.bahasa menunjukkan usia.

Standard

Gw masih inget masamasa di mana, jaman gw, uhm, masih lebih muda, dan emak gw masih sering jadi konselor sekolahan atau berhubungan dengan klienklien remaja, dia sering nanyananya arti dari istilahistilah yang lagi sering dipake saat itu.

Misalnya,

“Dek, jayus itu artinya apa sih, Dek?”

… dan halhal semacam itu, supaya dia bisa membangun relasi yang baik sama klienklien remajanya dia saat itu.

Pada jaman itu, selain emang gwnya juga yang suka ngaco kalo berbahasa.. (maaf yah, tapi ini karena saya cinta bahasa, justru..😛 ), bagi gw bukan suatu hal yang sulit untuk menebak arti suatu kata baru tertentu bahkan meskipun itu pertama kalinya gw denger. Biasanya gw juga gak terlalu yang langsung nanya, tapi nyoba mikir sendiri dulu artinya apa – dengan cara menganalisa kalimatnya, baru ngirangira artinya. Dan umumnya perkiraan gw tepat, jadi gw pun bisa menggunakan katakata baru itu dalam kalimatkalimat gw juga… Atau juga menciptakan katakata lain yang akhirnya dipake oleh tementemen gw juga..😛

Mungkin karena gw emang suka ngutakngatik bahasa, secara sadar dan gak sadar, halhal kaya gitu enggak pernah menjadi masalah dalam usia remaja gw. Perhatiin deh, bahwa (kayanya) berbagai macam istilah itu muncul dan berkembang di saat usia belasan sampai ke tengah duapuluhan. Dan pada jamannya, istilahistilah itu membuat kita lebih mudah untuk fit in ketika ketemu orang baru, yang seusia, dan sebagainya, simply because we speak the same language.

Tapi namanya juga hidup, makin lama makin bergeser. Satu hal yang gw sadari adalah ada kemungkinan bahwa kita akan stuck dengan perbendaharaan istilahistilah masa lalu yang kita miliki, sementara di luar sana (baca: di antara anak belasan sampe mid 20an itu) berbagai istilah baru terus berkembang.

Di sinilah terjadi generation gap.

Gak percaya?

Orangorang yang lebih tua dan gak mau mengikuti (atau gak tau atau gak mau tau) perkembangan istilah itu mungkin saja masih menggunakan kalimat (dan nada yang gitu-deh dari) “mau tauuuuuuuu ajah..” dan bukannya “kepo“. Dan kita pun jadi kasian beneran sama orangorang yang masih menggunakan “kasian deh lo!” di depan para ABG jaman sekarang, karena alihalih diterima malah makin keliatan sok asik dan melegitimasi keTUAannya dia..😛

Tapi jadi kemudian keadaannya menjadi kompleks.

Karena, sebagai orang yang (biasanya) menyadari bahwa udah gak jamannya lagi, meskipun pengen tau setengah mati, tapi gengsi juga mau nanya…

Kepo apa sik?”

Mager apa sik?”

Ya gaaaaaaak? Soalnya jadi ketauan TUAnya.. Huahuahauhahaha..

(Oh, gak perlu kasitau gw, karena gw udah tau artinya kok.. 😛 )

Terus akhirnya nebaknebak sendiri, dan menyadari kemampuan asosiasi kata udah gak sebagus dulu jadi akhirnya butuh waktu lebih lama untuk paham artinya.. (oke, kalo udah nyerah maka nanya ke temen yang punya sepupu masih kecil, biar dia yang nanyain.. Hihihii..) Terus kalo udah tau mulai sok ikutikutan pake di kalimat seharihari.. Meskipun agak poser yah, kalo dipake di depan abegeh sekarang, jadi akhirnya di antara temanteman seusia sajah.. Hihihihhi..

Barangkali nanti kalo ponakanponakan gw dan anak gw udah abegeh nanti istilahnya pada barubaru lagi ya.. Terus abehe jaman sekarang juga mesti tanyatanya lagi..

Garagara mikir ini gw jadi mikir bahwa pada halhal tertentu, kita tidak dapat menyangkal pergeseran waktu. Bahasa udah beda, pemikiran udah beda, prioritas beda, kerut wajah beda (ouch!). Hihihi. Barangkali memang itulah esensi daripada kehidupan. Beberapa hal minor yang bergeser dan menjadikannya mayor🙂 Gak guna mo quarter life crisis atau krisis umur tiga puluh, empat puluh, lima puluh dan seterusnya, hidup akan berjalan terus dan kita tidak akan lebih muda lagi daripada hari ini..🙂

Maka, apapun itu mari kita menikmati setiap detik dan langkahnya dan selalu menjadi yang terbaik dengan menjadi diri kita sendiri dan selalu menyayangi orangorang yang juga menyayangi kita.

Sekian dan terima kasih.

Daaaah, Ciiiin!  *tetep* *maksa*😛

9 responses »

  1. Dan lucunya, bahasa org seusia kt jg beda sama bahasa abg. Coba deh lo ngobrol pake bahasa binan, pasti mrk yang… Apaan siiiihhh???

  2. @ shasya: CAPCUS kan lo udah pernah tanya dan kita jawab di Twitterrrr.. makanya dicatet kalo ingatan udah mulai melemah.. hihihihhi😛

    @ K 3 N 1 K: sama sama yaaa.. makasih banyak udah baca🙂

    @ mels: yaahahahaha kalo pake bahasa binan belom tentu juga sik yang seumuran sama kita PUN fahaaam..😛

    @ marisantosa: ELO akan menjadi kamus gw untuk bahasabahasa ini karena lo kan gak malu nanya sama sodara lo.. HAHAHAHAHHA..😛

    @ ste dan sandy: MALES GERAK… ya kaaaaaaaaaaaan?😉

  3. Uhm, tapi aku bangga ama kamu, karena kamu adl pencipta kata “Gengges”..
    Oke deh kaka, ga kuku lah yauw..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s