.sweet for my sweets.

Standard

Tak terasa, diet keto’e keto alias keto-ketoan gue ini udah jalan dua bulan. Kenapa, sih, gue sebut keto-ketoan? Soalnya, gue belom bener-bener strict banget ngejalaninnya. Bahan makanan masih nggak ditimbang, terus masih sesuka hati mencampur protein dan lemak. Selain itu, akhir minggu masih sering cheat dengan cara beli lupis atau kue. Hahahahahaha.

Tapi, emang dari duluuuu, diet apa pun tuh kelemahan gue adalah ngebatasin jajan yang manis-manis. Pasti gagal di bagian situ, soalnya meskipun kenyang, tapi tetep craving kue coklat atau apalah.

Di keto ini, walaupun boleh manis, tapi harus cari pengganti gula. Yang paling disarankan tuh stevia. Tapi, cari-cari kok jarang ada di mana-mana. Jadilah gue kalopun pengen banget makan kue coklat, palingan bikin sendiri kaya pancake gitu, dengan tetep pake gula seujung kuku. Biar gak terlalu pahit coklatnya. Nah, yang rada PR, kalo pengen alpukat kocok. Alpukat kan sebenernya boleh bangetttt di keto ini, kopi juga boleh. Sementara alpukat kocok pake kopi kan enak bener yah.. Tapi, kalo pake gula ya sama juga boong. Sedangkan gak pake gula, paitnyaaaaa kaya diputusin back to back. #apeeeee Read the rest of this entry

.berani kalah.

Standard

Salah satu dari anak gue yang bawel-bawel emeush itu pengen ikut lomba mewarnai. Ini adalah perdana dia akan ikut lomba. Karena itu, gue pun mulai dengan mengajaknya latihan mewarnai setiap malam.

Secara yaaa, anak gue ngewarnai aja masih tergantung mood. Boro-boro gradasi warna, ngewarnain langit aja masih keukeuh di atas doang (“Kan langit adanya di atas, ngapain aku warnain sampe ke tanah?”). Lebih parah lagi, gue juga anaknya gak artsy, jadi ya nggak kepikiran juga untuk memberi dia tips-tips supaya warna-warnanya jadi keren atau gimana. Palingan cuma ngajarin biar warnanya jangan keluar garis, sesuai waktu, dan ngewarnainnya satu arah.

Read the rest of this entry

.keto(‘e) diet (padahal…).

Standard

Di penghujung 2016 kemaren, karena satu dan lain hal, gue sempet mendapat masukan dokter untuk lebih tertib soal makanan. Artinya, udah saatnya mulai memperhatikan apa yang dimakan dan diminum dan efeknya buat badan.

Tapiiii… berhubung udah mau masa liburan, ya sedih aja kalo diet. Akhirnya, gue cuma ngurangin banget makan KieFCi, sedangkan makanan minuman lain mah teteeeep sikaaaat.. 😀

Akibatnya tahun 2017 dimulai dengan melembung. Aslik. Berat badan perlahan tapi pasti naik terus. Mau cuek aja, tapi kok celana udah pada susah nanjak. Selain itu, kalo difoto candid kok keliatannya gitu amat yahh.. :/ Read the rest of this entry

.setelah menonton: La La Land.

Standard

Rame di media sosial dan di WhatsApp group, diimbuhi dengan kalimat, “Ini film Smita banget.. Smita pasti suka..“, gue pun tertarik nonton La La Land. Itu, dan karena gue rada pressured juga karena takut keburu dibahas di WA grup, dan takut keburu gak seru nonton sendiri kalo udah tau ceritanya.

Jadilah kemaren itu gue sama si Dals nonton film ini. Pembukaan film ini menunjukkan kalo ini film musikal. Gue sempet mikir kalo ini film nyanyi terus seperti Les Miserables, ternyata enggak, sih. Ada ngobrol-ngobrol biasanya juga.

Ceritanya tentang cowok ketemu cewek. Dua-duanya punya cita-cita masing-masing, dua-duanya berupaya keras mewujudkannya, sembari saling membuat pasangannya senang.

Ryan Gosling dan Emma Stone. Biasanya gue nggak terlalu suka Ryan Gosling, sementara selalu suka Emma Stone. Tapi, di film ini, menurut gue, mereka jauh lebih klik dibanding waktu Crazy, Stupid Love. Sehingga membuat keduanya lebih enak ditonton dan lebih mudah menaruh simpati.
Read the rest of this entry

.setelah menonton: Headshot.

Standard

Akhirnya setelah entah terakhir kapan, keluar lagilah posting “Setelah Menonton…”. Hal ini disebabkan, tak lain dan tak bukan, oleh kesulitan menonton sering-sering. Sekalinya nonton palingan kartun bareng bocah-bocah. Kalo nonton film-film yang masih bisa DVD, juga milih nunggu DVDnya aja.

Akan tetapiiii… demi menghabiskan sisa kuota sumpah serapah di tahun 2016 ini, maka kami memutuskan turun gunung dan menonton…

image

Read the rest of this entry

.no.

Standard

After two days of tearfully, heartbroken, endless chat with a good friend, we finally came to a conclusion.

Sometimes we wish we had the chance to go back in time, so we could re-do things differently. However, even if we could do all that, the results would still be the same.

Because if it’s meant to be, it’s meant to be. If it’s not, it’s not.

It was so much like this some days ago:

image

So, no matter how hard it is, today, we shall pick up the pieces and move on.

.feelings.

Standard

Apparently, feelings are not in anymore. Less and less people talk about it. More and more people feel awkward talking about it.

People just want to be happy. So, those who aren’t feeling so may be somewhat obliged to appear so. Because sadness isn’t attractive, smiles are.

Thus, we fake them; our feelings, our smiles. Because it is a lot easier than to explain the roots of unhappiness. Because everyone is hiding their own problems, emotions, feelings, so why should they add ours to their already complicated life.

Apparently, feelings are not in anymore. Because it is always easier to hide and ignore them than to explain why we’re human.

That’s all. 💔