ingetinget · jalanjalan · lopelope · mikirmikir · orangorang tersayang · senangsenang · seruseruan · sukasukaku

.sirkus.

Di deket rumah gw lagi ada sirkus. Yap, ini sirkus yang namanya sama dengan yang gw dan kel gw tonton waktu kecil DAN juga sirkus yang sama dengan yang kurang lebih dua tahun yang lalu di Kuningan.

Sirkus.

Circus.

Itu adalah suatu kata yang, entah kenapa, selalu memiliki aura manis di kepala gw. Mungkin karena kebanyakan nonton tipi. Mungkin karena kebanyakan baca STOP (Sporty, Thomas, Oscar, Petra – remember?). Atau mungkin karena selalu ada yang tidak kita benerbener ketahui di balik tenda besar dan keriaannya itu. Pokoknya, bahkan sampe hari ini, kalo gw mendengar atau mengucapkan kata ‘sirkus’, yang otomatis terbayang di kepala gw adalah tenda warnawarni, permenpermen gulali dan nuansa merah-oranye-kuning yang nyaman dan menyenangkan.

Masih kebayang banget di kepala gw gimana ketika gw kecil, gw, nyokap, bokap, dan kakak gw masuk ke dalam sirkus yang udah mulai penuh – dan kita nyelipnyelip untuk duduk di tempat duduk kita, di paling depan. Mungkin pengalaman ini yang membentuk imaji gw tentang ‘sirkus’. Tendanya yang megah, suasana riuh rendah, penaripenari yang jalan di tali, binatangbinatang, badutbadut, para pemain akrobat yang bisa loncat tinggiii sekali dan macemmacem lagi. Semuanya megah. Indah. Sama seperti di tivi, sampe ke penjualpenjual minumannya sekalipun.

Dua taun yang lalu, ketika gw tau sirkus yang sama main di Kuningan, gw langsung nonton. Eniwey, ini sirkus yang sama, namanya aja sama kok! Tapi, nyatanya, ada yang terasa salah.

Sirkus itu enggak semegah dulu. Para penaripenarinya enggak seseru dulu. Pemain akrobatnya loncatnya gak terlalu bombastis banget. Bahkan leluconlelucon badutbadutnya sempet membuat gw berpikir, “Anjiiiing, Dono banget!“.

Ada yang salah.

Tapi, kalau ada yang salah, kenapa dua anak kecil yang nonton sama bapaknya, yang duduk depan gw itu bisa selalu ketawaketiwi geli banget liat badutbadutnya? Kenapa mereka bisa jeritjerit, bisa begitu HEPI, bahkan kadang sampe awestruck nonton sirkus itu?

Di situlah gw sadar, bahwa kesalahan bukan pada sirkusnya, melainkan ada pada gw.

Hari itu gw baru sadar bahwa menjadi orang dewasa itu tidak selalu menyenangkan. Kenapa enggak bisa untuk sit back and enjoy aja? Kenapa selalu mesti berusaha mencaricari rahasia, mencari celah untuk dianalisa?

Sometimes it sucks being a grown up. Because, you always expect too much, and then you always ask for more. Sementara pada akhirnya belom tentu puas sama apa yang didapet. Bahkan kadangkadang gak bisa nentuin puas atau enggaknya.

Sebenernya, aku masih pengen loh… bisa datang nonton sirkus tanpa ekspektasi apaapa dan melepaskan hati dan pikiran supaya gw bisa ngerasa terhibur, ketawatawa, atau jeritjerit sekalian kaya dua anak kecil itu. Gak peduli meskipun udah tau beberapa rahasia pertunjukannya, gak peduli kalau jalan di tali itu hal yang standard (walau standard juga gw gak bisa kan!?), gak peduli meskipun udah taun 2007 badutbadut masih bisa dikibulin sama monyet.

Tapi, kalau gw masih sok tau dan sinis, GIMANA gw bisa membiarkan diri gw dihibur oleh sebuah sirkus??

SIRKUS, bagaimanapun, sudah menjadi suatu kenangan indaaah banget buat gw. Imejnya dah terlanjur manis abadi di kepala gw. Jadi, karena gw tidak mau kehilangan itu, mungkin memang selama gw masih sok tau artinya gw lebih baik jangan nonton dulu. Sampe gw bisa melepaskan diri untuk dihibur sama sirkus lagi…

Jadi, maafkan aku ya, Sirkus. It’s not you, it’s me. Suatu saat, saya janji kita bakalan berjumpa lagi… 🙂

*sambil terus berharap ada promotorpromotor besar atau EO yang mau mengadakan sirkus di sini.. Semoga yah! 😛 *

Advertisements

2 thoughts on “.sirkus.

  1. Diajakin ntn sirkus yg anda maksud itu ama kakak ipar gw. Jawaban gw, “Males, bukannya itu sirkus yg dari kita kecil itu? Gw mo jalan ama temen2 ntar malem”

    See, emg ada yg salah ama diri kita. Padahal gw wktu kecil suka melongo babi liat gajah bisa berdiri ama dua kaki trus duduk di bangku. Hahahah…

  2. Nah kan.. kenapa ya kita, setelah dewasa, tidak lagi mengagumi halhal kecil yang dulu membuat kita ternganganganga?? Hihihi.. Sedih juga yaaa… 😛

    P.S : Bowk… emang rumah lo di Bintaro???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s