.so long…..

Standard

Gw masih inget sekali tiga pembicaraan terakhir gw sama dia. Ketigatiganya dilakukan hampir empat bulan yang lalu.

Sebelum gw melahirkan:

“Nanti kalo gw mulesmules pas masih di kantor, gw minta tolong lo anter gw yah ke rumah sakit BSD loh.. Gw gak mao ngelahirin di sini..”

“Iyeeee, gampang!”

Setelah gw melahirkan:

“Selamet ya, Ta! Untung lo cuti kemaren, tautau brojol aja hari ini.. Jadi kan gw gak perlu ribet gendong orang jeritjerit..”

“Hahahaha.. Tengkyu yah!”

Setelah gw masuk setelah cuti melahirkan:

“Kenapa? Sakit apa?”

“Ga tau, Ta.. ini awalnya sakitnya begini tautau merembet ke sini, sini, sini..”

“Maaf ya.. Gw baru tau. Baru masuk kemarin. Banyak istirahat yah! Cepet sembuh jadi bisa kerja lagi..”

“Iya. Doain gw yah!”

“Pasti.”

Hari berganti hari. Minggu jadi bulan. Dan mungkin tanpa disadari, gw selalu punya keyakinan bahwa dia akan sembuh dan kembali bekerja lagi. Gw tau dia masih sakit, tapi karena gw yakin (atau berharap atau pengen) dia sembuh lagi, makanya gw belom nengok. Ketika gw tau dia kembali ke rumah pun, gw juga nggak jenguk dengan pikiran gw gak mau ngerepotin dia dan keluarganya kalo gw dateng.

Tibatiba dua hari yang lalu, tementemen kantor gw yang lain ramerame mau nengokin dia karena sudah kritis. Gw pengen banget ikut tapi kemudian ada miting yang selesainya terlambat sehingga ketika kelar gw udah ditinggal. Sesuatu yang nantinya akan menjadi hal yang gw salahkan karena menghalangi gw menjenguk dia.

Kemarin pagi, hari gw dimulai dengan kabar dia sudah berpulang.

Pada saat itu juga gw membenci diri gw sendiri sekaligus mencari kambing hitam yang bisa disalahkan atas kenyataan gw tidak menjenguk dia sama sekali di saat dia sakit. Seharian itu, dan bahkan sampe saat gw nulis ini, leher gw tersumbat.

So this is how a lousy friend feels when she lost a friend. 😦

Temen gw ini adalah supir kantor gw. Salah satu temen terbaik gw selama gw bekerja di Negeri Kabut. Dari awal gw kerja di sini, kami sudah berteman. Kalo kebetulan gw dianter dia ke manaaaa gitu, dia suka cerita banyaaaak banget tentang hidupnya dia. Tentang dia dan istrinya sekarang atau saat masih pacaran, tentang anakanaknya, tentang keluarganya, tentang banyak hal…

Itulah sebabnya ketika gw ketemu istrinya kemaren, gw pengen banget nangis dan minta maaf. Tapi gw gak bisa nangis, karena tidak pada tempatnya. Atau mungkin karena gw masih sangat kesel sama diri gw sendiri karena sudah menjadi teman yang tidak baik untuk dia.

Hari itu, gw belajar sesuatu tentang waktu. Yaitu sebenarnya waktu tidak kejam. Dia hanya menjalankan fungsinya, yaitu berjalan detik demi detik menjadi bulan menjadi tahun dan seterusnya.

Kita yang harus bisa mengendalikannya.

Jangan pernah berharap bahwa waktu bisa berputar dan kita bisa memperbaiki hal yang salah. Jangan pernah berharap untuk bisa menghentikannya. Karena hakikat waktu tidak dan tidak akan pernah seperti itu.

Hari itu, gw belajar bahwa saat ini kita semua berjalan dalam waktu yang sama. Hanya saja tergantung masingmasing bagaimana memanfaatkan waktu yang ada. Barangkali si A, di suatu tempat di sana, menggunakannya dengan baik, dengan cara menunjukkan dan memberi tahu kalau dia perduli dan sayang dengan orangorang di sekelilingnya. Di sisi lain, mungkin ada si B yang berharap orangorang sekelilingnya bisa tau dan ngerasain aja kalo dia perduli dan sayang tanpa perlu dia tunjukkan atau beri tahu.

Terhadap temen gw itu, kemarinkemarin, ketika masih ada waktu, gw menjadi si B. Gw berharap dia tau kalo gw doain dia cepat sembuh dari jauh, tanpa menunjukkan gw benerbener perduli dengan cara datang menjenguk dan memberi perhatian.

Dan gw menyesal.

Menyesal karena sebetulnya gw diberi waktu yang sama panjangnya dengan temanteman yang lain, yang menggunakannya untuk menyempatkan diri menunjukkan perhatian mereka dengan cara yang lebih kongkrit dari yang gw lakukan.

 Ada kalanya orang ingin mendengar apa yang ingin dia dengar. Ingin diyakinkan bahwa dia diperhatikan, disayang, dirindukan meskipun kita mengasumsikan halhal itu sudah bisa dirasakan.

Maka, mari kita samasama menggunakan dan memanfaatkan waktu yang diberikan pada kita untuk lebih memberikan perhatian dan menyampaikan apa yang seharusnya kita katakan kepada orangorang terdekat kita supaya kita tidak akan menyesal nantinya.

Teman, terima kasih sudah selalu bisa memberi pelajaran hidup buat saya. Aku betulbetul menyesal dan minta maaf atas halhal yang sudah gw lakukan maupun yang belom dan tidak saya lakukan sama kamu.

Rest in peace, dear friend…

Semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik di atas sana. Amin.

One response »

  1. you’re not a lousy friend. life gets in the way. and can we blame life? ga bisa.

    memang apa pun yang kita bilang saat ini akan kedengaran seperti pembelaan, dan jika kita mengatakannya keras-keras, maka jangan-jangan kedengarannya seperti ‘benar’. tapi, Tuhan yang tau kan Smiw, apa yang sedang terjadi dengan hidup kita. kenapa kita gak sempet-sempet mau nengokin orang, kenapa kita sebenernya pengen tapi ada aja halangannya.

    he’ll understand. trust me. mungkin emang udah diaturnya lo ga boleh ketemuan di saat-saat terakhirnya karena dia (atau alam ini) ingin lo inget dia saat dia sehat.

    so, celebrate his life. memories that you share together as friends. remember him dearly. you’ll feel better. and thank God Almighty that he’s now in a better place🙂

    sekali lagi: no, you’re not a lousy friend. it’s just a matter of bad timing and life is never perfect. don’t be too hard on yourself yaaaa *peluk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s