.kecewa.

Standard

Kemaren, di TL gw sliweran beritaberita terkini — yang sayangnya, menurut gw, bukan berita yang menyenangkan.

Gw adalah salah satu dari sekian orang yang, ketika banyak orang menyayangkan, mengeluh, bahkan mengutuk keputusankeputusan pemerintah, lebih memilih untuk diam dan gak misuhmisuh di depan umum. Bertahuntahun, gw berusaha menepati tugas gw sebagai warga negara dengan menunaikan kewajiban gw — menggunakan hak pilih, membayar pajak, gak buang sampah sembarangan  dan hal kecil semacamnya, hanya agar gw bisa merasa punya hak untuk bisa komen dan komplen jika gw merasa tidak nyaman.

Berita yang bersliweran di TL kemarin bukan hanya membuat gw merasa kehilangan kenyamanan tapi juga membuat gw merasa kehilangan hak gw untuk melihat hukum masih dijunjung tinggi dalam sebuah Negara. Dan ketika hukum tidak lagi dijunjung tinggi oleh pihakpihak yang seharusnya, di situ juga gw kehilangan rasa aman.

Sampai di situ, gw tidak lagi mempertanyakan “kenapa?” tapi “sampai kapan?

Gw lahir di sini, besar di sini, mencari kerja dan makan di sini. Bahkan ketika gw berkesempatan untuk melihat tempat lain, gw (masih) selalu ingin pulang kembali ke sini.

Untuk paragraf di atas itu, dulu gw tidak pernah mempertanyakan, “kenapa?“. Tapi, melihat keadaan sekarang, gw khawatir banget kalau kelak gw bisa bertanya, “sampai kapan?“.

Sumpah, gw sangat ingin terus mencintai tempat dimana gw dilahirkan. Tempat dimana gw berpijak. Tapi, seperti halnya cinta bertepuk sebelah tangan, sulit dan sedih rasanya untuk mencintai sesuatu yang nampaknya tidak membalas perasaanmu, dan cenderung sering mengecewakanmu.

Gw bukan orang yang sempurna. Gw juga mungkin bukan orang yang akan berada di garda depan saat ada yang harus dipertahankan. Tapi, gw kebetulan berencana untuk menjadi warga negara yang baik di sini dan kebetulan gw belum punya pilihan lain selain membangun dan memelihara keluarga di sini.

Jadi, sepertinya yang saya butuhkan adalah pemimpin yang bisa menjawab “sampai kapan kebrengsekan ini akan berjalan?” dan bagaimana rencana dia untuk menindak dan menghentikan itu semua. Betul bahwa semua dimulai dari diri sendiri. Tapi kalo pemimpinnya enggak mendukung perjuangan kita yang niatnya baik, akhirnya mentah juga kan?

Kalo ternyata belum dan/atau gak ada pemimpin yang bisa menindak, maka pertanyaannya pun akan berubah jadi, “sampai kapan kita bertahan dan mematikan rasa terhadap kekecewaan?”

….. dan akankah kita mampu bertahan?

😦

21 responses »

  1. Aku ga tau berita apa yg sliweran di TLmu, tapi kalo di TL versi gue bbrp di antaranya: Angie cuma divonis 4,5th+denda recehan, dan ditunjuknya Menpora baru. Aku pikir kemarin siang cuma joke aja, si ryo syuro itu hosip2nya jadi salah satu kandidat calon pengganti Menpora. Aku pikir gak mungkin si beye sekonyol itu. Tapi pas tau itu udah official, asli hatiku mencelos. Ternyata bukan joke, si beye serius. Serius konyolnya sih, menurut aku. Mudah2an jamannya anak2 kita udah gede nanti pemimpin negeri ini bisa jauh lebih baik ya… *tetep (naif) berharap*

    • gw makin sedihnya karena selama ini percaya ‘semua hal terjadi untuk satu alasan’, tapi sekarang makin gak ngerti alasannya gw dilahirkan di sini tuh kenapa..😦

      • 😦
        mungkin seseorang yang idealis akan menjawab bahwa kita dilahirkan di sini untuk berkarya, dan membantu menyelamatkan negara yang sudah tidak lagi jelas arah dan tujuannya ini
        tapi sampai kapan orang-orang idealis ini bisa bertahan di masyarakat ketika sebelum akhirnya ditumbangkan realita, menjadi apatis, dan akhirnya terpaksa berkarya di negeri lain?
        There must be something we can do, ya nggak sih?

  2. Saya termasuk orang yang dapet kesempatan untuk tinggal dan mencari nafkah di luar Indonesia. Saya tidak bisa berkontribusi langsung sebagai WN walaupun selalu berusaha sekuat tenaga ‘menjaga nama baik’ dan mempromosikan Indonesia disini. Karena saya bangga dan cinta. Tapi ketika saya setiap hari tetap buka berita tentang Indonesia, buka TL, dibaca satu persatu, setiap hari pun saya ‘menangis’. Dan bertanya kenapa??kenapa bisa sampe begini?
    I think what they say is right, sometimes you love somebody so much until it hurts.

    Persis seperti Smita bilang, rasanya selalu seperti bertepuk sebelah tangan…..sayapun merasa dikecewakan. Dan saya pun selalu bertanya2 seperti Smita, sampe kapan??
    Mungkin saya bukan orang yang tepat untuk mengeluh soal negara, but I can feel you…akupun sedih….

    • menurut gw, ketika seseorang mengeluh di saat seperti ini, itu karena sense of belongingnya pada negara ini masih besar. semestinya ada kali ya yang bisa kitaperbuat… tapi gak tau apa..😦

  3. Gw juga udah sama skeptisnya sama lo. Gw slalu yakin, jaman jahiliyah ini akan segera berlalu. Tapi melihat dua berita besar kemarin, gw udah dalam tahap yang eneg. Tahap yang pengen pindah kewarganegaraan, pengen ninggalin tanah air tempat gw dilahirin.

    Gw udah hopeless. Pemerintah udah isinya koruptor semua. Gak mikirin rakyat, yang notabene yang mengirim mereka ke atas. Negara ini ada presidennya gak sih?

    Gw capek.

  4. kehilangan rasa aman.

    itu yang udah gue rasain 10 taun terakhir.

    ngeri, sedih dan khawatir memang. cuma tadi malem ada follower gw yg bilang: makanya kita mesti mastiin anak-anak kita nggak kaya gitu. ngebenerin generasi lah istilahnya. semoga pada prosesnya kita gak keganggu sama ketidakamanan ini ya. amin.

    • semoga anakanak kita akan menjadi generasi yang lebih baik.. dan kita juga ditunjukin plus dipermudah jalannya supaya mereka menjadi orangorang yang bener. aminnn…

  5. gue tuh selalu berpegang teguh, gak boleh menjelek2an negara sendiri pas di negara orang. jadi dari kemaren kejadian aneh2 gue selalu tetep merasa punya harapan buat perubahan. sampai akhirnya kemaren beneran gitu ya.. nyerah gue nyet, nyerah😦

  6. ih ternyata yang ngerasain bukan cuma aku aja ya mbak *peluk*… udah gerah banget liat dagelan di negara kita. Sedih emang, kayaknya rasa cinta, rasa nasionalis kita kayak di take it for granted😦. Samaaa pertanyaannya pun udah bukan lagi kenapa tapi mau sampai kapan kayak gini? kasian generasi anak anak kita, rasanya gak rela liat mereka mesti besar di negara model begini. Pindah yuk😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s