.”curhat dong maaaah…”.

Standard

(Brace yourself for another postingan emakemak)

Hehehehe.. Buat yang suka bangun pagi dan tibatiba di tivi ada siaran Mamah Dedeh pasti tau deh kalimat itu. Berhubung gw gak mao curhat terus berasa dimarahin di tivi nasional, lebih baik aku curhat di blog-ku sendiri sajalah.šŸ˜›

Sekedar catatan, curhatan ini murni curhat jadi bukan untuk mendiskreditkan siapapun.

Awalnya karena lagi bloghopping. Terdamparlah aku di blog dan postingannya Ibu yang satu iniĀ , garagara itu gw jadi inget bahwa gw juga punya pengalaman dan pendapat yang ingin gw salurkan mengenai breastfeeding dan kampanyenya.Sebagai emakemak berhati halus (baca: sensi), tulisan di blognya Gemma itu banyaaaaak banget yang gw amini.

Jadi begini…..

Menjadi Ibu Menyusui, seperti yang pernah beberapa kali gw ceritakan gimana jungkirbaliknya di tulisantulisan sebelumnya, tidaklah mudah. Dulu, ketika hamil udah positif banget, semangatĀ ’45 mau nyusuin eksklusif minimal 6 bulan. Walopun bloon, gak tau banyak, tapi semangat itu ada dan sungguh membara di dalam dada.

Ketika kemudian anaknya lahir, ada halhal tertentu yang tadinya enggak ada di kepala kita, tibatiba muncul sebagai kenyataan yang harus diterima. Seperti air susu belum keluar padahal bayi sudah butuh, usaha belajar menyusui dari ibu dan anak yang bisa jadi membuat keduanya frustrasi karena samasama belum menemukan cara yang bisa membuat nyaman, sampai bayi demam karena dehidrasi. Semua hal di atas gw alami di awalawal kelahiran Sabia.

Ketika seiring berjalannya waktu, ibu dan anak udah mulai bisa “klik” dalam proses menyusui, kenyataan kembali menggigit lagi. Waktu cuti perlahanlahan terkikis, dan si ibu mesti mempersiapkan mental dan hati untuk kembali bekerja dan meninggalkan anak tercinta. Di sini si ibu perlu mulai belajar lagi agar bisa meninggalkan asupan ASI yang dibutuhkan si anak pada saat mereka gak bisa samasama. Maka dikeluarkanlah berbagai perangkat pompaĀ ASI untuk memenuhi kebutuhan itu.

Ibaratnya main game, ini adalah level kedua. Kita yang udah ngerasaĀ  udah bisa melewati level pertama, di mana anak berhasilĀ menyusui secara langsung, pun jadi PD karena merasa selama ini ASI cukupcukup aja.Ā Terbukti dariĀ anak yang perut kenyang-hati riang. Ketika usahaĀ pompa memompa ini dimulai dan ASI yang dihasilkan cuma ngebasahin pantat botol, tibatiba semua keyakinan itu runtuh. Frustrasi pun datang kembali.

Sekali lagi, ibarat main game, kita – sebagai Ibu, pun akan mencari segala macam cara supaya bisa melampaui level ini dengan sukses. Selain mengharapkan dukungan dari keluarga deket, mulai konsultasi ke temen, ikutan milis, cari blog ibuibu yang sedang dalam fase yang sama, bahkan sampai konsultasi ke profesional mengenai hal ini.Ā Lama kelamaan, azas bisa-karena-biasa pun terjadi. Si ibu mulai bisa mengirangira berapa konsumsi yang harus disediakan untuk si anak selama jam kerja dan karena itu berapa jatah minimal yang harus ditinggalkan selama seharian itu.

Berhubung waktu itu gw baru belajar mompa sebulan sebelom masuk kantor lagi, akibatnya gw jadi kejar tayang. Mompa hari ini, buat diminum besok. Bangun ekstra pagi dan segala jenis kerempongan lain untuk selalu menyempatkan pompa demi memenuhi kebutuhan ASI Eksklusif 6 bulan yang dibutuhkan anak gw.

Program ASI Eksklusif ini sendiri menurut gw adalah program global yang sangat bagus — dan tentunya akan memberi dampak yang amat positif bagi perkembangan anak. Dan, logikanya,Ā kalo perkembangan anak baik, ibu bapaknya kan pasti seneng juga, maka terciptalah keluarga sehat dan bahagia (amin). Maka haruslah kita dukung.

Kalau masalah mendukung program itu, sebagai pelaku, tentunya gw sangat mendukung pemberian ASI Eksklusif, terlepas dari berhasil atau tidaknya gw untuk menjadikan anak gw benerbener cuma ASI doang atau enggak selama 6 bulan pertama hidupnya.

YangĀ disayangkan adalah adanya orangorang yang BEGITU fanatik dan mendewadewakan program ASI Eksklusif ini, sehingga akhirnya menjadi sebuah kampanye negatif yang (tanpa disengaja) menyakiti hati dan mengintimidasiĀ ibuibuĀ yang ASInya gak sebanyak merekamereka yang ASInya berlimpah.

Gw setuju banget sama pernyataan Gemma dalam tulisannya ini,

“Menurut saya, mengaitkan konsumsi susu sapi untuk anak sapi dan kemewahan label eksklusif (yang kesannya setetes air saja masuk ke mulut maka gugur sudah gelar eksklusif) akhirnya dapat menjadi bumerang tersendiri untuk kampanye menyusui.”

Ini bener banget.

I love and support breastfeeding, it’s the holier-than-thou pros that I cannot stand! There, I said it.

Kita ini sebagai Ibu baru, adaptasi dari non-mom menjadi mom aja udah berat. Ini seperti ditambahin beban baru yang seolah menyatakan bahwa, “KaloĀ kita gak bisa ASI Eksklusif,Ā kita gagal sebagai Ibu” atau “Kita dosa karena gak memberikan anakĀ kita haknya..” dan berbagai ultimatum lainnya.

Pada masa di mana gw udah mulai down banget tuh, di 5 bulanan ke atas, gw bilang sama si Dals,

“Kesannya tuh kalo kita gak 6 bulan ASI Eksklusif itu sepertinya udah, gitu. Kelar. Padahal, setelah 6 bulan itu, anaknya masih ada kan? Bukan berarti kalo gak seperti itu jadi game over.”

Dan, memang, terus terang aja, terutama bagi emakemak sensi macam gw, orangorang fanatik itu — meskipun mungkin maksudnya baik, kadangkadang terasa kaya nge-bully.

Itu juga sebabnya ketika gw memberi tau tementemen gw yang baru mau lahiran atau yang baru lahiran tips untuk ASI, ya gw secukupnya ajah. Sekedar ngasih tau agar mereka gak melakukan kesalahan yang gw lakukan waktu itu, agar mereka lebih berhasil. Tapi ya udah gitu doang. Karena segala yang berlebihan itu mengganggu. Dan ibu abis ngelahirin itu sensinya setengah matik.

Terlepas dari segala curhatan ini, gw memahami bahwa sudah sewajarnya semua ibu akan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dan apapun yang diberikan itu sudah dilandasi pikiran yang matang.

Jadi, ketika mereka mau memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan atau sampai 2 tahun pun, itu adalah dedikasi yang terbaik yangĀ hendak mereka berikan pada anaknya. Sama halnya ketika ada ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif, tentunya dia punya argumentasi yang kuat untuk itu, terutama pada ibuibu yang pilihannya bukan lagi “ASI atau sufor?” melainkan “Minum atau kelaparan?

Intinya saling menghargai aja sih. Gak perlu saling tuding:

“Ya jelas aja dia ASI Esklusif, kan dia Stay-At-Home-Mom, anaknya bisa nyusu kapan aja, gw kan kerja!”

“Ya walopun dia Working-Mom, tapi kalo mau repot pasti bisalah ASI Eksklusif, masalah niat ajah!”

dsb… dsb…

Gak perlu kaya gitu. Karena balik ke esensinya, ini untuk kebaikan anak dan keluarga masingmasing bukan masalah who’sĀ the better mom.

Menjadi orangtua bagi anak kita adalah proses belajar yang unik dan tidak akan pernah berhenti karena kebutuhan anak dan kemampuan setiap keluarga tentunya sangat berbedabeda.

And although there’s no such thing as being a perfect mother, the only way to be an “almost-perfect” mom is to realize that, in life, sometimes things are imperfect.

Yet it’s still alright.

That’s allšŸ™‚

10 responses »

  1. sempat ngerasain ini

    jadi PD karena merasa selama ini ASI cukupcukup aja. Terbukti dari anak yang perut kenyang-hati riang. Ketika usaha pompa memompa ini dimulai dan ASI yang dihasilkan cuma ngebasahin pantat botol, tibatiba semua keyakinan itu runtuh.

    pas lomba menyusui.. dan kaget liat emak-emak lain sebotol penuh. Tapi ya gitu diajak senang saja. Ga ASIX kog.. walau tetap nyusuin samapai 2 tahun. Yang penting kan emak, bapak, dan anak bahagia. Kalau jadi stress buat apa sih. Punya anak dan ngebesarin anak kan pengalaman yang membahagiakan. Bukan bikin stress. Toh dikasi sufor bukan berarti emaknya kurang mencintai kan, apalagi kalau emaknya sudah berusaha semampunya. Daripada anaknya kelaparan, nangis terus, dan ga bisa istriahat. Pokoknya dibawa bahagia aja. Anak bahagia kan doa semua orang tua.

    *panjang ternyata*

    • Salah satu yang gw harus syukuri adalah saat ini gw adalah satusatunya busui di kantor, sehingga ga ada tandingan pompa memompa. Kalo misalnya nanti punya anak kedua dan ada temen memompanya pun sepertinya (mudahmudahan) kita akan punya jadwal pompa yang berbeza yah. Tapi emang bener sih, semestinya dinikmati aja..

      Gw termasuk contoh yang SETRES dalam 6 bulan pertama karena “tekanan” untuk ASIX, dan gw nyesel sekarang, karena.. hey, there’s SO MUCH MORE than just THAT gitu loh dalam 6 bulan pertama. Aslik, nyesel gw.

      Sekarang ketika udah lepas 6 bulan, dan gw mulai campur, dan anak gw mulai makan, gw lebih nyantai (walo tetep punya target pompaan sehari minimal berapa), but I’m happier. Berasa banget.

      Jadi gw selalu pengen berbagi ke tementemen yang lain supaya gak mengulang kesalahan gw dulu. Ketika stress, akhirnya cranky, dan mood sangat berpengaruh sama produksi susu, akhirnya jadi seret. Kalo dibawa senang, akan berpengaruh baik terhadap semuanya: ya susu, ya kebahagiaan partnership jg sama sumami.. jadi ga marahmarah/nangisnangis mulu.. hehehehe.. Bener banget kata lo:

      “Yang penting kan emak, bapak, dan anak bahagia. Kalau jadi stress buat apa sih. Punya anak dan ngebesarin anak kan pengalaman yang membahagiakan. “

      Jangan sampe hanya karena ngejar ke-eksklusif-an ASIX, anak dibiarinin laper. Akhirnya jadi bias gelar ASIX itu jadi gak jelas untuk kebaikan anak apa hanya untuk menuhin ego ibunya.. Hehehe.

  2. gara2 perdebatan gini gue sampe mikir kalau hamil ga bakal mau buka2 forum/twitter/milis dsb dsk. thanks for sharing, smiw. in the end the only thing that matters the most memang our own family ajašŸ˜€ *hugs*

  3. couldn’t agree more. pas follow twitternya grup ibu menyusui, sempet shock pas liat twitpic ASIP yg berbotol2. bukannya tersemangati, malah minder abis. akhirnya unfollow. daripada merasa ter-zalim-išŸ™‚.
    akupun, ga ASIX tapi masih menyusui sampe sekarang. anak kenyang ibu senang bapakpun riang.

  4. untung gue punya temen2 nyata kaya lo yang ga ikutan fanatik.

    so i know when my time comes to have a baby… there are some solid people with valid experiences to turn to -beside my mom, that is.

    *peluk*

  5. @ k0nnyaku: sebenernya milis itu bermanfaat kok, Ste.. kita bisa belajar banyak dari situ. Tapi perlu diingat bahwa orang bedabeda, mungkin ada beberapa opini yang cara penyampaiannya gak bisa lo terima. Jadi yaaa.. pinterpinternya filter biar dapet yang berguna buat diri kita sendiri.. hehehehe..

    @ icha: hahahahahaahaha.. gw juga karena gw tidak cukup kuat imanšŸ˜›

    @ miund: ya namanya juga bestie kan berbagi dong bestiiieee…. you know who you are :*

  6. …Karena balik ke esensinya, ini untuk kebaikan anak dan keluarga masingmasing bukan masalah whoā€™s the better mom…

    ini gw stuju bangetttt…ntar kalo udah tiba waktu nya gw menyusui, bakal inget kalimat di atas, smit…tengkyuu for sharing…

  7. Halooo..
    salam kenal ya..

    jujur pertama kali berbinar-binar ada yg ngelink blog dalam postingan, maklum blogger pemula (dan pemalas), giliran ada yg ngelink bahagianya tiada tara!

    Seneng juga ada yg sependapat di dunia persusuan ini, kirain cuma aku aja yg ngerasa aneh ngeliat kampanye-kampanye negatif itu..

    Jujur aja, aku sbg penggemar berat nyusuin bocah (udah 2th4bln ngga bisa nyetop karna maless), merasa risih sama orang-orang yg fanatik & ngejudge sesuatu hal yg tidak dijalaninya tentang asi-asi-an ini..
    Tapi nanti mudah2an ke depannya bisa jadi kampanye yg simpatik ya & ngga bikin orang merasa terdzolimi (duile, serem amiir) dengan segala kesempurnaannya, amien..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s