.transformasi burung cenderawasih dalam kaca.

Standard

Burung cenderawasih dalam kotak kaca adalah suatu hal yang gw yakini sebagai status simbol yang cukup berjaya di jaman eyang gw berumah tangga. Hal ini jadi asumsi karena selama ini tiap gw ke rumahrumah lama, apakah itu rumah temen yang dulunya rumah neneknya, atau rumah sodarasodara, burung cenderawasih dalam kotak kaca itu hampir bisa dipastikan lagi bertengger di sudut ruang tamu.

Kenapa di situ? Nampaknya karena ia adalah sesuatu yang harus ditampilkan. Harus keliatan. Salah satu benda yang mungkin pada eranya merupakan the It thing yang wajib punya.

Dari situ gw jadi mikir, iseng aje. Secara hit berat, pasti tuh pajangan harganya mayanlah. Terus, sebagai status simbol, tentunya ada orangorang OKB (pada jamannya – kalo sekarang masih kaya, berarti udah jadi OKL) yang merasa harus ngasih tau seisi dunia kalo dia udah punya – entah gimana caranya. Makanya gw membayangkan kejadian ini…..

Suatu hari di masa silam.

Seorang perempuan baru saja selesai membersihkan kotak kaca tempat pajangan burung cenderawasih yang baru dibelinya kemarin. Hari ini masih jam 9 pagi, tetapi ia sudah membersihkan kotak pajangan itu sebanyak 4 kali. Dia sudah bertekad akan memamerkan pajangan paling happening itu lusa, waktu arisan. Wah, semua temantemannya pasti akan sangat kagum karena pajangan itu sangatlah mahal – dan tidak semua orang memilikinya.

Ia tengah mengusapusap kotak kaca dengan lap yang dipegangnya. Hampir saja ia mengulangi aktivitasnya untuk yang kelima kalinya. Tetapi pada saat itu matanya tertumbuk pada telepon. Dan seketika gagasan muncul di kepalanya.

*putar nomor telepon*

“Halo… Ini aku. Lagi apa? …….. Oooooh… Sibuk ya? Ganggu gak? …….. Aku? Uhm, enggak sibuk sih. Biasa aja. ……… Lagi bersihbersih rumah nih………. Kamu lagi apa? Masak? Oooooooo….. *bertanyatanya ke diri sendiri kapan bisa masukin pembicaraan tentang barang barunya itu*….. Kenapa? …. Ooooh, masalah kamu waktu itu….. Iya, iya. Inget. Cerita aja. *males karena kok malah dicurhatin*. …….. ooooo.. iya. Iya. ……….. Wah seharusnya jangan gitu. ……. He eh. He eh. …….. Uhm. ………. *mulai gak sabar * EH, EH, nanti aku telfon lagi deh. ….. Oh, enggak sibuk sih. Tapi emang sekarang jadi agak lebih ribet.  …….. Ah enggak kok, cuma mesti ngebersihin kotak kaca burung cenderawasihku tuh. ……….. Apa? …… Oh iya. Baru kemarin belinya.”

Hahahaaaaaaa.. Mo ditanya kek. Mo enggak kek. Yang penting….. mission accomplished. Sekarang dia adalah bagian dari komunitas KEREN. Huhuuuy! Hidup cenderawasih!

Sekarang, mari kita kembali ke 2009.

Cenderawasih dalam kaca udah tinggal kenangan, Cong. Tapi, masih ada kok beragam status simbol yang bertebaran di antara kita (mohon garis bawahi “beragam”, yang artinya gw gak mengacu ke salah satu barang tertentu). Yang sebagian orang mungkin emang merasa perlu memilikinya karena emang perlu dan dimaksimalkan penggunaannya, tapi sebagian lain merasa perlu untuk legitimasi bahwa dia adalah bagian dari orangorang trendy – yang mana padahal mah belum cencuuuuuuu. HAHAHAHAHAA…

Moral dari cerita ini: Gw tau sik, punya benda yang jadi status simbol itu, entah kredit, entah lunas, adalah kepuasan pribadi. Mo digunakan buat apa aja juga terserah. Orang itu punya lo sik.

Cuma ya itu aja. Kalo emang congkak berlebihan, lebihlebih kalo sama orangorang yang gak minat dan gak merasa perlu punya burung cenderawasih dalam kotak kaca (dan turunannya tahuntahun ke depan), lamalama jadi norak.

Itu aja.

15 responses »

  1. gw juga tau…

    nih pilihannya:
    a. kaos grifone
    b. tempat pensil san san wa wa
    c. sepatu air jordan

    buat para pembaca yg ingin menebak, boleh kirim jawaban via SMS, dengan cara mengetik a / b / c, lalu kirim ke 14045

  2. ngomongin gw ya??? hahahahha :))

    kalo nyimpen wine dalam etalase kaca, apa congkak juga? kan nanti nya mau dijual.. 20 tahun lagi..

  3. hakakakaka.. eyang aku enggak piara cendrawasih dalam kotak. tapi ada seperangkat alat untuk membuat gudeg, terutama semacam anglo yang dibuat memanjang (bisa untuk masak 3 panci besar sekaligus) suka bikin kangen. apalagi kalo malem-malem sengaja lewat permata. aaaaaaa.. MISS HER SO.. huhuhuhu..

  4. secara kamu pernah ke rumahku, tentunya sudah liat jam opa segede bagong yang rajin dikerek oleh (calon) budemu… kalo kuat batin semoga itu jam masih bisa diurus sama gue juga ya, uhuhuhuhu….

  5. Blackberry yg bikin males itu kah :p

    Lepas dari apapun itu gw sih setuju aja orang punya sesuatu kalo emang bener perlu, walaupun tanpa langsung jadi simbol status. Tapi kalau sudah terdikte sama keadaan, punya biar keliatan gaya padahal gak ngerti buat apa… gw kasian, sungguh **sok teu mode on**

  6. tapi memang terlepas dari segala macam fungsinya, blackberry yang tersimpan dalam holsternya itu lebih terasa dihati apabila diletakkan diatas meja meeting daripada didalam kantong😀

    • Uhm…. nanya doang nih.. emangnya burung cenderawasih yang diawetkan di dalam kaca (bukan dipelihara lho, Anaaa..😛 ), yang hip bertahuntahun lalu itu sekarang ekuivalensinya BlackBerry yah? hiehiheiheiehiehie…..

  7. yah begitu deh…emang biasanya orang2 yang lagi keracunan (baik keracunan buah, sayur apalagi keracunan bulu burung cendrawasih) itu suka aneh2, priwitaaaannn😀 hehehehehe….

    ko jadi dibahas? padahal kan gue lagi sedih? ah bacak2 blog si priwitan sama Neng Tepoy dan Neng Shasya mana bisa sedihhhh…hihihihihihihik

  8. equivalensinya sih macem macem smit, buat beberapa orang bisa jadi babi piaraan, ada yang punya sepeda motor didisplay diruangan tamu, ada juga yang pasang foto2 di facebook berbackground kota-kota diluar negeri.

    kalo gue sih ya itu, equivalen sama blackberry, no substitute🙂

    • @ bubba: huahuahuhau… terima kasih untuk kejujuran dan tanggapannya yah.. memang sih nampaknya aneh juga kalo kita mo taro motor di atas meja makan.. heheehehee…😉

  9. @ grace: hahahahaaaa… i’m not telling ah, hubungannya ama apa. hihihihihi.. silakan diinterpretasikan dan dihayati sendiri.. tapi gw ngakak baca blog yang di-link, grace! hauhauhuahua.. thanks for sharing..😉 salam kenal yaaaaaa…

  10. Simbol status jaman dulu memang benar: burung cenderawasih. Juga: piano dan ensiklopedi…
    Hihihi…. berapa ya kira2 harga pajangan burung cenderawasih sekarang? Kalau yang masih hidup sih, di Malaysia dijualnya seharga 35,000 Ringgit.. Equivalentnya kira2 Rp. 70 juta kali ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s