.hepiending.

Standard

Menjadi pemikir itu kadang enggak enak. Sejak sakit dan punya banyak waktu sendirian di rumah kemarenkemaren, gw jadi banyak mikir iniitu, terus akhirnya parno dan freak out sendiri karena blablabla dan malah akhirnya gak yakin maunya apa.

Makin jadi karena gw banyak menghabiskan waktu dengan membaca. Dan kadangkadang bacaanbacaan yang gw baca itu memberi pencerahan, tapi bisa juga memberi pandangan baru, yang meskipun bisa jadi enggak populer atau enggak dikehendaki, tapi toh akhirnya tetep bikin mellow karena masuk akal dan bisa terjadi di kehidupan nyata.

Jadi gini, gak usah disebutin judulnya karena gak mau jadi spoiler.

Ada satu buku yang gw baca kemaren yang menceritakan tentang sekelompok temanteman gitu deh. Di antara mereka itu ada sepasang cowok dan cewek yang punya on-off relationships yang mayan complicated. Tapi, di bagian awal bukunya udah dibilangin bahwa si cowok itu meninggal.

Jadi aja sepanjang buku itu ceritanya agaks flashback sampai ke pemakaman cowoknya. Dan si cewek digambarkan begitu miserable dan hidupnya makin complicated lagi.

Singkat kata, singkat cerita, pada akhir buku si cewek ini akhirnya enggak sama siapasiapa – meskipun tadinya dia sempet punya pacar lagi. Tapi kemudian, di akhir buku dia merasa hepi karena dia bisa menerima hidupnya secara utuh. Dan bagi dia itu udah cukup.

Dang.

Ketika akhirnya seperti itu, gw terus terang merasa kecewa. Seperti, ‘jeung, kalo abisnya gitu doang mah gw gak perlu capekcapek baca sekian ratus halaman selama tiga hari. Intinya cuma make peace with herself ajah.

Sebab, bersama ribuan bahkan milyaran orang di luar sana, gw adalah penggemar hepi ending. Meskipun terus terang gw gak begitu tertarik lagi dengan fiksi dengan akhir bahagia yang terlalu ketebak. Tapi, plis deh, bukankah kita semua ingin suatu akhir yang bahagia?

Dan, dasar aja gw orangnya kepalanya gak bisa diem. Hal ini mengganggu banget sampe dua hari.

Sampe tibatiba gw jadi mikir. Apakah justru makin ke sini, happy ending itu bukan lagi sesuatu yang glittery dan fairy tale-ish seperti yang terlanjur terdoktrinkan di diri kita selama ini?

Apakah semakin ke sini, happy ending itu HANYA masalah bagaimana kita bisa menerima hidup kita sebagai suatu hal yang utuh dengan segala pasang surutnya? Janganjangan, selama ini, kita hanya mengejar sesuatu yang sesungguhnya hanya sesederhana itu?

Gw tau buku yang gw baca kemaren itu enggak menggambarkan akhir bahagia yang ideal. Tapi ketika kita bisa menerima hidup kita dengan tulus ikhlas, bener juga, mungkin enggak ada yang lebih ideal daripada itu.

Kakak gw pernah bilang, ‘sakit hati itu adanya bukan di hati, tapi di kepala.’ Dengan demikian, mungkin memang happiness is a state of mind.

Huuuumm.. Hohum.

Masuk akal. Meskipun enggak mau menelannya mentahmentah. Kenapa? Karena gw masih mau mencari keindahan akhir cerita dongeng dulu dong, setelah jatuh bangun bertahuntahun. Hehehe..

Pada akhirnya sih, menurut gw, setiap orang akan bisa mendefinisikan kebahagiaannya sendirisendiri. Apakah itu dalam bentuk glittery  dan fairy tale-ish atau dalam bentuk lainnya.

Apapun itu, kapanpun itu, bagaimanapun itu, semoga kita semua bisa mencapai kebahagiaan kita masingmasing ya, temans…🙂

3 responses »

  1. *ikutan mikir2 sampe jidat kriput2*

    kayaknya tujuan buku yang lo baca itu, bukan how to find and to define happy ending as something you have to accomplish….tapi kasih peace of mind: bahwa life is a gift, and happiness (and happy ending) is a choice for you; to make it happen or to feel it…..

    katanya orang bijak nan pintar kayak mas boy;
    it’s not the destination, its the journey that makes the life….soalnya semua orang hidup itu pasti (kepengennya) sampe di destination yang sama:
    happy ending..tapi jalan hidup alias the journey, prosesnya pasti beda2, nengg…..

    peace of mind (dalam bentuk self-acceptance dan make peace with your self) itu kayaknya penting supaya gak frustasi alias sakit jiwa; karena journey of life itu kan gak bisa se-sempurna yang kita mau atau yang ada di fairy tale dunia merah jambu itu…..so biar kita messed up dan struggling segimana pun juga, tapi kalo emang udah usaha the best we could, it means you already living the life, and you should be able to accept your self with all your ability to deal with whatever comes in life.

    jadi rumusnya:
    hidup itu ribed–>jadi musti usaha–> belajar proses idup sebisa dan sebaik mungkin–> self-acceptance–>make peace with your self–> feel grateful–>feel happy and fulfilled–>called happy ending.

    *jidat udah kriting*

    monyong..kenapa gue jadi serius beneran sihhhhh????

  2. what if one day when you wake up in the morning and you just don’t feel anything… you are numb…

    when suddenly your mind and body doesn’t really go on the same track…

    when all you wanna do is just be invisible.. but you can’t… cause you have a lot of people counting on you and a lot of things that you need to do…

    how to solve the big question of “making peace” with yourself when all you can think of is running away?

    you won’t even have the time to think about anything, let alone a happy endings…

    -m-melodramaticmoodswing-

  3. @ Miss Lemontea: hebat sekali Nyachann.. aku setuju dengan rumus kamu. sungguh pintar. bangga deh..😉

    @ m1k4el: percaya atau tidak yah, gw pernah merasakan apa yang lo tulisin itu semuanya, sehingga gw tau apa yang lo rasakan.

    i mean, ketika lo bangun pagi dan lo udah gak semangat menghadapi hari – dan ketika kepala lo berusaha meyakinkan diri lo bahwa baikbaik aja, tapi somehow badan lo memberontak dan bereaksi sehingga lo harus menerima bahwa semua tidak baikbaik saja – lalu lo pengen sekali bisa melakukan apa yang lo mau, tapi enggak bisa karena ketika sudah melibatkan banyak orang, seringkali kitalah yang harus kalah dan mengalah – dan lo pikir betapa menyenangkannya untuk sekedar escape ke tempat lain, di mana lo bisa memulai semuanya baru tanpa ada yang mengganggu lagi….. gw pernah banget ngerasain semua itu. tanya tementemen saya yang bahkan ketika gw came up dengan ide ‘escape’ itu, dengan sertamerta bilang bahwa gw hanya akan menghilangkan masalah dengan masalah…

    gw tau rasanya berat. dan lelah. tapi, meskipun ini pasti terdengar klise buat lo, percayalah bahwa hidup ada pasangsurutnya. dan apapun yang terjadi itu adalah untuk suatu alasan. suatu hari nanti lo mungkin akan menyadari bahwa semua persimpangan dan jalan terjal lo hari ini akan mengarah ke sesuatu yang jauh lebih baik.. dan tibatiba saja lo akan mengerti alasan dari kesulitan yang lo rasakan hari ini.

    jadi sekarang ini gw cuma bisa mencoba menguatkan lo dengan bilang bahwa apapun yang berat yang sedang lo alami skarang, tanpa menilai apapun itu, percaya saja bahwa that will pass. saya gak bisa lain selain mendoakan semoga semuanya menjadi lebih baik buat kamu. dan semoga suatu hari nanti kalo kamu balik lagi ke blog saya, kamu bisa bercerita bahwa pada saat itu kamu udah senyumsenyum lagi yah…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s