.on being….. apa namanya, gak tauk :P .

Standard

Beberapa minggu yang lalu, gw follow seseorang di Twitter. Tentu saja orang ini adalah salah satu sosok yang cukup terdengar namanya di negeri ini, dalam suatu komunitas tertentu. Dan gw memutuskan untuk ngikutin dia karena gw pernah mengenal orang ini secara personal (dan sebenernya sih pengen direkrut sama dia..😛 ), dan menurut gw, dia cukup hebat dengan apa yang sudah dia capai.

Karena beliau itu juga sering twitting, gw dapat apdetannya mayan sering. Dan jangan salah meskipun gw tetap menghormati dan menghargai orang ini, tapi semakin ke sini gw menyadari bahwa ada halhal yang cukup membuat gw mengernyit dan mikir tentang dia – dan orangorang semacam ini.

Sebelumnya, harap dipahami bahwa, untuk gw, Twitter adalah tempat di mana gw bebas menjadi diri gw sendiri. Gw gak follow banyak orang, gw juga gak mempromosikan account gw buat di follow orang. Prinsip gw, I bitch therefore I Tweet.

Twitter adalah tempat gw bebas makimaki dengan sejuta topan badai atau bahkan menyemenye keterlaluan dan gak peduli apakah ada yang bakalan suka atau enggak. Itu tempat main gw. Tempat gw ngomelngomel kalo lagi kesel. Tempat gw mendayudayu. Tempat gw mo ngomong apa aja, tanpa merasa perlu ada tekanan untuk jaim.

Gak tau kenapa gak bisa ditulis di buku harian atau jurnal aja, cuma kayanya efek nulis di Twitter lebih lega ajah.😛

Jadi intinya, gw tau bahwa barangkali bukan hanya gw doang yang menggunakan Twitter sebagai tempat sampah emosional kaya gitu. Barangkali si orang yang gw follow itu, juga menjadikannya seperti itu.

Hanya saja, semakin lama, gw merasa orang ini begitu sinis memandang orang lain. Gw pernah mengenal orang ini, pernah diskusi banyak sama dia, makanya gw tau dia pintar. Karena itu, dari yang gw tangkep di tweets-nya, dia selalu berhasil mengembalikan katakata lawan bicaranya dengan telak dan mengesankan dia yang jadi sisi pemenang dari pembicaraan itu. Selain itu juga seringkali dia mengutarakan pendapatnya dia terhadap halhal aktual dari sisi sarkasme dan sinisme.

(Tolong dicatat bahwa sampai tulisan ini selesai pun gw masih akan menghargai dan menghormati orang ini.😛 )

Yang membuat gw bertanyatanya adalah….. apa sebetulnya yang membuat seseorang (bukan hanya dia) bisa HAMPIR SELALU memandang hidup dari sisi yang sinis? Dan kenapa beberapa orang justru senang apabila dianggap sebagai pihak antagonis / oposisi atas sesuatu?

Maksud gw, gw juga bitchy di Twitter. Atau juga di kehidupan nyata. Tapi TIDAK terhadap semua hal. Dan senyinyirnyinyirnya gw pun, tetep ada harihari di mana gw ngomongin halhal yang ringanringan atau bersyukur atas sesuatu, karena gw gak mau dianggap sebagai orang yang pahit.

Tapi ada orangorang yang SENANG dan BANGGA apabila dianggap sebagai orang yang sinis, sarkas, dan pahit dalam menanggapi hidup. Seolaholah dia paling bener, paling pintar, paling malang, paling apapunlah di hidup ini.

Dan biasanya orangorang yang merasa lebih benar dan lebih pintar dan lebih apapunlah itu, biasanya adalah orangorang yang kemudian senang bermain jadi Tuhan. Playing God.

Dan kalau saya harus membuat suatu daftar orangorang paling saya gak tahan dalam hidup ini, orangorang sinis yang senang playing God itu pasti masuk daftardaftar teratas. Bersama dengan orangorang yang selalu ngeles, “emang-gw-orangnya-gini, gimana-dong?”

Terkadang dalam hidup itu enggak ada yang salah. Dan ketika kebahagiaan kadangkadang adalah sesuatu yang merupakan tanggung jawab personal setiap orang, barangkali ketika hidup (dan semua orang) terasa SELALU salah – sebenernya yang salah adalah kepala lo sendiri.

Karena itu, ketika yang salah adalah cara pandang lo terhadap hidup, bagaimana mungkin lo mengharapkan seluruh dunia memaklumi hanya karena ’emang lo orangnya begitu’?? Itu kan sungguh egois.

Jangan salah. Waktu gw SMP apa SMA awal gitu, gw pun pernah jadi orang yang sinis terus sama hidup. Seperti gw selalu mencari dan mendapatkan celah untuk ngomel dan komplen. Terus suatu hari ketika (bahkan) gw sendiri (!) jenuh mengeluh, gw mikirin nasib orangorang atau tementemen yang terpaksa ikut ngedengerin sinisme gw saat itu. Pasti tidak menyenangkan. Dan barangkali saat itu gw memang orang yang tidak menyenangkan.

Dan kenapa kita bisa senang menjadi orang yang tidak menyenangkan untuk orangorang atau bahkan hidup yang sudah selalu berusaha menyenangkan kita?????

Kadangkadang hidup itu sesuai dengan persepsi kita. Kalo kita siniiisss melulu, lamalama dia pun akan jadi setidakmenyenangkan itu. Dan kalo kita terus sarkasme dan menjadi orang yang tidak menyenangkan sama orang lain, barangkali suatu saat nanti semua hal negatif yang kamu tabur itu akan kembali kepadamu.

What goes around, comes around. And, for that I say, being nice won’t hurt at all. 🙂

5 responses »

  1. cape deh kalo sinis2 terus. gua juga punya temen di fb yg kayak begitu. sedikit2 krritik pemerintah, sedikit2 kritik bangsa. gua juga tau kalo indonesia kita ini banyak kekurangannya, tapi lebih2 nya juga banyak kaaan. kalo bagian lebih, doski (alah doski) ga ngomong. bagian jeleknya, semangat🙂

  2. @ stalker sejati: bukan. ayo tebak lagii..😛

    @ pashatama: nah kaya gini maksudnya shasy! bener banget lo. kenape ye, ada orangorang kaya gitu?

    @ nuxandy: *sambil mengacungkan jempol*

  3. aku dulu ingin menjadi sinis sayang gak aku males karena duduknya deket lokomotip dan ga bisa karena aku perempuan. kalo laki kan bisa jadi MAS sinis. kalo aku jadinya MBAK sinis. huhuhuh garing ya? efek kangen berat sama lo smiw…😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s