.setelah menonton: La La Land.

Standard

Rame di media sosial dan di WhatsApp group, diimbuhi dengan kalimat, “Ini film Smita banget.. Smita pasti suka..“, gue pun tertarik nonton La La Land. Itu, dan karena gue rada pressured juga karena takut keburu dibahas di WA grup, dan takut keburu gak seru nonton sendiri kalo udah tau ceritanya.

Jadilah kemaren itu gue sama si Dals nonton film ini. Pembukaan film ini menunjukkan kalo ini film musikal. Gue sempet mikir kalo ini film nyanyi terus seperti Les Miserables, ternyata enggak, sih. Ada ngobrol-ngobrol biasanya juga.

Ceritanya tentang cowok ketemu cewek. Dua-duanya punya cita-cita masing-masing, dua-duanya berupaya keras mewujudkannya, sembari saling membuat pasangannya senang.

Ryan Gosling dan Emma Stone. Biasanya gue nggak terlalu suka Ryan Gosling, sementara selalu suka Emma Stone. Tapi, di film ini, menurut gue, mereka jauh lebih klik dibanding waktu Crazy, Stupid Love. Sehingga membuat keduanya lebih enak ditonton dan lebih mudah menaruh simpati.
Read the rest of this entry

.setelah menonton: Headshot.

Standard

Akhirnya setelah entah terakhir kapan, keluar lagilah posting “Setelah Menonton…”. Hal ini disebabkan, tak lain dan tak bukan, oleh kesulitan menonton sering-sering. Sekalinya nonton palingan kartun bareng bocah-bocah. Kalo nonton film-film yang masih bisa DVD, juga milih nunggu DVDnya aja.

Akan tetapiiii… demi menghabiskan sisa kuota sumpah serapah di tahun 2016 ini, maka kami memutuskan turun gunung dan menonton…

image

Read the rest of this entry

.no.

Standard

After two days of tearfully, heartbroken, endless chat with a good friend, we finally came to a conclusion.

Sometimes we wish we had the chance to go back in time, so we could re-do things differently. However, even if we could do all that, the results would still be the same.

Because if it’s meant to be, it’s meant to be. If it’s not, it’s not.

It was so much like this some days ago:

image

So, no matter how hard it is, today, we shall pick up the pieces and move on.

.feelings.

Standard

Apparently, feelings are not in anymore. Less and less people talk about it. More and more people feel awkward talking about it.

People just want to be happy. So, those who aren’t feeling so may be somewhat obliged to appear so. Because sadness isn’t attractive, smiles are.

Thus, we fake them; our feelings, our smiles. Because it is a lot easier than to explain the roots of unhappiness. Because everyone is hiding their own problems, emotions, feelings, so why should they add ours to their already complicated life.

Apparently, feelings are not in anymore. Because it is always easier to hide and ignore them than to explain why we’re human.

That’s all. 💔

.saat terdamai.

Standard

Saat terdamai dalam satu hari, yang hingga kini selalu terjadi setiap hari adalah detik-detik setelah anak-anak tidur. Suara nafas teratur, dalam gelap yang remang-remang disinari lampu penangkap nyamuk.

Saat itu semua luruh. Keriuhan, keriaan, kelelahan, kekhawatiran dalam sehari. Semua bagai terlupakan. Yang ada hanya rasa syukur. Rasa memahami bahwa apa yang gue lakukan setiap hari pada akhirnya cuma buat mereka yang saat itu tenggelam dalam lelap ini.

Read the rest of this entry

.Book The Table!.

Standard

Sejak pindah ke kantor baru, kadang-kadang Ayah kerja di hari Sabtu. Nah, kalo lagi gitu, daripada bengong, akhirnya gue, Sa dan So memutuskan untuk Girls’ Day Out aja sambil nunggu Ayah pulang.

Dua minggu yang lalu, iseng-iseng kami ke AEON mall, BSD. Lagi jalan-jalan di supermarketnya, tiba-tiba gue melihat sebuah kios kecil seperti ini…

image

Read the rest of this entry

.Tantangan Hari Kelima: Anda Bukan Nobita.

Standard

Hari Kelima: Anda Bukan Nobita

Ya, anak Anda bukan Doraemon, tempat Anda meminta segala keinginan. Mereka lahir bukan untuk menjadi tempat pelarian dari segala keinginan Anda pribadi yang selama ini tidak dapat Anda capai.
Anak-anak adalah pribadi yang mesti lepas mandiri dari orangtuanya; karena hanya dengan cara seperti itu mereka akan matang dan dewasa.
Anda hanya diberi tugas mengasuh dan merawat serta mendidik pribadi yang unik dan istimewa. Sudah ada setumpuk keistimewaan dan kehebatan serta keunggulan di dalam diri tiap anak. Anda mesti memetakannya, menggalinya, dan menyiraminya agar tumbuh optimal. Lupakan keinginan pribadi Anda. Biarlah Tuhan yang menentukan, karena rancangan Tuhan pastilah rancangan damai sejahtera.

  

Read the rest of this entry