.Tantangan Hari Kedua: Bicara Lembut (part 1).

Standard

Hari Kedua: Berbicara lembut
Mengapa mesti berbicara lembut? Ini adalah latihan mengontrol diri sendiri. Bagaimana tidak. Setiap kali orang lain, entah pasangan atau anak-anak menaikkan suara mereka, Anda malah tidak boleh ikut meninggikan nada dan menaikkan suara, tetapi malah diminta melembutkan suara.
Jelas itu butuh kemampuan mengontrol diri, menenangkan diri, menurunkan kembali irama denyut jantung, menarik nafas dalam. Mengembalikan seluruh keutuhan diri Anda  yang nyaris terpecah-pecah pada saat marah.
Buat apa saya mesti mengontrol diri? Karena Anda, saya yakin, ingin memberi warisan ketiga kepada anak-anak: karakter disiplin.
Disiplin bukan berarti mampu mengikuti atau mematuhi semua aturan Anda. Itu disiplin yang keliru. Itu disiplin berdasarkan rasa takut. Disiplin adalah kemampuan mengendalikan diri sendiri, kemampuan mengatur diri sendiri, kemampuan menguasai diri.
Nah, jika disiplin bermakna pengendalian diri, maka anak-anak baru dapat disiplin jika orangtuanya juga mampu mendisiplinkan diri. Dan contoh atau teladan termudah adalah: dengan melembutkan suara.
Bayangkan, ketika anak atau pasangan sudah menduga Anda akan marah — seperti sebelum-sebelum ini, mereka malah melihat Anda tenang dan bersuara lembut. Pada saat anak Anda menduga sebentar lagi akan mampu menguasai Anda — karena kalau Anda marah, maka segala aturan yang selama ini And atetapkan bisa saja akhirnya Anda langgar sendiri sehingga keinginannya terpenuhi, ternyata ia kini mesti berhadapan dengan Ibu/Ayah yang lembut, yang masih dapat berpikir secara utuh, dan akhirnya tetap teguh pada pendirian semula.
Ya, berbicara lembut baru dapat tercapai jika Anda mampu tetap berpikir urut dan utuh karena Anda mampu menenangkan diri. Itu adalah modal untuk menegakkan konsekuensi secara konsisten.
Konsistensi menegakkan konsekuensi; itulah warisan berikutnya yang dapat Anda serahkan kepada anak Anda. Konsistensi ini juga memperkuat keteraturan hidup yang telah Anda bangun di atas. Disiplin memperkuat keteraturan. Disiplin diri memperkuat rasa aman.

Read the rest of this entry

.Tantangan Hari Pertama: Tersenyum.

Standard

Hari Pertama: Tersenyum
Mengapa kami mesti sering tersenyum setiap kali bertatap mata dengan anak? Kebutuhan paling dasar dari semua anak adalah untuk dicintai. Tersenyum adalah perilaku yang paling mudah diterjemahkan oleh anak sebagai bentuk cinta kasih dari orangtuanya.
Dan dengan sering tersenyum, bahkan tersenyum sebelum menasehati,  Anda sekaligus menegaskan bahwa Anda selalu menyintainya — dalam keadaan apa pun, bahkan ketika anak melakukan kesalahan atau perbuatan yang tidak Anda setujui. Anak merasa diterima, merasa tidak ditolak. Anak merasa dekat dengan orangtuanya.
Dekat. Ya, itulah kebutuhan dasar lain yang Anda berhasil penuhi hanya dengan tersenyum: kedekatan atau kelekatan emosional atau bonding. Jika Anda sudah pernah membaca buku saya, “10 Warisan Orangtua,” saya menyarankan bahwa bonding ini mesti diperkuat kembali setiap kali anak kita anggap bermasalah. Dan salah satu caranya adalah dengan tersenyum, juga berpelukan. Itulah warisan pertama Anda kepada anak-anak Anda: kedekatan emosional.
Warisan kedua adalah keteraturan; pola hidup yang teratur. Keteraturan membuat anak merasa bahwa hidupnya ‘predictable,’ dapat diduga. Dan sifat predictable ini jelas sangat membentuk rasa aman pada diri anak. Anak yang merasa aman, akan lebih mampu mengoptimalkan segala potensi dirinya, lebih mampu tumbuh dan berkembang, lebih mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya.
Dan…salah satu cara membentuk hidup yang teratur adalah dengan…selalu tersenyum tiap kali bertatap muka dengan anak.

Read the rest of this entry

.tantangan 5 hari mengubah gaya parenting.

Standard

Pernah nggak sih, sebagai ibu, kita merasa lelah secara fisik maupun lelah kepada diri sendiri yang ngomeeeeeel mulu sama anak? Pernah nggak sih, ngerasa khawatir bahwa kalo kita nggak mengubah pola parenting kita, nanti malah akan menjauhkan anak dari kita? Pernah nggak sih, merasa pengen banget berubah menjadi orangtua yang lebih baik, karena merasa selama ini banyak kurangnya?

Gue sedang merasakan hal itu. Lelah secara fisik dan kecewa pada diri sendiri karena kayanya terlalu banyak menuntut pada anak. Sedih karena merasa, jika dibandingkan dengan mereka, kok porsi unconditional love yang mereka kasih ke gue lebih banyak daripada sebaliknya? Dan semakin ke sini merasa waktu berjalan terlalu cepat. Anak-anak semakin besar, pot berisi jatah unconditional love mereka perlahan-lahan menipis, dan mereka enggak akan sepemaaf sekarang. Salah satu hal yang gue takutin adalah seandainya ada kesalahan yang gue lakukan sebagai orangtua, baik itu melalui perkataan atau perilaku, terlanjur membuat luka di hati dan gak sempat termaafkan lagi, sehingga akhirnya berdampak pada relasi.

Capek merasa tersindir dan ketakutan sama postingan-postingan yang bernada menyadarkan bahwa anak-anak gak selamanya menjadi anak-anak, maka gue memutuskan untuk pelan-pelan mengubah diri sendiri supaya bisa punya relasi lebih baik sama anak-anak. Caranya gimana?
Read the rest of this entry

.cari sekolah vs perkembangan anak.

Standard

Salah satu topik paling hangat sekaligus paling bikin panas dingin belakangan ini adalah masalah cari sekolah. Sungguh, waktu berjalan terlalu cepat. Nggak nyangka kalo tahun depan udah bakalan punya anak masuk SD (“Ah, masa sih, mbak? Keliatannya masih kaya single?” #eaaa #kejukalisingle ).😛

Dengan kenyataan tersebut, maka saat ini nih lagi getol-getolnya, sibuk-sibuknya dan pusing-pusingnya cari informasi tentang SD-SD incaran. Dan tentu saja makin lama makin galau.

Lagi dalam kondisi kaya gini, tiba-tiba kok dapet kesempatan untuk tau informasi lebih banyak tentang Sampoerna Academy serta sistem pembelajaran di dalamnya. Read the rest of this entry

.ketika ayah nonton bola.

Standard

Si Dals adalah seorang penggemar olahraga sepak bola. Dan, tentunya, dia punya klub bola favorit.

Kalau kebetulan klub bola kesayangannya itu tanding dan tayang di TV, hampir bisa dipastikan kalo dia punya rencana nonton. Pokoknya jam tayangnya menjadi sakral. Bahkan, pernah kita lagi di rumah ortu gue, pulang sore-sore demi mau nonton bola. Dan, karena mamah papahku udah paham (dan karena bokap pleus kakak gue juga suka klub yang sama), jadi ya udah direlakan biar bisa jejeritan di rumah. Hahaha.

Eniwey. Pada suatu akhir minggu, sore-sore kita udah duduk manis lagi di rumah karena klub kesayangan si Dals mau main lawan klub yang dia tak suka. Anak-anak gue, karena tau bapaknya doyan bola, dan mereka lumayan berjiwa tim hore, maka mereka pun ikutan ngariung di depan TV.
Read the rest of this entry

.#Parenting101.

Standard

Ada anak bertanya pada bapak ibunya.

Anak: Kikotropika itu apa sih?

Bapak ibu tegang. Investigasi awal, “Denger di mana, baca di mana?” dijawab dari TV. Huffft, hela nafas panjang.

Ayah: Kami gak tau kikotropika itu apa. Yang kami tau itu psikotropika,  itu bahaya buat badan.
Read the rest of this entry

.mengapa kita perlu curhat?.

Standard

Semua orang pasti perlu curhat. Karenanya, ada orang-orang yang curhat magnet seperti aku, yang seringkali ujug-ujug dicurhatin. Dan, biasanya, kami baik-baik saja dengan keadaan seperti itu dan seneng-seneng aja ngedengerin atau memberi masukan.

Masalahnya, kadang-kadang si curhat magnet ini pun butuh curhat. Tapi, ketika banyak orang lupa kalau si tempat curhat ini hanya orang biasa yang gak selalu senang dan kadang tetap butuh curhat, gimana dong? Easy peasy, we try to laugh things away, we try to find friends to laugh with, thus… we post memes. 😆

image

Kan?!😀😀

Read the rest of this entry