.duo ngarep.

Standard

Lakon: Muda + Mudi

Lokasi: Suatu tempat di bilangan Kemang, seberangnya Kemang Food Fest (ha!)

Keterangan tambahan: Muda dan Mudi lagi laper, letih sehabis menghabiskan seharian penuh learning big and lovely things, mau makan malam pizza di sindang. Di mana parkiran tempat ini rameeee abis, hampir ga dapet parkir. Selain karena saat itu Sabtu malam, tempat yang relatif baru DAN ada acara MTV serta bazaar pulak.

Muda dan Mudi berjalan ke arah kedai pizza sambil mengincar sofasofa empuk di depan kedai itu. Mereka pun membeli pizza, dan siapsiap untuk duduk di sofa.

LOH!? Kok sofa tersebut udah didudukin oleh dua orang mbakmbak pramuniaga kedai kopi yang terletak di depan kedai pizza ya? Mereka duduk sambil bacabaca freemags. Dengan asumsi mereka lagi istirahat, maka Mudi, sebagai perempuan pemberani, tentunya bertanya dengan sopan…

Mudi: Maaf, mbak, ini kosong gak yah? (translation: mbak, kita mo duduk sini, boleh gak sih?)

Mbak (menunjuk kursi depannya tanpa mengubah posisi atau bersiap cabut): Kosong kok. Duduk aja situ.

Mudi: Oh. Oke. Makasih. (translation: HAH!? Ini gw lagi masuk SPONTAN apa gimana sik?)

Mudi pun berbalik ke kedai pizza di mana si Muda masih nungguin pesanan. Mudi bilang sama Muda kalo pengen duduk di sofa tapi kok mereka gak pergi yah… secara mereka juga kan ga beli apaapa gitu loh.

Muda kemudian mengulang pembicaraan yang kurang lebih mirip ama yang dibilang Mudi ke mbakmbak itu, dan masih mendapat respon yang sama. Yaitu disuruh duduk aja tanpa mbakmbak itu pergi. Akhirnya Muda pun kembali dengan muka bingung.

Muda dan Mudi akhirnya memutuskan mengalah dan duduk di kursi yang keras. Tapi mereka masih mupeng ke sofa itu. Hiks. Setelah masmas kedai pizza bertingkah mencurigakan karena kok gak meminta para mbak itu beranjak dari kursi mereka sementara dua pelanggannya ini mo duduk di situ, tibatiba si Muda mengucapkan kalimat yang sama dengan yang ada dan tak terucapkan oleh si Mudi.

Muda: Janganjangan kita lagi masuk boiling points nih secara di depan ada MTV.

Mudi (terperanjat): Ember, bok! Aku juga mikir gitu!

Lalu seperti biasa kalo udah ada ide tolol yang sama, maka antara kedua orang ini cuma perlu liatliatan sambil tersenyum jahil. Dan hal berikutnya yang mereka tau adalah mereka udah duduk di sofa, depan para mbakmbak itu.

Dan kemudian itu berasa freaking weird banget. Di mana di sofa yang berhadapan, sepasang mudamudi duduk dan makan sementara di depan mereka ada dua mbakmbak pramuniaga kedai kopi seberang yang NOTABENE mereka gak kenal tapi tetep duduk situ sambil baca freemags yang menutupi wajah keduanya.

Antara yakin dan tidak yakin (atau ngarep?), Muda dan Mudi tetep mikir mereka sedang MASUK TIVI dan bakalan DAPET DUIT. Dan inilah pembicaraan mereka:

“Menurut kamu, masuk akal gak sih? Masa mereka cuma istirahat doang, kan ini merugikan si tempat pizza ini kalo kursinya diambil? Lagian kan kok supervisor mereka gak marah ketika semua kerja, eh mereka dudukduduk sini?”

“Iya, terus kenapa ya mereka bacanya sampe nutupin muka gitu?”

Ya karena mereka malu juga kali. Coba, kirakira mana kamera tersembunyinya?

“Emang sekarang boiling points ada di MTV Indonesia?”

Sssth! Jangan keraskeras. Ada. Tapi namanya bukan itu.”

“Terus penghitungan waktunya dimulai dari kapan?”

“Bisa jadi dari waktu kita duduk. Atau bisa jadi ketika kita mulai konfrontasi.”

“Tapi kan mekanismenya bukan kita yang datengin, tapi mereka yang datengin dan mereka yang gengges…”

“Iya siiih..”

“Tapi kalo emang beneran kita masuk tivi dan pembicaraan ini direkam, ya kita gak bakalan dapet duit juga kali. Secara kita udah arep.”

And so on, and so on. Berkembang terus. Sampe akhirnya seorang mbakmbak lain datengin kedua mbakmbak depan muka Muda dan Mudi itu sambil bilang,

“Oi! Lo berdua belom pada masuk?”

Dan kemudian kedua mbakmbak itu melihat jam dan BERANJAK PERGI.

….. meninggalkan Muda dan Mudi yang saling pandangpandangan dan menyadari bahwa mbakmbak itu adalah benerbener pramuniaga kedai kopi yang terletak depan kedai pizza, yang sedang ISTIRAHAT.

(Mo ketawa tapi gak tau pantes apa enggak – soalnya ga jadi masuk tivi let alone dapet duit dadakan di malam Minggu).

Setelah senyumsenyum yang akhirnya berubah jadi cekikikan yang multimakna di antara Muda dan Mudi, maka muncullah sebuah kalimat yang cukup perlu diresapi mengenai kejadian ini:

Makan tuh boiling points!

HWAKAHAHAAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAAAHA!!

8 responses »

  1. huihihihihihiihiii imajinasi terlalu aktif ya kalian berdua… eh jeng smitten… aku pintar lhooo (narsis ya) aku bisa mengexport blog di friendster jaman dulu ke wordpress!!! hihihihihi (menyombongkan diri)

  2. @ Shasya: abeeeeeeeeeeesss… HAHAHAHAHA..

    @ and.i.try: embeeeeess.. lo ngerti dong kemampuan imajinasi kami berdua inih.. hihihihii.. btw, HEBAT SEKALI LOH Ndied.. gw aja pas jaman dulu itu mesti kopipes satusatu!!!!! *i salute you*😉

    BTW BTW… emang ada yang bilang Muda dan Mudi itu sama dengan Beliau dan Akyuw yah.. hiwhiwhiwhiwhi.. ASUMSI IH!😉 *gak mo kalah*

  3. kenapa sih bisa kepikiran BOILING POINTS???

    dasar anak-anak generasi MTV.

    HAHAKHKAHKAHKAHKAKKK!

    Pak Bebe sama Bu Bebe kangen nih sama Muda dan Mudi. 😛

  4. @ iRa Riawan: berarti yang gilak bukan gw sendiri kan? HAHAHAHAHAHAA..

    @ miund: eitz, kita kan ANAK NUONGKRUONG getooooooh.. HAHAHAHAHA… Muda dan Mudi juga rindu sama bapak dan ibu Bebe… mwahmwah!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s