandungan. Aku takut lupa akan apa saja yang harus dilakukan saat kamu udah lahir nanti. Aku takut gak bisa bersikap adil terhadap kalian berdua. Dan, tentunya, seperti biasa, aku juga takut kehilangan momen sehingga tibatiba kamu sudah beranjak dewasa.😛

Adek, maaf ya, karena waktu trimester pertama hamil kamu, Babem susah makan. Makan apa aja rasanya gak cocok. Akhirnya, terpaksa deh makannya kurang tertib demi untuk bisa isi perut aja. Tapi, best part-nya kita jadi sering makan enak sih.. Hihihihi.. Semoga kamu bisa memilahmilah ya, supaya tetep dapet bagian terbaik dari apa yang aku makan saat itu. Dan, semoga nutrisi yang diterima bisa berfungsi optimal dalam perkembangan serta kesehatan kamu di dalam perut.🙂

Tau gak, pada suatu hari nanti, kalau kamu udah lahir, aku pasti akan merindukan keberadaan kamu di perutku. Rasanya seperti punya malaikat pelindung yang selalu ada, saat kita senang, saat kita sedih, atau apapun. Terima kasih sudah memberi aku kesempatan untuk merasakan indahnya hal itu lagi. Terima kasih juga sudah sangat perhatian dengan sering mengingatkan aku untuk sering istirahat. Sehingga, gak hanya kita punya waktu banyak untuk boboboboan, kamu juga memberikan banyak waktu untuk Babem, Ayah dan Nona untuk jalanin waktu samasama🙂

Semoga kamu dan Nona juga bisa menjadi duo yang manis, sehat, rukun dan bahagia yang selalu menjadi pagar dan motivasi bagi Ayah dan Babem dalam segala hal. Semoga kita semua bisa selalu saling menjaga, bisa banyak ketawa bersama, serta saling menjadikan satu sama lain tempat untuk pulang. Amin.

Sampai bertemu beberapa bulan ke depan ya, sayangku.. Be healthy, be well 🙂

I love you so much 🙂

============

ditulis atas permintaan topik dari Anditry.

 

5 responses »

  1. biasanya cuma jd pembaca setia tanpa berani komen,, tapi yang ini asli bikin hati nyess, meleleh dan terharu biru..

    sabia dan si dede bayi pasti bangga sama babemnya..🙂

  2. aduh terharu sekali,.aku juga skrg lagi bawa2 ‘tambur’ 37 minggu dan lagi nunggu waktu melahirkan, anaknya pun perempuan..semoga bisa jadi anak manis seperti Sabia :))
    sehat selalu ya mba sampai waktu melahirkan nanti, salam kenal🙂

  3. Smit, makasih yaaaa. Sesuai dugaanku waktu ngasih topik ini, aku ngembeng mewek bacanya. Sampai kapanpun kayaknya keluarga mungilmu ini akan selalu jadi idolaku deh.
    Semoga Tuhan selalu memberkati kamu sekeluarga ya. Semoga kalian senantiasa rukun, saling sayang dan saling jaga, dan senantiasa miring otaknya (asal gak kebanyakan) hahahahah karena itu yang membuat kalian semakin loveable.
    Semoga Nonat dan adeknya yang di dalam perut akan tumbuh jadi anak-anak yang abis baca surat babemnya di atas ini trus langsung menghambur peluk ayah dan babemnya. Yang meskipun mereka saat itu gak ngomong apa-apa sama kalian, tapi sebenernya mereka cuma rada gengsi, padahal sibuk lap ngembeng di matanya. Yang nggak akan pernah lupa ajaran ayahnya untuk bilang Terima Kasih, Maaf dan Tolong.
    Yang akan bilang :
    “Terima Kasih Babem & Ayah sudah banyak sabar jagain kami & ajarin banyak hal. Terima Kasih untuk semua ketawaketiwi bareng-bareng dan hari-hari menyenangkan yang sudah diberikan”
    “Maaf Babem & Ayah kalau kami pernah bikin pegel (hatinya) dan bikin sedih. Semoga ini cuma jumawa sementara anak muda yang belum paham pahitnya dunia di luar sana”
    “Tolong jangan capek ingetin kami kalau mulai “geser” dari jalur. Mungkin kami nggak akan bisa langsung nurut dan appreciate nasihat Ayah & Babem, tapi cepat atau lambat kami pasti akan belajar bahwa maksud kalian baik”

    Ah aku sayang kalian semuaaa… tak sabar menanti anggota baru keluargamu deh jadinya.

  4. @ Egha, Sari, Febs: Terima kasih yaaaa sudah baca dan komen🙂 Salam kenal juga🙂

    @anditry: amiiiin, moga yaa… aku juga tak sabar buat kamu.. *wink, wink*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s