.children are our future.

Standard

Judul postingan gw kali ini pernah dipake untuk sebuah acara di SMA gw bertahuntahun silam. Kenapa gw menggunakan judul itu kali ini… Hmmmm, ceritanya panjang. Jadi mesti dirunut satu persatu yaaa..

Jadi begini…..

Beberapa bulan silam, gw sempet merasakan resah berkaitan dengan tempat kerja gw. Agak ribet sih. Gw bukannya resah dengan kerjaan gw, juga gak ada masalah dengan kantor gw. Tapi tibatiba kepikiran bahwa mungkin apa yang dihasilkan oleh kantor gw, pada proses produksinya dan/atau ketika barangnya sudah jadi punya kans dalam mempengaruhi stabilitas sumber daya alam yang lain.

Pikiran itu muncul sekonyongkonyong, tapi menimbulkan efek yang lumayan panjang di hati dan kepala. Terus terang sempet resaaaaaaah banget. Kerja jadi gak nyaman, takut karma. Di sisi lain, kerjaan itu anugerah juga. Jadi bingung tapi mau cerita ke orang kok ya takut disangka lebay. Hehehehe…

Akhirnya pun kemudian ngobrol sama Mihun. Terus sama bokap. Terus sama Dals. Dan akhirnya sama kakakku. Mengumpulkan semua opini dan masukan. Dan akhirnya disadarkan lagi bahwa segala hal terjadi untuk satu alasan. Itu termasuk kenapa gw bekerja di sini. Disadarkan lagi juga untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa, dari diri kita sendiri. Khususnya jika berkaitan dengan menjaga bumi. Semuanya ibadah. Kerja sebaik mungkin, seikhlas mungkin. Let God do the rest.

Keresahan pertama: Kelar.

Kemudian, harihari gw berlanjut. Kadang diiringi beritaberita sedih, jelek, buruk yang berkaitan dengan anakanak – baik sebagai pelaku atau sebagai korban. Beritaberita ini membuat gw parno tak berujung.

Lalu datanglah suatu hari di mana gw ikutan meeting sama orang dari yayasan tertentu. Dia dari New Zealand dan menjelaskan tentang program Job Shadow. Program Job Shadow ini udah dari tahun lalu ada. Intinya, ada suatu hari di mana kita akan bertugas menjadi mentor buat satu orang anak SMA tertentu. Di hari itu, kita akan bekerja seperti biasa, tapi anak ini akan ngintilin terus. Baik saat di meja sampe ikutan meeting. Setelah itu akan ada sesi tanyatanya dan ngobrolngobrol, sehingga di situ kita bisa ngasih tau dia mengenai halhal yang dirasa perlu diketahui dan dimiliki di dunia kerja.

Gw suka sih program itu. Di sini kita diberi kesempatan untuk memotivasi orang dan membukakan matanya. Tentu saja kalo ngomong mesti dipikirpikir, karena gak tau apa yang bakalan masuk dan apa yang enggak. Hehehe.

Eniwey, balik ke program dari si bapak New Zealand ini. Selain Job Shadow ini ada juga program lain. Gw lupa namanya apa, tapi kaya dipilih SMA dan SMK tertentu untuk dijadikan semacam proyek percontohan mikrobisnis gitu.

Jadi, mereka kaya bikin “kantor kecil” yang memproduksi apa gitu. Nah kemudiannya si “kantor kecil” dan produksinya ini diikutkan kompetisi dengan SMA dan SMK lain dari segi hasil produksi dan cara menjalankan organisasinya. Kompetisi ini ternyata ada sampe tingkat regional loh. Jadi, bukan gak mungkin akan bersaing dengan tingkat SMA dari Thailand, Vietnam, Singapore dan sebagainya.

Dijelasin begitu, I was like, wow.

Terus hati tentram dikit karena……. berbulanbulan lalu, gw sempet resah karena ngerasa ada kontribusi seandainya apa yang diproduksi kantor gw bisa mempengaruhi keseimbangan alam, tapi ternyata di balik itu juga ada kontribusi dalam memicu produktivitas anak bangsa juga loh😛 Jadi berasa imbang gitulah..😛

Fast forward ke berita terkini…..

Semua orang tau kalo belakangan ini lagi ada ributribut antara seseorang dengan banyak gelar yang kemudian nyangkut ke keluarga seorang musisi. Pertamanya, seperti semua orang, gw ikutin beritanya. Kemudiannya setelah dimention sama si banyak gelar, aku jadi takut males karena jadi panjang banget.😛

Tapi ya namanya rame ya, di Timeline masih seliweran aja RT mengenai kasus itu. Dan belakangan ini gw melihat RT-an justru lebih banyak tentang anakanak dari kedua tokoh tersebut.

Gw di sini gak mau ngebahas si tokohtokoh yang lagi bermasalah itu, tapi gw mau ngebahas anakanaknya.

Dari twit anakanak kedua belah pihak, harus diakui gw kagum. Kagum dengan apanya? Kagum dengan kemampuan mereka mengendalikan emosi. Beneran deh.

Kalo gw jadi anak yang bapak ibunya diudakudak di depan umum, jangankan dalam usia semuda mereka, sekarang aja gw masih bisa ngamuk dan nyolot. Sedangkan kalo misalnya gw jadi anak yang orangtuanya secara sporadis nyerang orang lain, gw juga gak yakin gw bisa cukup berjiwa besar untuk minta maaf sama yang bersangkutan DI DEPAN PUBLIK.

Anakanak ini, dengan usianya yang relatif muda (dan biasanya sedang masanya meledakledak) ini, ternyata justru lebih dewasa daripada sebagian besar orang yang bahkan lebih tua dari gw. Dan itu gw salut banget.

Maka, mengumpulkan dan mengamati segala hal yang terjadi belakangan ini, gw jadi menyimpulkan sesuatu. Yaitu, bahwa sebenernya masih ada harapan buat bangsa ini. Karena generasi mudanya juga banyak yang baik dan produktif. Tapi mungkin publikasi tentang mereka kurang. Hehehehe.. Atau yang nyampe ke kuping dan mata gw kebanyakan berita jelekjelek mulu.

Yah, semoga ya, semoga beneran masih banyak yang bisa memberikan kebaikan dibanding kejelekan. Semoga anakanak sekarang, baik yang udah jadi generasi Sevel maupun anakanak kamikami ini yang masih pada piyik, semuanya bisa selalu diberikan aura positif supaya kelak di masa depan bisa memberi dampak positif dan berguna bagi orangorang sekitarnya.

Dan semoga karena itu kelak kita semua bisa hidup lebih tentram, aman, nyaman, damai.

Amiiiiiiiiiiiin.🙂

2 responses »

  1. amin.. :’)
    kan katanya ‘every little tiny action counts’..
    termasuk nulis post ini.. :p
    apalagi ngegedein sabia pake aura positif, pasti itu itungannya ‘gede’ BGT..🙂

    suka deh klo mbak poppies posting yg gini2..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s