.kadaluarsa?.

Standard

Waktu kapan itu, gw dan Mel membicarakan sesuatu yang pernah dibahas oleh seorang penulis kesukaan kami dalam blog pribadinya, mengenai suatu hubungan (apapun jenis hubungannya) itu bisa kadaluarsa.

Gw suka banget banget banget sama penulis ini. Sama seperti segelintir penulis Indonesia yang gw suka lainnya, gw itu agak memuja dia dan menempatkannya di posisi yang lebih terhormat daripada penulispenulis lain yang kurang gw respek (tau kan siapa, Shas? *liriklirik Shasya*). Tapi meskipun gw menilai tinggi tulisantulisannya dan sangat menghargai pendapatnya itu sebagai hasil dari suatu olahan emosional dan rasional yang matang, kali ini ketika gw membaca itu dan menginternalisasikannnya dengan diri gw sendiri, gw jadi punya pendapat sendiri tentang hal itu.

Apakah sebuah hubungan mengenal kata ‘kadaluarsa’?

Menurut gw, tidak.

“Tidak” di sini sebenernya kadangkadang rancu apakah gw menolak itu atau mengatakannya hanya karena parno-dengan-kata- kadaluarsa -itu-dan-kemungkinan-dia-muncul-dalam-konteks-hubungan-sehingga-kemudian- makanya -gw-denying. Apapun itu, karena gw adalah jenis orang yang (sungguh mencoba untuk) berpikir you are what you think you are, maka jawaban gw di sini tetap ‘TIDAK’.

“Tidak” karena menurut gw agak mengerikan menggunakan kata itu, karena seperti menyamakannya dengan mi instan. Atau apalah yang instan. Sementara, menurut gw, setiap hubungan, apapun bentuknya, dia memiliki proses. Gak harus hubungan romantis yah, tapi bahkan berteman pun memiliki proses.

Dalam setiap hubungan antar personal dalam hidup gw, yang gw rasakan biasanya memang bisa membentuk grafik. Kadang di atas, kadang di bawah. Untuk sampai ke titik puncak, kita perlu proses. Sedangkan untuk turun ke titik nadir, itu pun pake proses. Ketika udah di bawah, bukan berarti kita gak bisa menanjak lagi. Dan itu proses yang berjalan terus dari waktu ke waktu.

Meskipun mungkin, as people come and go, ada kalanya kita harus menerima bahwa seorang teman baik untuk sementara waktu akan menghilang dari hidup kita. Tapi kalo saat itu terjadi, gw hanya akan melihat bahwa pada rentang dia menghilang itu, berarti emang pada saat itu dia dan gw lagi samasama gak punya peran dalam hidup masingmasing. Makanya kita gak akan bertemu dan dipertemukan meski mungkin salah satu jungkir balik berusaha bertemu.

I’ve been in several cases like this before. Berteman, terus karena satu dan lain hal jauh untuk sekian lama, bisa karena berantem atau karena just like that. Tapi, pada akhirnya, seiring waktu kita bisa berteman lagi dan kembali berperan dalam hidup masingmasing sesuai dengan porsinya lagi. Karena beberapa orang memang ditakdirkan untuk terus selalu ada dalam hidup kita. Meskipun mungkin tidak all the way. Tapi, mereka gak akan pernah pergi – meski untuk suatu durasi tertentu bisa saja mereka gak ada.

Mungkin itulah kenapa gw gak setuju dengan kata ‘kadaluarsa’ itu. Karena kadaluarsa itu kesannya benerbener udah gak bisa dipakai lagi dengan cara apapun. Harus dibuang dan disingkirkan. Sementara, gw selalu beranggapan ‘akan selalu ada tanjakan lagi setelah turunan’ dalam grafik semua aspek hidup gw.

Dan itulah kenapa, gw lebih bisa toleransi dengan kata ‘jenuh’.

Karena apa? Karena itu manusiawi.

Kita bisa jenuh oleh apapun. Oleh makanan yang ituitu aja, ke mol yang ituitu lagi. Kadangkadang gw jenuh jadi anak yang sebenernya-berusaha-nurut-tapi-lebih-sering-dianggap-membangkang-oleh-keluarga-gw. Bisa jadi gw jenuh karena selalu-dianggap-ceria-padahal-sebenernya-ya-gak-gitu-juga. Atau juga jenuh jadi karyawan yang ngerasa-dodol-karena-gak-ngertingerti-kerjaan-barunya-yang-itu.

Pada bagian termikro dalam hidup kita aja, kita bisa jenuh. Apalagi dalam halhal besar seperti peran kita dalam hidup, sebagai anak, sebagai teman, sebagai pasangan, sebagai apapunlah.

Dan hubungan antar personal itu menurut gw adalah proses. Antara MAU dan TIDAK MAU. Bukan bisa dan tidak bisa. Karena, kalo kita mau, kita pasti bisa. Karena kalo kita mau bangeeeet, sesusahsusahnya itu, kita bakalan usaha sampe melintir, dan akhirnya jadi bisa. Begitu juga sebaliknya, ketika gw gak mau banget, gw juga akan melihat itu sebagai titik untuk berhenti berusaha. Dan kalo gak berusaha, mana mungkin sesuatu bisa terwujud?

Lebih jauh dari itu, rasa sayang, peduli, kasih, keinginan untuk terus bersama dan/atau bersahabat itu, menurut gw, BUKAN suatu sumber daya yang bisa habis.

Pada awalnya itu adalah sebuah proses. Awalnya seneng main sama orang itu, lamalama peduli, lamalama sayang. Itu kan sebuah proses. Itu bukan bentuk energi yang seperti tersedia di sumur hati lo, yang ketika lo ambil terusterusan dan lo berikan ke seseorang tertentu terusmenerus, terus suatu saat itu akan habis.

Meski kadangkadang memang terasa seperti habis.

Gw juga pernah merasakan di mana seolaholah perasaan peduli gw sama seorang temen gw itu habis, bis. Saking marahnya, sampe mengucapkan dalam diri sendiri, ‘Gw gak ngaruh lo idup kek, enggak kek… Gak peduli abis.‘ Dan serius gilak menghayati itu beberapa saat.

Tapi pada satu titik setelah bisa mikir dengan lebih jernih, gw menyadari bahwa ketika kita merasa perasaan yang kita miliki untuk seseorang itu habis, itu artinya kita yang MEMILIH untuk menghentikan perasaan itu.

Seperti kata dosen Filsafat Manusia gw jaman kuliah dulu, Ibu Lily,

Love is a choice.

Ketonjok nampol gak lo?

Dan balik ke teori Mau Vs Tidak Mau yang di atas tadi, ketika kita benerbener eneg dan faktap, kita bisa jadi TIDAK MAU melakukan apapun atas nama lelah. Atau atas nama jenuh. Atau atas nama apapun.

Kita TIDAK MAU meneruskan perasaan itu dan usahausaha itu, karena kita MAU menghentikan semuanya.

Ngerti gak sih?

Pilihan.

Memilih.

Kita yang memilih.

Sehingga ketika suatu saat kita mau memilih lagi untuk memperbaiki semuanya, itu bisa aja terjadi lagi. KALAU dua pihak samasama MAU. Sehingga akhirnya jadi BISA.

Gitu deh.

Jadi, begitulah pandangan seorang gue dalam hal KADALUARSA dan perasaan dalam sebuah hubungan, yang dalam konteks ini menurut gw berlaku dalam hubungan APA PUN.

Just a thought. Meskipun ribet, tapi moga gak terlalu ribet untuk dipahami..🙂

22 responses »

  1. Neng smitun, kenapa jadi serius dalem sumur begitu…?? kayaknya keseriusan gue menular……gimana sih? kan janjinya situ yang nularin dan recharge kegokilan dari sana ke sini? hehehe…..ternyata ribed juga ya galian kabel telpon otak lo, ya tuuuunn………apakah ini masih ada hubungannya dengan hasil rumpian kita-di-pagi-hari-disini malem aja geto- ????? ternyata berkhaedah *ikk jijay bajay bahasanya* hasil postingan teribed di seluruh blognya neng poppies…..

    Yah namanya relation(ship) itu emang selalu pilihan. It takes TWO TO TANGO katanya mbah2 di jawa sanaa……musti ada saling respon, kalo gak ya tulalit atawa kayak bertepuk sebelah pantat…..!!!!

    Pilihan mo diterusin apa enggak sih emang tergantung manusia yang ngejalaninnya…sedangkan perasaan tentang si relationship itu sendiri….ya gak bakalan segampang matiin-nyalain-teken-tombol-lampu-idup-nyala-idup-nyala seenak jidat.

    Kalo gue sih, yang namanya relation(ship) itu tetep gue anggap “as a gift” atauw “mixed blessing”, gimana ancurnya, berantemnya, pasti ada maksudnya donk….kan gue juga sealiran senada seirama sama elo tuun…..sama2 penganut kepercayaan yang biar cheesy kayak di kartu2 hallmark tapi….”everything happens for a reason” itu benar sekaleee sodara2!!!!

    Jadi, mau kemana hubungan kita berdua dibawa tuuun? mungkin ke tour dunia persalonan ke jakarta selatan saja yaakks…hauahaiahaihaikkkk…..

  2. minimal penulis yang stau ini ngga nulis soal SELANGKANGAN lah, hahah,

    duh Smit, pengen banget komentar soal dia, tapi kalo gue sih, ntar ada kepentingan pribadi yang ikut terbawa, laterlah, gua cerita kenapa2 nya gua ga bisa komen banyak soal dia,

    yang jelas, gua baca satu-dua tulisannya, oke mungkin tiga-empat🙂 tapi jangan dibilang ‘menggemari’ ya. haha

    mengenai hubungan yang ‘kadaluarsa’ menurut dia, betul yang lu bilang. kita SENDIRI yang MEMILIH untuk meng-kadaluarsa-kan hubungan itu. dan dalam setiap hubungan, sebaiknya jangan ada yang dibuang (seperti halnya sama barang kadaluarsa), karena seorang mantan pacar tentu bisa berubah menjadi seorang teman yang baik. seorang teman baik tentu bisa mengalami peningkatan menjadi seorang sahabat, begitu seterusnya. sama seperti seorang temen kuliah bisa berubah menjadi seoarang pacar (wakakak).

  3. @ Miss Lemontea: benerrr banget. it takes two to tango. ketika satu memutuskan untuk menanggapi letih dengan cara duduk dan berhenti, ya tango itu tidak akan terjadi lagi. karena itulah ada hukum timbal balik, aksi-reaksi. ya kan??? Btw, pembicaraan kita kmaren yang mana sih neng? Hmmmm… *mikirmikir* Ooohh… ya ya ingat, tentang teman. Ya mungkin secara gak sengaja kepengaruh itu juga ya, bisa jadi bisa jadi.😉

    @ ana: ihihihihi.. salah satu penulis kesukaan saya itu..😀

    @ pashatama: tapi menurut gw ya Shas, pasti ada pertimbangan tersendiri ketika dia memutuskan untuk menyebut hubungannya kadaluarsa. dan sebagai orang luar, ya kita tidak akan pernah tau alasan sesungguhnya dari itu juga. menurut gw sih pada satu titik, ketika kita harus berhenti, sebenernya kita tau. karena hati kita selalu tau harus ngapain, yang selama ini bikin recet kan kepala. yang membuat gw punya pikiran sendiri adalah term ‘kadaluarsa’nya itu aja sih, karena suatu hubungan terlalu sayang untuk akhirnya disingkirkan gitu aja… karena seolaholah gak punya kesempatan untuk menjadi bentuk yang lain. ya kan? OH DAN KALIMAT TERAKHIR LO ITU SUNGGUH MENAWAN, SHASYA… Anda pasti blogger dan pendengar yang baik.. HAHAHAHAHA… *cup!*

  4. @ bubba: ooooww.. oke. jadi maksudnya emang benerbener udah shattered and scattered aja gitu, sehingga dalam bentuk apapun tidak akan menjadi apaapa lagi. ngerti saya. which reminds me, ternyata memang ada kok suatu hubungan antar personal dalam hidup gw di mana gw MEMILIH untuk mengkadaluarsakan pihak satunya dan secara sadar memilih untuk menghilangkan dia dari segala macem aspek hidup gw. got the point. makasih loh!

    @ DwD: kadangkadang tementemen yang udah jauhjauhan itu akan jadi jauh selamanya kalo dua belah pihak gak berbuat apaapa. tapi sekali lagi, gw sama Mel juga pernah ngomongin bahwa terkadang meski salah satu pihak udah coba jungkir balik untuk mendekat, kalo memang belom waktunya dia berperan lagi dalam hidup yang satunya, maka gak akan merubah keadaan juga. things happen for some reasons, dear..

  5. “kalo memang belom waktunya dia berperan lagi dalam hidup yang satunya, maka gak akan merubah keadaan juga. things happen for some reasons, dear..”

    atau mungkin nggak kalau ‘cinta nggak akan kadaluarsa, tapi peran kita dalam hidup seseorang bisa kadaluarsa’? peran di sini bukan berarti relationship. seperti kalau kita punya diary yang dicinta abis, terus halamannya abis, berarti kita gak bisa pake lagi dong. peran si diary udah abis, tapi lo sih tetep punya ‘hubungan’ spesial sama diary itu, karena ada cinta.

    jadi mungkin yang kadaluarsa memang perannya, tapi cintanya gak pernah ada kata dead end. dan karena ada cinta, berarti masih ada relationship, secara nyata atau gak nyata. dan ketika relationship itu terus ada, maka kemungkinan untuk munculnya sebuah peran baru akan selalu terbuka.

    *sokberteori mode on*

  6. menurut gue, kadaluarsa itu ada kalo lo udah jenuh banget, tapi tetep dipaksa ngejalanin, dan terus2an memaksa untuk mencoba.. jadinya perasaan yang tadinya 100%, pas jenuh jadi 30%, pas dipaksa.. akhirnya jadi -50%! akhirnya perasaan nya kadaluarsa bener.. kalo diadepin terus bisa2 gilak.

    ah mamah. anakmu rindu *salim*

  7. @ mels: apakah ‘peran’ atau ‘status’ yang bisa kadaluarsa? kadangkadang yah ‘sahabat’ atau ‘pacar’ bisa berubah status (apakah bisa disebut ‘degradasi’?) menjadi ‘temen biasa’ dan/atau ‘mantan pacar’, tapi dengan perubahan status itu bukan berarti loh suatu hari nanti dia bisa kembali dan berperan dalam hidup kita? ya gak sih? *masih mikir juga*

    @ calon artis: jadi intinya kadaluarsa berkaitan dengan perasaan, karena udah mentok gak tau mo diapain ya bok… hmmmmmmm…… bisa jadi. bisa jadi… *mikirmikir terus*.

    (ternyata pembicaraan ini bisa berkembang lebih panjang dari yang gw pikirin awalnya. makasih banyak loh buat masukanmasukannya yang kontemplatif semuanya!)

  8. bisa jadi sebuah hubungan itu kadaluarsa, jika emang pihak yang involved didalamnya sudah mulai jenuh dengan hubungan itu dan ngga mikirin cara supaya keluar dari kejenuhan. Yang gw heran, trus bagaimana dengan ortu2 kita yah?bagaimana mereka mempertahankan hubungan mereka supaya tidak kadaluarsa, kalau sekarang baru 3-4 taun menikah aja kita bisa bilang jenuh, bosen, kadaluarsa..

  9. @ stey: my point exactly. jadi intinya untuk membuat hubungan tidak jenuh itu menurut gw ada KEMAUAN dari dua belah pihak untuk senantiasa menyegarkan hubungan itu. ya gak sih? apa kabar dengan nenek kakek kita juga yang – mungkin – bahkan dulunya gak pacaran, tapi dijodohin dan akhirnya bisa samasama sampe akhir… kayanya intinya komitmen yah? sejauh mana lo mau berkomitmen untuk menjaga apa yang lo miliki.. *kali lho..* APAKABAR, STEY!? Been a while!😉

  10. cinta kadaluarsa ???
    hemh.. kayaknya itu engga mungkin deh..
    cinta itu menurut gw penuh gelora dan penuh dengan rasa yang campur-campur. kadang manis, asem, pahit, sepat, hambar, dan lain sebagainya.
    menurut gw kalau sampai merasa bahwa cinta itu kadaluarsa sebaiknya kita mengkaji diri. apakah yang selama ini kita jalani itu adalah benar-benar cinta ??
    cinta kayaknya never ending story deh.. karena cinta itu memberi warna.
    jadi pasti cinta itu memberikan nilai yang berharga.

    hidup itu pilihan nah.. kalau cinta itu anugrah..
    karena cinta itu tumbuh dan mekar dengan cara yang ajaib.
    hidup adalah perjalanan yang harus di tempuh sehingga harus selalu berjalan maju. nah.. cinta itu adalah bagian dari hidup.
    jadi berbahagialah orang yang merasakan cinta, karena itu artinya dia hidup.
    memilih untuk mencintai juga merupakan keajaiban karena cinta itu memberi dan cinta itu mengalir tanpa henti sehingga kalau kita memilih hidup tanpa cinta itu artinya kita menyangkal bagian dari hidup kita.

    jadi kalau merasa sudah kadaluarsa gw rasa itu artinya saatnya kita bertanya apakah selama ini kita benar-benar mencintai atau hanya membohongi diri sendiri ??

    mari jalani hidup dan mari menerima bagian dari kehidupan itu dan tentukan pilihan agar hidup ini selalu bertumbuh.

  11. bener kata dosen lo smit. love is a choice. life is a choice.

    sesimpel pergi ke salon kok. hari ini milih di blow sama si A. hasilnya…

    bisa bikin merasa kece atau bisa juga bikin pengen botak.

    itu yang namanya resiko.

    di balik tiap pilihan pasti ada resiko. dan bila resikonya membuat kita pengen ngebotakin rambut, ya harus dihadapi.

    kekadaluarsaan itu memang pilihan kita sendiri sih ujung2nya.

  12. @ spirit4glory: “jadi kalau merasa sudah kadaluarsa gw rasa itu artinya saatnya kita bertanya apakah selama ini kita benar-benar mencintai atau hanya membohongi diri sendiri ??” makasiiiihh.. benerbener inspiring banget.

    @ miund: yah menurut gw memang begitu juga sih. dan cinta itu gak bisa habis, karena dia bukan sesuatu yang lo gali dari suatu sumber daya tertentu. ya kan?

  13. oalaah mbak..mbak..nancep bener postingannya! salam kenal ya dari blogwalker : )
    aku lagi mengalami titik jenuh itu juga sih.. yang membuat aku dan pasanganku mengambil keputusan untuk separated..tapi memang membingungkan sekali..sumpah!..jauh, kangen..deket, berantem..
    bingung mau diapain relationship kita, sementara udah ada anak-anak di tengah2 kita..
    masih maju mundur buat mengambil keputusan..
    ya ampun jadi curcol neh..
    eniwei, makasih buat postingannya..
    sungguh menambah pengetahuan..
    hahahha..

  14. heyyyy jojomojo…. terima kasih loh udah mampir dan saya sungguh seneng kalo postingannya bisa dianggap berguna. kalo masalah relasi antar manusia, menurut gw sih mungkin memang kita enggak akan pernah berhenti belajar yah….. saya gak tau sih mau komen apa tentang ceritanya, cuma makasih banget udah share…

    barangkali bisa dibuat penyegaran atau introspeksi lagi tentang jamanjaman dulu – halhal yang dulunya membuat dirimu tertarik sama pasangan itu apa? yang membuat dulu sempet berpikir dia adalah The One… mungkin seiring waktu halhal itu jadi gak dipikirin lagi, padahal mah ya kualitas itu masih nancep – makanya kalo jauh kangen…

    mogamoga dengan cara itu, bisa membantu mengambil keputusan yah.. wish u all the best!😀

  15. Pingback: .There Is No If. « . love . laugh . life .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s