.no.

Standard

After two days of tearfully, heartbroken, endless chat with a good friend, we finally came to a conclusion.

Sometimes we wish we had the chance to go back in time, so we could re-do things differently. However, even if we could do all that, the results would still be the same.

Because if it’s meant to be, it’s meant to be. If it’s not, it’s not.

It was so much like this some days ago:

image

So, no matter how hard it is, today, we shall pick up the pieces and move on.

.feelings.

Standard

Apparently, feelings are not in anymore. Less and less people talk about it. More and more people feel awkward talking about it.

People just want to be happy. So, those who aren’t feeling so may be somewhat obliged to appear so. Because sadness isn’t attractive, smiles are.

Thus, we fake them; our feelings, our smiles. Because it is a lot easier than to explain the roots of unhappiness. Because everyone is hiding their own problems, emotions, feelings, so why should they add ours to their already complicated life.

Apparently, feelings are not in anymore. Because it is always easier to hide and ignore them than to explain why we’re human.

That’s all. 💔

.saat terdamai.

Standard

Saat terdamai dalam satu hari, yang hingga kini selalu terjadi setiap hari adalah detik-detik setelah anak-anak tidur. Suara nafas teratur, dalam gelap yang remang-remang disinari lampu penangkap nyamuk.

Saat itu semua luruh. Keriuhan, keriaan, kelelahan, kekhawatiran dalam sehari. Semua bagai terlupakan. Yang ada hanya rasa syukur. Rasa memahami bahwa apa yang gue lakukan setiap hari pada akhirnya cuma buat mereka yang saat itu tenggelam dalam lelap ini.

Read the rest of this entry

.Book The Table!.

Standard

Sejak pindah ke kantor baru, kadang-kadang Ayah kerja di hari Sabtu. Nah, kalo lagi gitu, daripada bengong, akhirnya gue, Sa dan So memutuskan untuk Girls’ Day Out aja sambil nunggu Ayah pulang.

Dua minggu yang lalu, iseng-iseng kami ke AEON mall, BSD. Lagi jalan-jalan di supermarketnya, tiba-tiba gue melihat sebuah kios kecil seperti ini…

image

Read the rest of this entry

.Tantangan Hari Kelima: Anda Bukan Nobita.

Standard

Hari Kelima: Anda Bukan Nobita

Ya, anak Anda bukan Doraemon, tempat Anda meminta segala keinginan. Mereka lahir bukan untuk menjadi tempat pelarian dari segala keinginan Anda pribadi yang selama ini tidak dapat Anda capai.
Anak-anak adalah pribadi yang mesti lepas mandiri dari orangtuanya; karena hanya dengan cara seperti itu mereka akan matang dan dewasa.
Anda hanya diberi tugas mengasuh dan merawat serta mendidik pribadi yang unik dan istimewa. Sudah ada setumpuk keistimewaan dan kehebatan serta keunggulan di dalam diri tiap anak. Anda mesti memetakannya, menggalinya, dan menyiraminya agar tumbuh optimal. Lupakan keinginan pribadi Anda. Biarlah Tuhan yang menentukan, karena rancangan Tuhan pastilah rancangan damai sejahtera.

  

Read the rest of this entry

.Tantangan Hari Keempat: Meminta Bantuan.

Standard

Hari Keempat: Meminta Bantuan

Saya manusia biasa. Anda manusia biasa; pasangan Anda manusia biasa, begitu pula anak-anak. Manusia yang tidak sempurna. Tidak ada orangtua sempurna. Dan tidak perlu berusaha keras menjadi sempurna, bahkan jika Anda single mom atau single dad. 
Meminta bantuan adalah cara menunjukkan bahwa kita tidak sempurna; kita masih butuh bantuan siapa pun. Meminta bantuan adalah cara untuk membuka diri; menunjukkan bahwa kita punya kerentanan, kita punya kelemahan tetapi kita juga sekaligus berusaha memperbaiki diri, mengutuhkan diri.
Bersikap terbuka seperti itu akan membuat pasangan dan anak-anak tidak takut kepada Anda. Ya, superwoman atau superman itu menakutkan bagi manusia biasa. Anak-anak sangat menyadari bahwa mereka “cuma” anak-anak, manusia biasa. Ya, di satu sisi memang mebanggakan. Bangga punya ayah atau ibu yang superhebat, tetapi di sisi lain, khususnya di bawah sadar, itu hal yang menyeramkan: itu adalah standar terendah yang harus mereka capai. Apalagi jika Anda kerap berkata, “Mama/Papa percaya kamu bisa lebih dari Mama/Papa.” Hla kalau mama atau papanya berperan sebagai superdad atau supermom, bayangkan bagaimana anak Anda membayangkan seberapa tinggi tangga atau gunung yang mesti didakinya. Jadi, tunjukkan ketaksempurnaan Anda dengan meminta bantuan anak.
Itu akan memperkuat rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri akan membuat dirinya mampu melakukan apa saja, dan bersuka cita tiap kali menemui lingkungan baru.
Lagi pula, meminta bantuan juga memperkuat ikatan emosional di antara semua anggota keluarga. Menjalin kerjasama, mendinamisasi keluarga.

Read the rest of this entry