.bertarung hidup.

Standard

Sabtu lalu, kami pergi ke rumah Nin, yang baru lahiran anak kedua. Lucu banget rasanya deh ketika menyadari akhirnya sampe juga pada tahap: berkunjung ke rumah teman SMA saat sekarang, dimana anakanak ribut sliweran sementara orang dewasa pada ngobrol.😀

Sebenernya Nin udah lahiran sekitar 10 hari, tapi kita baru nengok sekarang karena waktu itu sempet denger bahwa di rumah sakit keadaannya gak stabil. Jadi, pas dateng ke sana, sebagian besar dari kita gak punya pengetahuan apaapa selain “waktu itu dia sempet kenapa-napa“. Tapi gak tau jelas kenapanya itu kenapa (ini gimana sih?😆 )

Ketika peserta udah lengkap, mulailah Nin dan Marcel cerita mengenai keadaannya pasca melahirkan. Untuk detilnya gak usah gw ceritain di sini yah. Tapi, sebagai gambaran, semua mukanya langsung shock, gw eluselus bekas cesar, dan, yang terpenting………… kami semua bersyukur banget karena hari itu Nin udah bisa ketawatawa lagi dalam keadaan sehat di antara kami semua.

Flashback ke kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Ketika dokter menanyakan gw mau lahiran normal atau cesar. Terus terang hal paling besar yang ada di kepala gw saat itu adalah takut sakit. Which is, of course, ya bego aja. Namanya ngelahirin ya pasti sakit mau pake prosedur apa juga.😛

Pada akhirnya, karena kondisi plasenta yang terlanjur menua dan gak optimal memberi makan, bayi 37 minggu yang belum masuk jalan lahir, dan lainlain, diputuskan gw akan melahirkan dengan cara cesar. Bahkan sampe hari ini, gw masih inget gimana gw subuhsubuh jalanjalan di depan RS menuju UGD, gandenggandengan, ketawatiwi sama si Dals — dengan kesadaran penuh bahwa beberapa jam kemudian, kita tidak lagi berdua, melainkan tiga.

Dengan ceritacerita kelahiran sahabatsahabat gw sebelumnya, yang lancarlancar aja, sepertinya saat itu gw juga somehow yakin bahwa gw bakalan baikbaik aja. Apalagi malem sebelomnya juga udah sungkem minta maaf sama emak gw… Hehehe.

Kembali ke masa sekarang, di tengahtengah apartemen Nin, saat semua orang lagi hening meresapi ceritanya dan suaminya. Di situ awalnya gw kembali menyadari bahwa bagaimanapun caranya, segimana keren atau leceknya dia pas hamil, seorang ibu akan (selalu) bertarung hidup saat melahirkan anakanaknya.

*pulang, sungkem sama mamah*

*peluk Sabia dan Dals*

……. dan selalu ada kemungkinan dimana suatu keputusan bisa mengakibatkan kita tidak dapat lagi melihat wajahwajah yang kita cintai.

T________T

Walopun udah lewat seminggu, cerita Anin masih memberikan efek campur aduk kalo gw ingetinget lagi. Mudahmudahan selalu menjadi pengingat bagi gw untuk tidak (lagi) menjadi ignorant terhadap orangorang yang gw cintai…..

…… apalagi terhadap hidup.

Selamat pagi🙂

6 responses »

  1. Saya selama ini cuma jadi silent reader dan selalu senang dengan cerita-cerita mbak Smita. Tapi cerita ini begitu menyentuh jadi pengen komentar dan memperkenalkan diri. Selain itu, berhubung nama saya juga Anin *loh kok jadi narsis*, hehe..
    Memang kadang-kadang kita gak sadar betapa berharganya orang-orang (yang mencintai dan dicintai) di sekitar kita, we take them for granted. Cerita mbak Smita juga jadi ngingetin saya buat selalu bersukur untuk semua cinta yang mengelilingi saya *jadi mewek*, hiks…

    • yes, we take them for granted bener… dan yang membuat gw sedih, kadang nih sepenuhnya sadar kalo kita take them for granted, mellowmellow sendiri pas jauhan, begitu deket tetep aja gak bisa memperlakukan dengan (lebih) baik… halhal kecil tetep bikin ribut.

      huhuhuhuhu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s