.perempuan seperti kami.

Standard

Perempuanperempuan seperti kami adalah perempuanperempuan yang merasa mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Kami tidak keberatan kalaupun harus bepergian kemanamana sendirian, bahkan meski harus naik angkutan umum – dari yang termurah hingga yang termahal.

Perempuanperempuan seperti kami adalah perempuanperempuan yang bisa ditaruh di daerah yang bahkan belum kami kenal dengan baik, kapan pun dan di mana pun, tetapi pada akhirnya selalu bisa pulang dan sampai di rumah dengan keadaan utuh. Kami adalah perempuanperempuan yang lebih memilih untuk ‘membela kebenaran’ apabila merasa diinjakinjak, ketimbang diam saja (apalagi kalo menyangkut customer service😉 ), kami mengutarakan apa yang kami pikirkan, kami menjalankan apa yang kami katakan, kami tetap menghargai kedudukan lakilaki dan senang dengan kehadiran mereka, kami membayar sendiri kebutuhankebutuhan kami, dan kami bergembira dengan cara begobegoan meski atas dasar yang cerdas.

Ibu Kartini bisa jadi merasa bangga dan tidak siasia berjuang di masa lalu dengan adanya perempuanperempuan seperti kami di masa kini. Dan apa alasannya untuk tidak?

Tetapi sesungguhnya perempuanperempuan seperti kami TETAPLAH perempuan. Yang bisa kesal dan menangis untuk hal PALING remeh dan gak penting sekali pun. Dan bagi perempuan seperti saya, hal itu lumayan mengganggu.

Hari ini gw sensi abiiiiiiissssss… Dan untuk suatu alasan yang bahkan gw anggap leceh dan terlalu cewek banget – sehingga kayanya gak penting untuk dimasalahin. Sampesampe di dalam hati kecil gw sendiri kayanya malu kok bisabisanyaaa gini aja digedegedein. Cuma kalo mo gak dipikirin, ya gak mungkin loh! Dan itu akhirnya bikin gw tambah kesel sama diri gw sendiri. Lebih karena sebel, ngapain sih, emang perlu ya menyemenye tolol kaya gini?

Saya kemudian merasa perlu berbagi (atau sekedar konfirmasi bahwa saya bukan satusatunya)…

“(cerita blablabla yang disambung dengan…..) DAN ITU KAN HAL YANG REMEH BANGET! Kenapa mesti ngaruh?”

“Nyet. Kita itu BAJUNYA doang wanita PERKASA, HATINYA mah PERKAKAS. Kalo sama orang banyak mah keliatan jagoan neon. Tapi justru karena kita wanita perkakas itu, makanya hal remeh yang gak biasa disentuh nampaknya jadi bahan yang ‘harusnya’ diperhatiin sama orang lain.”

“Tapi itu kan ganggu kan, nyeeeeet! Maksud gw, separo hati lo pasti sebenernya LECEH ke diri lo sendiri karena lo tau gak penting untuk bete garagara GINI DOANG!”

“Walo kita kaya gini, kita tetep perempuan lagi. Perempuan banget. Kaya gw ya, gw tuh keliatannya aja kuat di luar. Tapi begitu gw beneran emosional, cengeng juga, artinya gw benerbener udah had enough!”

“Gw jugaaa!”

“Semua wanita berbaju perkasa berhati perkakas biasanya emang gitu. Kita tuh orang yang kuat banget. Kalo sampe cengeng ARTINYA sudah pada batas yang bisa ditolerir. Peluk, Teman!”

“Peluk, Teman!”

Huhuhuhuhuhuhuhuhhuhu… Terharu. Bukan saja karena itu pembicaraan yang amat bermutu dengan si peluk-teman tersebut, tapi karena… yah, semuanya masuk akal.

Perempuanperempuan seperti kami tetaplah perempuan. Tetap manusia yang punya sisi sensitif – dan gak harus selalu menyalahkan PMS. Perempuanperempuan seperti kami adalah perempuanperempuan pada umumnya.

Dan perempuanperempuan seperti kami, atau bahkan yang lebih dan jauh lebih tangguh dari kami pun, akan selalu menjadi perempuan. Dengan  kelemahannya, kesensitifannya yang juga akan selalu bersinergi dengan kelembutan dan keistimewaan yang dimilikinya.

Karena itu, kadangkadang, ketika kami sedang mellow dan/atau menyebalkan, ijinkan kami berlaku seperti itu ya.. Sebab, bisa jadi hari ini kami hanya butuh diperhatikan.

Dan, besok, kami sudah akan menyenangkan lagi seperti biasanya…🙂

*terima kasih miss mandrinkurrantpearspepparsvanilia….. untuk pembicaraan inspiring ini! Peluk, teman!*

5 responses »

  1. Priwitannn….., maksudnya, Gaya dan kelakuan kayak Xena the warrior princess, tapi berhati Betharia Sonata? Ngomong2 kemana ya tante yang satu itu? *loh ko jadi gak nyambung?*

  2. @ DwD: hati perkakas artinya pecah belah boookk.. hihihii.. handle with care!

    @ iRa Riawan: anjing, pengen tampil abis…

    @ misslemontea: mmmm… mungkin masih “bersumpah janji di depan saksi”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s