.kalau saja…..

Standard

Kalau saja waktu itu, kita gak ada di YM conference yang sama barengbareng sama anak Psiko yang berisik lainnya – di suatu hari setelah libur lebaran yang mana cuma sedikit karyawan teladan yang masuk kantor di semua kantor, barangkali kita gak pernah tau YM ID masingmasing.

Kalau saja itu gak terjadi, kamu juga enggak bakalan pernah tau nomer CDMA aku.

Kalau saja itu gak terjadi, barangkali kita enggak akan pernah telfontelfonan di jam kamu pulang kantor untuk nemenin kamu macet, ngobrolin halhal standard seperti musikmusik dan filmfilm dan printilprintil pertemanan lainnya.

Kalau saja itu gak terjadi, aku gak mungkin tibatiba azas nebeng ke kawinan temen kita waktu itu..πŸ˜›

Kalau saja itu gak terjadi, barangkali juga kemudiannya kita gak mulai sering ngobrol di malam hari juga.

Kalau saja itu gak terjadi, kemungkinan besar kamu enggak bakalan ngajak aku untuk nonton bareng di suatu hari Minggu – yang mana pas itu aku lagi janjian sama tementemenku yang pada bawel dan brisik banget pengen liat yang mana yang ngajak aku nonton.. Meskipun aku keukeuh, “apa siih orang cuma nonton ama temen kuliah gw doaaang!” Meskipun sih, sebenernya sejak telfontelfon malam hari itu, dalam hati mulai mikirmikir dan denial juga.. Hehehe..

Tapi tetep aja, kalau saja itu gak terjadi, kayanya kita gak bakalan tetep ngobrol di telfon dan ngomongin makanan yang akhirnya sampe ke tempat makan iga yang menurut aku paling enakkkkk selain Tony Roma’s.πŸ˜›

Kalau saja itu gak terjadi, tentunya kamu gak bakalan ngajakin aku untuk wisata kuliner nyobain iganya Daeng Tata, sambil bilang, “It’s a date?” yang aku jawab, “It’s a date.

Kalau saja itu gak terjadi, udah pasti kita gak bakalan jalanjalan kaya waktu Sabtu malem waktu itu. Di mana kita makan di Daeng Tata (dan saosnya muncrat dikit kena mata aku), terus ke Aksara Kemang, terus ke Bakoel Koffie sambil ketawatiwi ngakakngakak pol karena pergi-sama-temen-kuliah-doang-ngapain-juga-jaim.. πŸ˜›

Tapi kemudian jam setengah sebelas malem, ngakakngakak pol aku terpaksa berhenti sejenak karena gak pernah nyangka bahwa malem itu aku bakal mendengar sesuatu yang gak pernah aku bayangin sebelomnya. Langsung campur aduk semuanya, karena kaget gak nyangka tapi juga seneng karena berarti mikirmikirnya gak salahπŸ˜› Pulang dari situ, langsung kepikiran dan gak bisa tidur sampe setengah empat pagi.. Hihihihi.. (walo kemudiannya tetep tau bahwa kamu, sang penidur profesional, tetep bobo tepat waktu)πŸ˜›

Kalau saja malam itu gak terjadi, mungkin besoknya biasa aja, gak harus ketemuan lagi… Tapi ternyata ketemuan lagiπŸ˜›

… dan besoknya lagi.

… dan besoknya lagi.

Kalau saja semua ketemuan sehabis pengakuan itu gak terjadi, aku pasti gak bakalan se-mellow itu waktu harus pergi urusan kantor selama nyaris seminggu dan meninggalkan sesuatu yang lagi manismanisnya.😦

Tapi, kalau saja itu gak terjadi, kalau kita gak pernah punya waktu untuk kepisah sejenak dan benerbener mikir mau kemana setelah itu, barangkali gak akan pernah ada juga berjamjam bicara di telepon meskipun jaraknya jauuuuuuh… Gak akan pernah ada juga sesi curhat panjang sama temenku (yang meskipun kemudiannya malah lupa bahwa hari paling penting di hidup kita itu udah lewat hampir setahun yang lalu..)πŸ˜›

Lalu, kalau saja itu gak terjadi, kita enggak bakalan membahas semuanya sedetildetilnya sehari setelah aku pulang yang ternyata menjadi pembahasan yang butuh waktu lebih lama dari yang kita pikir.

Kalau saja itu gak terjadi, kita gak bisa mengenang hari di mana kita jadi slackers, yang menambah pengetahuan bahwa kita emang saling nyaman dengan keberadaan satu sama lain.

Kalau saja itu gak terjadi, barangkali kemudiannya Sabtu, 24 Mei 2008 bukanlah tanggal di mana kita memulai untuk berjalan bersama, mengawali semuanya.

Dan, kalau saja itu gak terjadi, aku bakalan kehilangan kesempatan untuk ngerasain naikturunnya jalan bersama kamu. Yang meski gak selalu bungabunga tapi juga kerikilkerikil yang kadangkadang mental dan bikin baretbaret.

Dan, kalau saja itu gak terjadi, enggak bakalan tahu rasanya menikah denganmu, yang kadangkadang sampe sekarang aja masih ada pikiran “kok bisa ya?” sambil senyumsenyum.

Dan, kalau saja itu gak terjadi, enggak bakalan kebayang rasanya bahwa kita bisa menikmati iga paling-enak-setelah-Tony-Roma’s itu waktu kita bulan madu ke Bali.

Dan, kalau saja itu semua gak terjadi, enggak bakalan ada anak kecil yang hobi nendangnendang perutku ini, yang selalu gerakgerak kalo denger suara kamu, dan selalu nunggununggu ayahnya dongeng sebelum tidur sebelum kita semua bobo.

24 Mei 2010… tepat dua tahun kita jalan samasama sejak tanggal jadian kita ya, Dals.

Maaf kalau mungkin enggak selalu indah dan aku juga gak akan pernah jadi sempurna, tapi akan selalu berusaha melakukan yang sebaik mungkin buat kita. Terima kasih untuk semua perjalanannya, terima kasih untuk hari ini, terima kasih untuk segalanya.

Semoga kita selalu bisa jalan samasama selamanya. Amin.

I love you.

pic borrowed from http://stitchability.co.uk

Stay inside and never fly away…πŸ™‚

6 responses »

  1. tibatiba mules karena iri dalam makna yang sangat baik dan penuh sukacita tanpa tanda tanya.
    aku juga mau bahagia dengan manis seperti itu.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s